Sabtu, 19 Maret 2022

Standar yang Terusik

Pertama-tama, saya mau sampaikan betapa saya menikmati berusia 30an. Di awal usia 30an ini banyak transformasi yang terjadi dalam diri saya yang membuat saya kagum akan kemampuan manusia terus berubah. Seperti yang saya sampaikan dalam postingan berjudul Menjadi 30, di usia 20an (terutama 20an awal) saya menghabiskan banyak energi untuk hal-hal yang hanya terjadi di pikiran saya, belum lagi selalu merasa diri saya tidak cukup. Banyak waktu dan tenaga masa muda yang tidak diarahkan untuk mengembangkan potensi atau menjadi orang yang lebih baik. Saya tidak menyalahkan diri saya yang lama. Mungkin ada berbagai mental block yang perlu saya tangkal sebelum saya menginjak 30 tahun, dan mungkin itu butuh waktu yang panjang. Tidak apa. Intinya saya merasa energi saya saat ini lebih bisa terfokus dan saya tidak lagi sedikit-sedikit merasa cemas hanya untuk hal-hal yang tidak nyata seperti yang terjadi di usia 20an saya.

Ada beberapa hal yang sedang saya pelajari dalam proses menjadi dewasa dan menjadi seorang Nike Frans yang lebih baik dari sebelumnya. Ternyata pilihan-pilihan hidup saya ada di tangan saya sendiri, jadi, sebelum saya menyerahkan hidup pada "takdir" atau "nasib", saya bisa dengan rendah hati bertanya pada diri sendiri: Apa yang saya bisa dan saya mau ubah untuk hidup yang lebih baik? Apakah itu membaca buku? Apakah itu belajar berargumen dengan sehat dan adil dengan suami? Apakah itu belajar selalu menyiapkan makanan yang mampu menjada fungsi tubuh optimal untuk saya dan keluarga saya? Apakah itu membereskan rumah? Apakah itu menyediakan sabun, shampoo, deterjen, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya tepat waktu? Apakah itu melakukan pekerjaan kantor sesuai jadwal? Apakah itu melakukan olahraga rutin untuk menjadi lebih berenergi dan hari tua yang lebih fit? Apakah itu selalu berkeinginan untuk belajar dan mendalami ilmu? Apakah itu belajar merawat diri dengan baik? Apakah itu belajar mengasuh anak? Apakah belajar mengatur keuangan? Pertanyaan-pertanyaan ini menggiring saya pada teknis-teknis yang bisa saya tambahkan dalam agenda harian untuk memastikan saya berada pada jalur yang tepat. Dan harapannya, dengan memastikan saya berada pada jalur tersebut, saya tidak menjadi pribadi yang menggerutu pada nasib.

Jalur yang tepat ini tentu saja sangat pribadi sifatnya. Saya bisa memilih jalur tersebut sesuai dengan harapan apa terhadap diri saya sendiri. Dan harapan tersebut bisa dirancang juga dengan pertanyaan seperti: Seperti apakah hidup yang membuat saya merasa semakin respect dan bangga terhadap diri saya sendiri? Seperti apakah hari tua yang ideal untuk saya? Seperti apakah saya nanti 30 tahun mendatang? 20 tahun mendatang? 10 tahun mendatang? 5 tahun mendatang? 1 tahun kedepan? bulan depan? minggu depan? Untuk sampai ke titik saya menggambarkan harapan-harapan ini, saya ternyata perlu cukup kadar menyayangi dan menghormati diri sendiri. Dan salah satu juga alasan saya harus berbenah adalah karena memiliki anak dan suami yang bergantung pada saya. Ternyata memiliki anak membuat standar saya tertantang dan terusik, hampir setiap waktu. Waktu saya untuk diri sendiri menjadi sangat berkurang dan justru karena itu saya merasa lebih aware dan menghargai waktu-waktu saya. Apa yang saya anggap ideal dulu ternyata perlu direvisi untuk ideal-ideal yang baru.

Kembali pada upaya pribadi untuk menjadi lebih baik. Sekali lagi yang dimaksud dengan lebih baik adalah upaya menjadi lebih baik dari diri saya sendiri di hari kemarin. Sehingga standar yang saya pakai juga adalah standar saya pribadi, bukan berdasarkan pencapaian orang lain, walaupun banyak orang yang menginspirasi saya hingga bisa menyusun standar pribadi. Setiap orang tentu punya masalah dan perjuangan yang tidak bisa dibanding-bandingkan sehinngga lebih baik berfokus pada apa yang ingin kita capai secara pribadi, dan apa yang membuat kita puas karena telah melewati hal-hal yang sebelumnya kita anggap sulit, puas karena energi kita tersalurkan secara maksimal ke tempat-tempat yang mengarahkan kita ke tujuan kita.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup sekali-kali membawa tragedi dan chaos. Itulah hidup yang tidak terprediksi. Namun kita bisa menyiapkan diri kita saat ini semaksimal mungkin, dan melangkah dengan berani seolah-olah kita akan mampu melewati semuanya, karena kita memang akan mampu, jika kita memperbolehkan diri kita menjadi kuat dan berani.

Saya bukan orang yang disiplin, dan saya sebenarnya tidak begitu suka dengan kata "disiplin" sebelumnya. Namun ternyata disiplin itu membentuk karakter dan membentuk realita. Jika tidak disiplin, maka saya dengan sadar membiarkan "takdir-takdir" kecil yang tidak saya inginkan terjadi dalam hidup saya. Jika tidak disiplin dalam waktu yang lama, "takdir" besar yang tidak saya inginkan tidak dapat ditolak, maka "nasib" yang saya tidak inginkan akan terjadi.

Baiklah, sepertinya cukup kata-kata motivasi diri ini ditulis, semoga saya bisa kembali ke tulisan ini untuk merayu diri saya yang mungkin bisa kendor dan malas-malasan di kemudian hari.
Untuk orang-orang yang mampir ke tulisan ini, saya mau merekomendasikan buku yang baru saja saya baca: 12 Rules for Life - An Antidote to Chaos oleh Jordan B. Peterson seorang Clinical Psychologist asal Amerika. Buku inilah yang menginspirasi tulisan hari ini.

Semoga saya dan kita semua terus memiliki dan memelihara dorongan untuk menjadi lebih baik dari diri kita kemarin.





Minggu, 02 Januari 2022

Dua Ribu Dua Puluh Satu

Oh, hey! Halo kembali refleksi tahunan ;)
Sepertinya belum lama saya berefleksi tahun 2020, saat ini sudah waktunya kembali menuliskan refleksi 2021. Mungkin karena saya suka sekali menunda penulisan refleksi tahunan, biasanya saya menuliskannya di kuarter kedua tahun yang "baru". Kali ini saya ingin menulis refleksi 2021 tepat waktu, tepat di awal  2022.

Pindah ke Makassar
Tepatnya di tanggal 4 Januari 2021, saya, Gideon, dan Oliver pindah dari Jogja ke Makassar. Kepindahan ini disebabkan karena tawaran kerja bagi saya oleh salah satu lembaga PBB sebagai staf gizi. Memang pindah ini mendadak dan tidak terencana. Selama hidup, saya tidak pernah berencana sebelumnya akan tinggal di Kota Makassar. Ternyata jalan hidup membawa saya kemari. Saya memang sudah pernah satu kali ke Makassar sebelumnya untuk mengikuti pelatihan singkat, namun tentu sangat sedikit yang saya tahu tentang tempat ini. Sebuah petualangan baru dimulai, keluarga kecil kami pindah ke Makassar.

Jatuh Cinta pada Makassar
Saya suka pada Makassar. Ramai dan macetnya pas (tidak separah ibu kota negara), budayanya santun, orang-orang yang saya temui mau bekerja dan konstruktif, bercandanya pas tidak berlebihan, makanannya enak-enak, mall termasuk tempat makannya banyak jadi bisa selang-seling dikunjungi kalau butuh hiburan, hasil alamnya melimpah, mulai dari sayuran, buah-buahan, dan segala jenis hasil laut. Sebelum ke Makassar ada yang nyeletuk "hati-hati dengan orang Makassar". Masih ada yang beranggapan orang Makassar itu kasar. Nyatanya yang saya temui orang-orang Makassar sopan-sopan. Kata teman saya yang sudah lama tinggal di sini, orang Makassar itu bukan kasar, tapi keras. Saya setuju. Yang saya amati adalah mereka disini orang-orangnya sangat mudah menyampaikan ide dan pendapatnya, walaupun saling berlawanan. Diskusi-diskusi bisa berjalan panjang, sehingga warkop ramai pengunjung. "Outspoken" dan tegas tidak bisa dan tidak adil disamakan dengan kasar. 

Salah satu lagi penyebab kami betah adalah karena pertemuan kami dengan orang-orang dan lingkungan yang baik. Beberapa minggu sebelum kedatangan kami ke Makassar, kami mencari rumah kontrakan melalui berbagai situs online seperti Olx. Saya mencatat beberapa opsi rumah yang terlihat nyaman, sesuai budget, dan letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Sempat kaget juga dengan harga kontrakan di Makassar yang memang di atas harga rata-rata kontrakan yang saya tau. Begitu tiba di sini, kami langsung membuat janji temu dengan para pemilik kontrakan. Saya prioritaskan memilih kontrakan yang saya lihat paling cocok. Dan ternyata memang sekali lihat saya langsung merasa cocok. Kami batalkan janji temu kontrakan lainnya karena sudah memutuskan untuk ambil kontrakan tersebut.
Rejeki kami ternyata selain mendapat rumah yang nyaman (fully furnished), kami juga dipertemukan dengan pemilik kontrakan yang teramat baik. Bapak dan Ibu yang menyuruh kami menganggap mereka sebagai orang tua sendiri. Kami merasa "diasuh" selama tinggal di rumah ini. Bukan saja sering dibagikan makanan-makanan enak, lebih dari itu kami merasa secure dan welcomed. Kami sangat bersyukur untuk ini. Disamping itu, kami juga merasa nyaman di lingkungan yang baru dan merasa lingkungan ini lingkungan yang ramah anak. Oliver saat ini sudah memiliki beberapa teman akrab yang tinggal sekompleks.

Karir
Pekerjaan yang baru ini memberikan saya banyak pelajaran baru dan terutama pengembangan diri. Walaupun sebelumnya saya sudah pernah bekerja dengan program gizi sejenis, sistem pekerjaan baru ini benar-benar berbeda. Saya harus berjalan bersama-sama dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, tidak bisa berjalan sendiri. Ini memberikan saya banyak pelajaran baru dalam hal kolaborasi dan advokasi. Awalnya saya merasa akan sulit dikerjakan, karena ragu apakah akan mendapat respon yang baik dari pemerintah. Namun keraguan saya hilang setelah mulai belajar membangun trust dan hubungan kerja sama dengan pemerintah Sulawesi Selatan. Menurut saya, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, cukup progresif, bergerak cepat, dan mau berdiskusi dan berpikir untuk program yang lebih baik. Ini memberikan ruang yang luas untuk saya belajar bekerja bersama pemerintah. Saya sangat bersyukur untuk ini. Dari segi target, saya merasa target saya cukup tercapai dengan baik. Saya merasa cukup bekerja keras. Saya juga bertemu dengan mitra yang sangat suportif dan pekerja keras. Dan banyak lagi faktor lainnya yang membuat saya merasa saya puas dengan aspek karir saya di tahun 2021. 

Di sisi yang lebih abstrak, saya merasa saya berada di posisi dimana saya seharusnya berada. Saya merasa berada di tempat yang "cocok". Saya sudah pernah berada di tempat yang saya memang bertumbuh, tetapi tidak begitu pas dengan saya. Namun kali ini, saya merasa perjalanan panjang karir sejak tahun 2013 telah mengantarkan saya pada posisi saya saat ini, sehingga secapek apapun saya, saya bisa menanggung semuanya tanpa ngeden berlebihan. Semuanya tepat, disini, saat ini.

Makanan
Bagian "apa yang saya makan" merupakan hal yang selalu penting untuk saya. Maklum, orang gizi perhatiannya banyak pada makanan. Banyak hal yang akhirnya membuat saya mengubah pola makan saya dari plant-based vegan ke omnivora. Yup, saya tidak lagi vegan/vegetarian/plant based. Setelah kurang lebih 1 tahun menjalani pola makan vegetarian dan 2 tahunan vegan lumayan strict, saya memutuskan untuk kembali menjadi omnivora. Makan apa saja sambil memperhitungkan aspek keseimbangan gizi. Saya merasa beberapa fungsi tubuh yang menurun saat menjalani pola makan vegetarian dan vegan jangka panjang. Walaupun banyak sekali penelitian yang sudah menunjukkan menjalani diet vegan dan vegetarian mampu menyembuhkan berbagai penyakit degeneratif bahkan infeksi, dan mampu menurunkan berbagai risiko penyakit, namun belum ada bukti yang cukup kuat menunjukkan long-term veganism dan vegetarian mampu sustain optimal function. Saya tiba pada kesimpulan sementara bahwa "pola makan vegan dan vegetarian cocok diterapkan sebagai terapi dan bentuk puasa atau pantangan makanan berbasis hewani dengan tujuan mencapai berat badan ideal maupun untuk menurunkan risiko sindrom metabolik dan penyakit degeneratif namun mungkin tidak cocok diterapkan dalam jangka waktu yang panjang seperti lebih dari 1 tahun atau bergantung dari jumlah penyimpanan zat-zat gizi penting dalam tubuh seperti kolagen dan retinol yang tidak ditemui pada sumber makanan nabati". 

Sebelumnya saya begitu yakin bahwa vegan-lah pilihan pola makan yang tepat setelah membaca buku-buku, artikel, literature review, sampai mengikuti banyak sekali vegan influencers. Sebagian komunitas vegan sendiri bagi saya sudah serupa cult terbaru di bidang pola makan. Saya bersyukur masih punya kesadaran untuk melihat secara objektif dampak pola makan ini pada tubuh saya sendiri. Tidak menutup kemungkinan bahwa kedepan saya akan kembali menerapkan pola makan vegan/vegetarian/plant-based, namun mungkin bukan untuk diterapkan selamanya.

Kesedihan
Tidak lengkap sepertinya hidup tanpa kesedihan :D. Manusia merasakan sedih dan duka sebagai bagian dari pengalaman rangkaian variasi emosi. Saya pun tidak lepas dari itu (karena memang terlahir sebagai mc. Sengaja pakai mc karena dulu kita menyingkat kata manusia dengan mc. Kalau dipikir-pikir kok bisa ya manusia akronimnya mc, dari mana asalnya?). 

Beberapa kejadian yang bertolak belakang dari senang di tahun 2021 adalah berpulangnya Oma Sin pada tanggal 20 Juni 2021, di usia beliau yang ke 84 tahun. Beliau pergi dalam diam dan tenang sambil beribadah di rumah. Sebuah momen kepergian yang indah dan cocok untuk beliau yang semasa hidupnya tidak pernah berseteru dan selalu berpikir tentang kesejahteraan anak-anak, suami, dan cucu-cucunya.

Kesedihan lainnya adalah saat Gideon terinfeksi Covid-19. Ini terjadi di akhir Januari 2021, dimana kami baru saja tiba di Makassar, sedang beradaptasi, dan tidak kenal siapa-siapa disini, sedangkan terinveksi Covid-19 masih dianggap momok bagi banyak orang, belum sampai di masa: "Oh kamu kena covid? saya juga barusan sembuh", dan belum ada yang namanya vaksin di Indonesia. Hal ini membuat saya stres dan sedih karena belum juga beradaptasi dengan lingkungan baru dan pekerjaan baru, sudah ada musibah. Syukurlah waktu itu Gideon tidak bergejala parah, bisa ditangani di rumah, walaupun sempat sakit kepala berat, badan terasa remuk, dan anosmia berkepanjangan. Walaupun serumah, saya tidak terjangkit dan tetap negatif syukurnya. Oliver juga tidak menunjukkan gejala apapun. Mungkin karena Gideon selalu memakai masker dan mencuci tangan sepanjang hari dan daya tahan tubuh saya saat itu cukup kuat, mungkin karena berada dalam fase alert yang sangat tinggi.

Kesedihan berikut adalah rumah yang kebanjiran di awal Desember 2021. Kami harus mengungsi di hotel selama 3 malam, di tengah pekerjaan akhir tahun dan Gideon yang juga harus mengerjakan sesuatu. Banjir kaget ini dirasakan banyak orang di Kota Makassar dan beberapa kabupaten. Dan semua orang yang pernah mengalami banjir mungkin setuju: hal terberat dari banjir adalah bebersihan dan berbenah pasca banjir. Kami sangat bersyukur sudah dibantu proses ini oleh Bapak Ibu pemilik rumah yang berhati mulia, semoga mereka diberikan rejeki berlimpah. Hal yang lucu dan unik adalah, aroma banjir di Makassar bukan aroma busuk, melainkan aroma ikan. Saat air tergenang anak-anak ramai keluar mencari ikan seperti lele, nila, dan mujair. Sebegitu melimpahnya ikan di Kota Makassar...

Masih ada beberapa highlight kesedihan tapi biarlah saya simpan sendiri wkwk.

Belajar Menjadi Mama dan Istri
Ternyata proses belajar menjadi mama bagi saya adalah proses yang tidak mudah. Setiap orang tentu prosesnya berbeda-beda sehingga tidak bisa disamakan. Bagi saya salah satu proses belajar menjadi mama adalah proses panjang berjuang pagi hingga malam memastikan anak saya makan cukup. Saya tentu memastikan semua hal lainnya cukup: pakaian, buku-buku, waktu bersama, permainan, dll. Namun urusan makan ini membuat banyak energi saya terserap. Oliver ternyata masuk dalam kelompok anak-anak susah makan dengan Gerakan Tutup Mulut berkepanjangan. Bagi mama-mama serupa diluar sana, saya mengerti, yuk nangis dan meraung bersama, wkwk. Hati mama mana yang tidak hancur kalau anaknya tidak makan makanan bergizi tinggi yang sudah disiap dengan memperhitungkan kecukupan gizi dan harganya tidak murah itu? Usaha yang kami lakukan sudah cukup banyak, jadi tolong jangan katakan: sudah ke dokter? diberi vitamin saja! sudah coba produk ini? diganti tekstur saja! dikasih makan saat menyenangkan! jangan dipaksa! Karena hampir pasti jawabannya iya, sudah! Dari semua kunjungan ke dokter anak, saya bisa simpulkan bahwa inti dari saran-saran mereka (yaa tentu lebih dari satu dokter spesialis anak yang dikunjungi) adalah: Harus telaten, jangan menyerah, jangan dipaksa. Bhaik. Saya terus belajar untuk tidak marah atau sedih kalau anak saya menolak makan. Saya belajar bersabar dan mencoba kembali. Saya belajar masak bolak-balik dan tidak sakit hati kalau anak tutup mulut atau begitu masuk makanan langsung dilepeh. Sungguh suatu proses belajar menjadi mama yang keras dan kejam.

Kalau proses belajar menjadi istri juga cukup challenging juga. Saya tidak mau bicara banyak, silahkan mama-mama lain mengonfirmasi. Saya harus belajar menerima bahwa suami itu banyak incompetent-nya  ckck. Saya mengerti mengapa sebagian perempuan memilih perempuan lain sebagai teman hidupnya, dan saya berpikir tidak sepenuhnya salah kalau perempuan selalu "merasa" benar ;). Memang sepertinya prosesor otak kami sedikit lebih canggih wkwk.

Kekurangan Saya
Saya merasa saya masih kurang sekali untuk konsisten dalam yoga atau olahraga lainnya. Tentu saya bisa bilang alasannya karena sudah capek bekerja, menjadi mama, dan menjadi istri. Alasan yang baik, tapi sepertinya saya memang kurang disiplin dan willpower saja. Saya juga mengaku belum mampu mengontrol pikiran dan emosi dengan benar. Konon yang katanya "kemarahan mama baru" masih merasuki sanubari saya :D. Saya berharap fase ini segera luruh karena percuma beli produk skin care mahal kalau internal-induced aging nya yang damaging :p.

Preferensi Materi
Semakin kesini, saya semakin merasa tahu apa-apa yang saya mau, seperti gaya busana (wk kapan terakhir pakai kata busana?), parfum yang cocok, dll. Menarik sekali bisa mengeksplorasi hal-hal surga duniawi (karena surga akhirati hanya bisa dibuktikan kalau kita mati) yang saya sukai pada saat ini.


Begini dulu refleksi saya untuk tahun 2021. Saya bersyukur bisa melalui tahun 2021 dengan selamat dan dengan banyak pembelajaran dan pengembangan. Semoga di tahun 2022 ini saya tetap punya semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih saya lagi dari sebelum-sebelumnya.

Selamat tahun baru 2022 semua :)

All Flowers :p



Minggu, 29 Agustus 2021

Resep Lawar Kacang Panjang Khas Bali

Bahan:
  1. Kacang Panjang 2 ikat kecil
  2. Kelapa parut 1/4 kelapa
  3. Bawang Merah 4 siung 
  4. Bawang Putih 3 siung besar
  5. Kencur 4 cm
  6. Jahe 3 sm
  7. Kunyit 3 cm
  8. Kemiri sangrai 1 butir
  9. Daun jeruk 1 lembar
  10. Serai
  11. Bawang merah goreng
  12. Cabe rawit goreng (optional)
Cara Membuat:
  1. Sangrai kelapa parut sampai harum dan kecoklatan, sisihkan
  2. Potong kecil-kecil kacang panjang sesuai selera, rebus setengah matang supaya tetap garing lawarnya, lalu sisihkan
  3. Blender halus bahan bumbu nomor 3-9 (daun jeruk saya blender juga, kalau tidak suka dibiarkan utuh saja)
  4. Tumis bumbu halus dengan serai sampai masak betul dan wangi, kalau belum masak tapi sudah kering, tambah air sedikit saja, lalu tunggu sampai wangi, kental, dan harum
  5. Tambah garam dan kaldu bubuk dalam bumbu tumis, sambil cek rasa
  6. Masukkan rebusan kacang panjang dan kelapa sangrai dalam bumbu tumis sambil aduk-aduk
  7. Angkat, sajikan, taburi bawang merah goreng dan rawit goreng
Selamat makan! Banyak makan sayur yaa biar sehat :)

Lawar Kacang Panjang Khas Bali


Rabu, 07 Juli 2021

Dipeluk Mak

Menyenangkan sekali bersua dengan Mak

Mak yang ceplas ceplos dan jujur

Tidak menyimpan kata-kata di belakang

Nyaman sekali disuguhkan makanan Mak

Barongko halus manis untuk sarapan

Pisang di luar pisang di dalam

Apa di mulut itu jua di hati

Betapa elok perangai Mak

Saling mendorong besok pasti lebih baik

Saling membenahi jangan lupa bilang tabe’

Terima kasih sudah mengasuh kami Mak

Terasa dekat walau bukan kandung

Terasa kerabat walau beda logat

Sungguh nyaman dipeluk Makassar

Minggu, 04 Juli 2021

Menjadi 30

Menginjak usia 30 tahun ini terasa banyak sekali hal yang sudah dialami dan di saat yang bersamaan saya merasa di depan ada (mungkin) lebih banyak pengalaman yang akan saya jalani.

Dulu saat masih kecil, persepsi saya terhadap usia 30 adalah orang-orang “tua” yang sudah “berumur”. Terasa lucu karena saat ini saya sendiri yang memasuki fase orang-orang yang “berumur” itu.

Memang saya belum tahu apa yang akan terjadi di rentang 30an ini. Namun saya merasa yakin bahwa saya akan baik dan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Semoga. Hal ini mungkin disebabkan karena saya selalu merasa lebih baik menjadi tua dari pada muda. Sejak kecil saya merasa seperti orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh forever 13 :D. Bahkan sejak SD saya sering merasa lebih tua dari teman-teman seuisa saya. Mungkin ini hanya sindrom superioritas, mungkin juga memang saya benar-benar merasa tua di dalam.

Oleh karena itu, memasuki usia dimana saya memang akhirnya sudah di-cap “tua”, membuat saya cukup senang. Akhirnya saya berada pada kelompok usia diamana saya seharusnya berada :D.

Di usia 20an saya, saya berpikir mungkin inilah puncak vitalitas saya. Namun sepertinya saya keliru. Memasuki 30an ini, saya merasa energi saya berada pada puncak vitalitasnya, dan mungkin bahkan bisa bertambah!

Bisa jadi hal ini disebabkan karena saat usia 20an, pikiran saya banyak lari kemana-mana, energi saya terbuang untuk hal-hal yang hanya terjadi di pikiran saya saja. Lelahnya banyak terjadi karena pikiran sendiri. Kalau diingat-ingat kembali, di usia 20an awal dan pertengahan pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal yang kurang sehat untuk kebaikan saya sendiri. Berbeda dengan pikiran saya saat memasuki usia 30 tahun, yang walaupun masih banyak sekali aspek yang harus dibenahi, tetapi pikiran saya cukup banyak perbaikan yang mendukung kesejahteraan saya.

Berbicara tentang 20an, memang tidak bisa dipungkiri bahwa I had a LOOOOT of FUN being 20. Banyak hal yang saya coba, banyak yang saya alami, banyak tempat yang saya kunjungi, banyak petualangan seru! Mulai dari bidang akademik, eksplorasi agama dan spiritualitas, hubungan pacaran, eksplorasi makanan yang cocok untuk saya, mengenali paham-paham, mencoba terjun ke dunia pekerjaan yang berganti-ganti, dunia pertemanan yang aneh dan sampai saat ini masih membingungkan, dan lain sebagainya.

Satu hal yang saya pelajari adalah, 20an awal dan 20an akhir itu bedanya cukup besar bagi saya. Pilihan-pilihan saya di awal 20 dan di akhir 20 ternyata cukup berbeda. Saya seperti menjadi orang yang berbeda di usia 27-30 dibandingkan sebelumnya. Di awal 20an saya benar-benar bebas, jarang merencanakan masa depan, dan hidup untuk 30 hari kedepan saja :D.

Di kuartal terakhir 20an, saya mulai memikirkan masa depan. Saya merindukan kestabilan hidup, meskipun di saat yang sama saya senang mengunjungi tempat-tempat baru dan bahkan sering berpindah-pindah tempat tinggal. Namun saya merasa ada keinginan untuk punya rumah sendiri, punya kehidupan sendiri, dan menjadi saya seutuhnya, bukan saya yang didefinisikan oleh lingkungan pekerjaan, agama, tempat asal, apapun itu.

Di akhir usia 20an, saya berhadapan dengan life-changing situation. Dan memang saja hidup saya kemudian berubah drastis. Saya berumah tangga, memiliki anak, mengurus keluarga, pekerjaan baru, dan tinggal di tempat yang baru. Perubahan ini mengubah banyak hal dalam hidup saya. Disamping itu, saya mulai membuat akar-akar kehidupan. Saat ini akarnya ada di Makassar. Saya jatuh cinta pada kota ini, budayanya, dan orang-orangnya. Memasuki 30 tahun, saya memulai proses rooting dan settling.

Memasuki usia 30 tahun saya juga lebih teliti dengan apa yang saya makan. Guru saya mengatakan,  usia 30 tahun keatas sebaiknya setengah makanan kita dalam bentuk mentah, entah itu buah ataupun sayuran mentah. Hal ini disebabkan karena metabolisme manusia mulai memelan memasuki usia 30an. Dulu awal 20an, makan apa saja besok atau lusanya dibuang habis. Di usia 30an, makan berlebih menimbulkan penimbunan lemak, kolesterol meroket, pencernaan tersendat, muncul berbagai gejala lainnya seperti hipertensi, asam urat tinggi, dan lain lain. Di usia dewasa (bukan dalam keadaan hamil atau menyusui), banyak masalah kesehatan datang bukan karena kekurangan makan tetapi karena kelebihan makan. Makan 3x sehari plus 2x snack seperti anjuran ilmu gizi dulu ternyata tidak begitu benar. Makan 2x sehari saja cukup, kalau masih lapar bisa diselingi jus. Saya sudah terbiasa makan besar 2x sehari dan kadang ada tambahan jus atau snack. Saat ini sudah mulai tambahkan sayuran mentahan juga sedikit demi sedikit. Saya juga masih melanjutkan plant-based, walau tidak strict sekali.

Banyak yang saya ingin lakukan di masa 30an ini. Saya ingin berkarir dengan baik. Saya bersyukur di usia 29 lebih saya dipercayakan bekerja di lembaga internasional yang dulunya hanya sebatas angan-angan saja jika bisa bergabung disini. Saya sedang berusaha melakukan yang terbaik di lembaga ini. Entah akan kemana perjalanan karir saya, namun yang pasti saya ingin melakukan yang terbaik.

Saya juga ingin kembali melihat dunia. Saya ingin membawa anak saya menjelajahi dunia ini, melihat bagaimana orang-orang di negara lain hidup, dan mengagumi keindahan alam.

Yang pasti, saya ingin energi saya tersalurkan dengan baik.

 

Akhirnya, saya siap memasuki dekade ke 4 hidup saya: usia 30an!

Terima kasih hidup dan semua yang menopang kehidupan saya, saya bersyukur.

Sumber: factorymeme.blogspot dot com


Minggu, 18 April 2021

Dua Ribu Dua Puluh

Dua ribu dua puluh adalah tahun yang aneh buat saya dan juga kebanyakan manusia lainnya. 
Bagi saya, selain pandemi Covid-19, tahun 2020 dipenuhi dengan berbagai kejadian hidup yang membingungkan dan serba tidak pasti. Menjalani 2020 ibaratnya seperti sedang berada di sebuah terowongan gelap yang panjang dan menakutkan, dan saya bahkan tidak bisa berlari ke ujung terowongan itu. Saya hanya bisa jalan perlahan sambil bersabar. Sebenarnya pengibaratan "terowongan" juga kurang tepat. Melewati terowongan cenderung membosankan karena tidak ada yang bisa dilihat. Sedangkan hidup saya di tahun 2020 penuh kejutan yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya.

Berhenti bekerja di instansi setelah hampir 2,5 tahun, lalu mendapat pekerjaan baru di Jogja (yang sangat unik karena meja kerja bersebelahan dengan kakak kandung satu-satunya :D), dan bahkan mendapatkan pekerjaan baru lagi di Makassar! Lalu kehadiran Oliver yang mengubah status saya menjadi seorang ibu. Tentu serba-serbi bayi baru lahir dan harus berpindah-pindah tempat saat bayi masih sangat kecil, ditambah dengan perjalanan kesana kemari ditengah pandemi membuat sup hidup saya terasa gurih ekstra pedas manis pahit asam sungguh campur aduk. Semuanya penuh risiko, penuh ketidakpastian, penuh tantangan. Mental saya diuji hingga batas kewarasan. Hidup kembali mengajarkan saya untuk berani. Saya mengambil risiko dan menghadapi apa yang harus saya hadapi. 

Sebenarnya perjalanan 2020 jika diuraikan maka isinya sangat panjang. Saat saya mau menuliskan semua kembali, saya merasa pusing dan mual :D. Saya banyak menangis. Saya banyak marah. Saya banyak memaki-maki. Saya banyak makan gorengan saat hamil (lhoh koq kurang nyambung kaq).
Otak saya bahkan saat ini menolak untuk menulis semuanya dengan detil karena takut dilanda kesedihan karena katanya, dia (otak saya) sudah bosan sedih. 

Saya mengalami masa dimana "nothing to lose". Semuanya runtuh begitu saja. Respon awal saya tentu menangis kaq, mau apa lagi. Di satu sisi saya merasakan the power of being in the stage of nothing to lose. Saya belajar bersabar dan rendah hati bersama reruntuhan hidup dan identitas. Saya belajar bahwa hidup sesekali membawa tragedi, dan kita hanya bisa menghadapinya. Saya belajar push the limit lagi. Saya belajar kuat lagi. Saya membuat pilihan-pilihan besar lagi. Hingga pilihan-pilihan tersebut mengarah pada kepindahan saya ke Makassar di awal 2021. 

Saya berharap, saya semakin dekat dan semakin sejalur dengan jalan yang memang milik saya, yang benar-benar saya.

Terima kasih hidup, saya masih hidup, dan semoga saya bisa hidup sehidup hidupnya.

Makan Pisang Goreng adalah Bagian dari Hidup :p


Sabtu, 03 April 2021

How to Unbelieve - 2

Ask questions
Ask many-many questions
Do not be intimidated by them
Stick to those questions, and when the answer comes, 
Ask the answer back with more questions.
Try asking with a neutral point of view, leave that fixed mindset behind.
Do not be afraid of the new 'truth';
What is true yesterday might no longer be true today,
Let alone the 'truth' from thousands of years ago.
We will be fine,
Asking questions is a noble act,
Even if we ended up with no 'right' answer.