Jumat, 18 April 2014

Menjadi Dosen




Sejak kuliah dulu saya memiliki profesi impian sebagai dosen. Entah karena benar-benar ingin berbagi ilmu mencerdaskan bangsa ataukah hanya karena miskin referensi tentang profesi di bidang gizi. Tapi saya cenderung senang berbicara di depan umum dan saya tidak merasa gugup atau malu seperti sebagian orang ketika harus berbicara di depan audiens. Mungkin bekal kepercayaan diri untuk berbicara ini yang membuat saya perpendapat bahwa profesi dosen cocok bagi saya.

 Setelah lulus dari Program Studi Ilmu Gizi Universitas Brawijaya tahun 2012, saya berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Tentu saya dengan gelar sarjana saya belum bisa menjadi dosen karena saat itu sudah ada peraturan bahwa syarat menjadi dosen minimal punya gelar master. Hal ini semakin menguatkan kehendak saya untuk melanjutkan pendidikan.

Pada dasarnya, saya termasuk orang yang sangat fleksibel dalam banyak hal dan cenderung ‘nrimo’ jika ditawarkan sesuatu. Saya tidak fokus untuk menjadi dosen. Saya berpikir, profesi apa saja yang ‘diberi’, saya akan menekuni profesi tersebut. Maka perjuangan mencari pekerjaan sejak dinyatakan lulus pun dimulai. Saya pun asal tembak kiri-kanan, buka lowongan perkerjaan dimana, saya berusaha melamar. Aturannya cuma satu, selama masih berkaitan dengan ilmu gizi, saya mau bekerja. Saya terus menyebarkan lamaran, baik berupa dokumen maupun melalui email. Rupanya lamaran kerja saat itu (pertengahan hingga akhir 2012) lebih banyak diminta via email saja. Teknologi sangat memudahkan proses lamaran pekerjaan. Mungkin untuk lamar anak orang yang tidak/belum bisa via email. Hehe. Saat itu saya masih berada di Malang.

Perjuangan sampai titik keringat penghabisan (berlebihan) itu tidak juga membuahkan hasil. Beberapa kali saya dipanggil wawancara, tapi selalu ada saja ketidaksesuaian. Hingga ada suatu dorongan dalam hati untuk pulang saja ke kampung halaman, pada bulan Desember 2012.

Saya pulang dengan status jobless. Jobless yang bingung harus berbuat apa. Masa depan benar-benar sebuah misteri. Saya pada akhirnya mengabdikan diri di IRGSC, lembaga non pemerintah yang menekankan pada bidang penelitian yang berlokasi di Kupang, NTT.

Hingga suatu waktu, saat sudah hampir setahun bekerja di IRGSC, dan tanpa berbusa-busa mempromosikan diri lewat CV dan surat lamaran, tawaran menjadi dosen itu datang begitu saja kepada saya. Memang bukan juga ‘begitu saja’. Ceritanya, kakak saya, ka Sandra, punya teman yang berprofesi sebagai dosen di STIKES CHMK (di kupang), namanya ka Ema Tanaem. Kakak saya pernah menanyakan, jika dibutuhkan dosen gizi, adiknya (saya) bisa menjadi pengajar. Karena STIKES CHMK adalah untuk pendidikan Diploma III, maka kemungkinan pengajar dengan latar pendidikan S1 masih diterima. Demikianlah, saat mereka butuh pengajar untuk mata kuliah gizi, kakak saya dihubungi ka Ema, dan saya diminta untuk menjadi dosen mata kuliah Gizi Ibu dan Anak untuk jurusan Ilmu Kebidanan di STIKES CHMK. Sesederhana itu. Mungkin ada hal-hal tertentu yang jika itu merupakan bagian kita, maka kita tidak perlu jungkir balik untuk mendapatkannya, hal itu akan mengalir kepada kita dengan sendirinya, pada waktunya.

Hal ini mengingatkan saya pada profesi impian saya dulu saat kuliah, yaitu menjadi dosen. Saya utarakan pada om Bos di kantor, dan betapa senangnya saya saat mereka mendukung profesi saya ini. Jadwal saya mengajar 3 kali seminggu, untuk jurusan ilmu kebidanan semester 4, karena jumlah kelasnya ada 3. Masing-masing tiga jam pelajaran, jadi saya bisa mengatur waktu untuk setelah mengajar kembali ke IRGSC untuk bekerja disana.

Pada tanggal yang cantik, 14-04-2014, saya memulai profesi baru, berteriak-teriak di depan kelas sebagai dosen! Pertama kalinya saya mengajar di jurusan kebidanan semester 4 kelas C, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri Kupang (STIKES CHMK). Materi pertama saya adalah tentang konsep gizi. Seperti yang saya katakan di awal, saya tidak merasa gugup, hanya rasa excited untuk mengajar. Saya menikmati berinteraksi dalam kelas, menanamkan ilmu gizi dasar dan membagikan kecintaan saya pada ilmu gizi pada teman-teman (begitu saya memanggil mereka) calon bidan. Oh ya, karena semuanya calon bidan, sudah pasti semuanya perempuan.

Membangun antusiasme dan interaksi dalam kelas rupanya perlu teknik khusus. Saya sangat ingin para mahasiswa aktif berinteraksi dan menjadikan kelas sebagai tempat yang menyenangkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman, bukan ceramah yang membosankan. Maka saya berusaha untuk melontarkan berbagai pertanyaan dan brainstorming untuk diskusi kecil-kecilan. Teman-teman kelas C rupanya belum terbiasa dengan iklim seperti itu. Maka saya ingin membangun iklim interaksi tersebut, saya yakin saat mereka ikut berinteraksi di kelas dengan saya, itu akan memudahkan mereka untuk memahami materi yang saya sampaikan.

Berikut beberapa potongan slide kuliah perdana saya :




                Selain materi saya juga tentu saja memberi penugasan sih. Hehe. 

Begitulah. Harapan saya sebagai seorang dosen adalah seluruh teman-teman mahasiswa bisa ‘paham’ tentang prinsip gizi, tentang pentingnya gizi bagi ibu dan anak. Dan pada waktunya nanti mereka terjun langsung ke lapangan sebagai tenaga kesehatan, mereka dapat membagikan ilmu ini kepada masyarakat. Selain itu bisa berguna untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat juga. Begitulah, saya percaya bahwa pendidikan mampu membebaskan dan memerdekakan. Hidup gizi! 

Menjadi seorang dosen saat ini bukanlah tujuan akhir cita-cita saya. Saya yakin, akan terbuka banyak kesempatan untuk menjadi manusia yang berguna selain berprofesi sebagai pengajar formal.

Sekian cerita saya tentang perihal menjadi dosen. Teristimewa untuk Sang Pemberi Kesempatan, terima kasih banyak buat kesempatan luar biasa dan keren ini :)


NB: Setelah mengajar selama setengah semester, saya menuliskan refleksi saya sebagai seorang dosen amatir di http://nikefrans.blogspot.com/2014/07/refleksi-si-dosen-amatir.html 


Jumat, 28 Maret 2014

Soe, 1994-2014



Sekitar tahun 1994 – Memori pertama
Memori pertama saya dimulai saat saya berusia kurang lebih 3 tahunan mendekati 4 tahun. Momen saat saya belajar menuliskan huruf E. Menurut saya (waktu itu), huruf E ditulis dengan menarik garis lurus vertikal, kemudian menarik garis horisontal sebanyak-banyaknya sampai memenuhi garis vertikal tersebut. Seperti ini:

Saya belum menyadari keberadaan tempat dimana saya berada.

Sekitar tahun 1995 – Rumah baru
Saya berusia 4 tahun ketika saya mulai menyadari kami punya rumah baru yang masih belum rampung tapi sudah bisa ditempati.

Pertengahan 1995 – Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita
Kelas pertama saya dimulai di TK Dharma Wanita. Sepertinya saya terlambat didaftarkan. Semua teman-teman memakai baju seragam, saya memakai baju broit misis kembang warna pink. Mama memantau di luar kelas, saya gelisah mencari-cari mama di sekeliling orang asing.

Pertengahan 1996 – Lora dan Erni
Saya masuk sekolah dasar GMIT  Soe 1, tempat yang asing lagi buat saya. Kelas penuh sesak, 1 meja dan 1 bangku untuk 3 siswa. Saya punya 2 teman duduk, saya di tengah, Lora dan Erni di kiri dan kanan saya.

1996-1997 – Min
Min adalah kesayangan saya. Pagi-pagi papa mengantar saya ke sekolah, pulangnya Min menjemput. Saya senang pulang dengan Min, dia baik hati. Mama hanya menitipkan Rp.150 untuk uang bemo kami berdua, tapi  Min kadang merelakan Rp.50 atau Rp.100 miliknya untuk membelikan saya kue tameang dan kue segi tiga di Toko Sinar Put’ain. Kami berdua turun bemo di Tugu Adipura lalu jalan kaki sampai rumah sambil saya berceloteh tentang kejadian di sekolah.

1997 – Kupang - Muntah
Kupang itu dimana? Saya terus menerus bertanya kepada mama padahal kami sudah di Kupang sejak tadi. Menurut saya Kupang itu hanya 1 tempat dan 1 lokasi saja. Sehingga ketika kami berpindah tempat dan masih saja berada di Kupang, saya bingung dan terus protes pada mama dalam berbagai pertanyaan. Masih kecil dulu kalau ke kupang pasti muntah. Mama selalu sabar menangani kami dan mempersiapkan loyor beserta plastik-plastik kecil sebelum ke Kupang.

1997-2002 – Saudara Perempuan
Saya punya kakak perempuan yang senang memicu pertengkaran. Setiap mama pulang kantor mama dapat laporan-laporan tentang kakak yang begini, atau adik yang begitu. Kami jarang akur, lebih sering berteriak dan menghina satu sama lain. Riuh dan gaduh sekali suasana waktu itu. Kasihan mama yang selalu menjadi ‘hakim’ atau pelerai kami.

1997-1998-Saya tak ingat jelas – Ulat Gala-gala, Min, dan Berta.
Min dan Berta teman bermain saya sehari-hari. Mereka cerita tentang banyak hal kepada saya, saya juga sebaliknya. Di sebelah rumah kami sangat banyak pohon gala-gala dan pohon petes (lamtoro). Ternyata, di dalam pohon gala-gala yang sudah lumayan besar batangnya, berdiam ulat besar yang kami sebut dengan ulat gala-gala. Dia sangat gendut, panjangnya seperti jari kelingking orang dewasa, berwarna pink, dan jalannya lambat. Saya tertarik pada ulat ini. Min dan Berta saya paksa untuk memburu ulat gala-gala setiap sore. Saya ingat ekspresi geli mereka saat mereka memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang batang pohon gala-gala dan mendapati liuk ulat didalam batang.

1998 – Suka
Sejak kapan kamu mulai tertarik pada lawan jenis? Kalau saya sejak umur 7 tahun, kelas 2 SD.

1998 – Papa yang heroik
Suatu malam saat semua sudah tidur, saya bangun karena rasa sakit yang luar biasa di bagian dalam telinga saya. Saya berteriak sejadi-jadinya. Mama bangun dan kebingungan. Papa juga bangun dengan tergesa-gesa, bertanya kepada saya apa yang terjadi, dan melakukan sesuatu yang heroik : mengoleskan air ludahnya sendiri ke sekeliling telinga saya. 1 menit kemudian, saya merasa ada yang merayap keluar dari dalam telinga saya. Serangga berbahaya sepanjang 1,5 cm. Mungkin dia keluar karena mencium  bau air ludah papa di luar telinga. Saya selamat. Sejak saat itu, papa menjadi sosok pahlawan yang keren buat saya.

1999 – Auricularia auricula
Atau jamur kuping. Jamur kuping kami temukan di belakang rumah. Kami panen dan saya penasaran seperti apa rasanya. Setelah ditumis dengan bawang putih, lada, dan garam, ternyata lezat rasanya.

1999-2002 – Nancy
Selain Min dan Berta, saya punya teman akrab bernama Nancy. Dia lincah dan kuat. Dia mandiri dan sering menginap berhari-hari bahkan berminggu-minggu di rumah kami. Kami tumbuh bersama, bermain masak-masakan dan lompat tali. Bersama kami menelusuri padang kecil di kiri rumah dan mencari tanah liat di kanan rumah.

1999 – Gerak jalan
Kaki-kaki kecil kami kuat berjalan. Menempuh berkilo-kilo meter dalam lomba gerak jalan menjelang peringatan kemerdekaan RI. Saya termasuk yang berpostur paling kecil tapi beberapa kali dipercayakan memimpin gerak jalan. Kiri! Kiri! Kiri, kanan, kiri!

2001 – Adik Laki-laki
Saya mengira saya anak bungsu hingga saya berusia hampir 10 tahun dan saya punya adik laki-laki! Adik saya sangat lucu dan montok. Saya bahagia punya adik bayi karena dulu sering bermain dengan bantal dan loyor berpura-pura punya adik bayi. Favorit saya adalah adik bayi ketika baru bangun tidur, terlihat pasrah dan mengantuk, sangat menggemaskan.

2002 – Putih Biru
6 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat putih merah menjadi sangat nyaman dan putih biru terasa canggung. SLTP Negeri 1 Soe, tempat yang asing lagi, dengan orang-orang yang lebih beragam.

2002-2005 – Jajanan
Mie tiga, tameang satu! Saya berteriak memesan snack di Ibu Jemi. Istirahat di sekolah hanya 15 menit, sedangkan kantin penuh sesak dengan siswa kelaparan yang berlomba-lomba mengisi perut. Ibu Jemi menjadi tujuan saya karena makanannya bersih dan enak. Beliau hanya menjual bungkusan kecil bihun (mie) dan kue tameang (weci). Masing-masing seharga Rp.250. Jadi dengan seribu rupiah, perut kecil kami puas dengan Mie 3 Tameang 1, plus sambal gorengnya yang berminyak.
Satu lagi yang merogoh kocek diatas seribu rupiah, yaitu bakso SMP 1. Mungkin dia punya nama sendiri, tapi kami menyebutnya begitu.

2002-2005 – Kuat Jalan Kaki
Anak-anak Soe waktu dulu rupanya kuat berjalan kaki. Ketika saya ingat perjalanan saya dulu, jalan kaki pergi-pulang sekolah berturut-turut dalam sehari karena ada les tambahan, jalan kaki ke pasar, jalan kaki ke bank, rasanya lumayan jauh juga, tapi saya tidak pernah mengeluh. Ini mungkin yang menjadi dasar saya kuat berjalan kaki, hingga selesai kuliah pun sehari-hari jalan kaki.

2005 – Kaki Ramping
Pertama kalinya hidup berpisah dengan orang tua. Saya melanjutkan SMA di pulau Jawa, di kota Malang. Saya senang memperhatikan orang dari bentuk kaki dan betisnya. Di sini betis-betis mereka gemuk-gemuk. Saya ingat kaki-betis kami di Soe, kaki kami kurus dan ramping. Apakah betis besar itu dapat kuat berjalan seperti betis-betis kami?

2010an – Nilai, sapi, dan anak perempuan
Ada kalimat yang saya dengar dari seorang teman : ‘Di Soe, lebih baik (atau gampang?) piara sapi dari pada piara anak perempuan.’ Lucu sekali kedengarannya. Kalimat ini saya kaitkan dengan pergaulan anak yang semakin tidak mudah dikontrol oleh orang tua. Mungkin saja minimnya kegiatan-kegiatan positif menjadikan sebagian anak remaja melampiaskan energinya pada hal-hal yang mungkin nilainya negatif. Sedangkan piara sapi tentu saja bisa lebih mudah. Sapi sepertinya tidak mengemban nilai-nilai tertentu.

2012 – Swalayan dan Se’i babi
Tak banyak perubahan di kota Soe sejak saya tinggalkan tahun 2005. Hanya saja sekarang bermunculan swalayan-swalayan baru, dan beberapa rumah makan Se’i babi. Orang-orang menikmati berbelanja dengan mencomot-comot sendiri dan menggotong barang-barangnya ke kasir, seperti juga menikmati daging asap berlemak dipadukan sambal Lu’at.

28 Maret 2014 – Saat Ini
Saat saya ingin menuliskan tentang kota Soe, yang muncul dalam ingatan saya adalah patahan-patahan memori pohon petes, ulat gala-gala, Nancy, dan patahan lainnya. Saya belum kenal Soe, TTS, dengan baik. Mungkin ada saatnya untuk saya lebih memahami Soe, karena saya sendiri adalah orang Soe meski darah yang mengalir tak murni darah Timor.
Soe bagi saya adalah orang tua, saudara, teman, masa kecil, jajanan, dingin, jalan kaki, pohon gala-gala, kabut, tanah liat, bermain, dan banyak lagi. Soe adalah rumah.

Tulisan ini dibuat menjelang ulang tahun Forum Soe Peduli yang pertama. Berharap FSP terus berkembang menyebarkan semangat positif kaum muda kota Soe. Bersama berkarya untuk Soe, TTS.
Selamat ulang tahun FSP!

Selasa, 18 Maret 2014

Sedihku pada NTTku



Beberapa waktu belakangan ini saya merasa sedih dengan kemalangan-kemalangan yang melanda NTT tercinta. Kesedihan pertama disebabkan karena kasus human trafficking atau perdagangan manusia yang sasarannya adalah masyarakat NTT. Digunakan kata perdagangan karena manusia yang diperdagangkan itu sudah tidak dianggap manusia lagi, tetapi sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan bagi yang menjualnya. Peminatnya sungguh banyak, terutama di daerah-daerah yang perindustriannya berkembang pesat. Para pengusaha kota besar seperti Medan rupanya senang membeli ‘komoditas’ NTT. Bukan karena kerjanya bagus, namun karena ‘komoditas’ NTT biasanya bersedia bekerja serabutan tanpa tugas pokok yang jelas dengan bayaran minim. Belakangan ada sesumbar yang menyatakan perdagangan manusia bahkan terdengar sungguh sopan. Yang sesungguhnya terjadi lebih tepat dinamakan peternakan manusia. Maksudnya? Karena perlakuan terhadap manusia yang diperdagangkan itu layaknya sapi. Menunggu hingga remaja, lepas dari induknya, atau menunggu hingga anak putus sekolah lalu dijual kepada majikan di kota besar. Majikan pun memperlakukan mereka seperti bukan manusia, tapi sesuatu yang derajatnya lebih rendah dari manusia. Beberapa budak yang tak kuat fisik dan mental meninggal sia-sia, bahkan ada pula yang mencoba bunuh diri. Miris. Saya lantas bertanya apa yang merupakan akar dari mirisnya keadaan ini.

Uang akar permasalahan

Demi mencari uang. Begitu saja. Baik dari sisi yang diperdagangkan maupun yang memperdagangkan, semua akar penyebab mengarah kepada kebutuhan akan uang. Pertanyaannya adalah, bagi masyarakat di kampung, apakah tidak ada jalan lain untuk mencari uang selain menjadi budak di tanah orang? Dan bagi penyalur ‘komoditas’, apakah caramu meraup uang harus dengan menjual saudara sendiri, merayu sedemikian rupa dengan iming-iming gaji besar dan makan gizi, lalu menukar haknya sebagai manusia merdeka dengan uang (berapa besar jumlahnya saya tidak tahu)?
Itu kesedihan pertama saya.

Kesedihan kedua adalah kesedihan akan tanah-tanah terindah, surga-surga NTT yang sekarang bukan lagi milik kami melainkan milik orang asing, yang sekali lagi memandang tanah NTT sebagai komoditas. Hanya saat tanah-tanah surga kami sudah di lelang di dunia maya oleh orang asing, dan hasil pemetaan menunjukkan siapa sebenarnya yang menguasai pariwisata NTT, barulah kita tercengang dan menangis (dalam hati).

Harusnya orang NTT tahu betapa sakralnya nilai tanah itu. Betapa kepemilikan tanah menunjukkan identitas sebagai orang merdeka. Tuan tanah yang agung, semakin luas tanah yang dimiliki semakin besar kuasanya atas wilayah tersebut. Lalu mengapa menjual kuasa dan kemerdekaan kita pada para bule dan artis? Kepada pengusaha yang jelas ingin mengeruk surga kita? Berapa sih iming-iming yang ditawarkan? Apakah iming-iming lebih besar dari harga diri kita sebagai manusia merdeka?

Ataukah mungkin hidup semakin sulit. Biaya kesehatan begitu mahal karena dengar-dengar Jamkesda sedang carut-marut dialihkan ke BPJS (yang berbayar). Saat sakit harus membayar, tak punya tabungan hanya punya tanah. Mari tuan ambil tanah kami, supaya kami bisa bayar rumah sakit, dan makan beberapa hari, lalu tak boleh sakit lagi seumur hidup kami, apa lagi yang kami punya?

Solusi

Berpendidikan.
Saya bermimpi anak-anak NTT mengecap pendidikan hingga jenjang SMA atau kuliah. Bermimpi anak-anak NTT menjadi manusia cerdas yang tidak mudah dirayu menjadi budak di tanah orang atau tergiur iming-iming investor yang melirik tanah kita.

Bergizi
Saya bermimpi kita merdeka dari masalah-masalah gizi dan kesehatan yang akan menggiring pada kemiskinan. Miskin-kurang gizi-miskin. Seperti rantai setan yang terus membelenggu kita. Bermimpi kita merdeka untuk makan makanan yang bergizi. Biar jagung dengan kacang, biar ubi dengan labu, asal kita makan cukup.

Betapa saya mencintai NTT, tanah lahir saya. Dari butir padi mu, nutrisi tanahmu, dan hasil lautmu saya dikenyangkan, dari budayamu saya dididik, dari jagung yang terus tumbuh menembus himpitan karang saya belajar kuat.
NTT ku sayang, Apa yang bisa kulakukan untukmu?

Kamis, 09 Januari 2014

Bizarre Incident



Life is unpredictable. Sometimes I have to go through complicated situations, but sometimes days are so flat. Sometimes I feel like I’m the most lucky one in this world, but sometimes I feel like a poorest one. Sometimes I feel good, but bad times did happen in some other times. Sometimes life is full of some normal events. But just some days ago, a bizzare incident just happened in my life.

There is a white female cat who lives in my boarding house (in Kupang). My boarding house has 12 rooms. I just moved to this place for about one month, so I’m the newest room occupant here. This cat has no private owner. But I think she loves to live here because there is always somebody who  gives his/her remain foods to Manis. Yes, they call her Manis.

Manis looked so fluffy. Other occupant said she was pregnant.
When holiday time came up, I went out to spend holiday with my family in Soe. So I left my rented room. For the security sake, i locked up the door and the window.

When christmas finally arrived, I and my family went to Kupang to met some of our families. This is such a tradition that in christmas we go to visit some close families to meet and greet.
Because we were in Kupang, I asked my father to go to my boarding house. I wanted to take my shoes because I needed to wear them in my reunion event.
So I entered my room, took my shoes, and got back to the car after locked all things back.
All seemed normal in my room, nothing weird.

Some days later after christmas, a message entered my phone from a friend in the same boarding house. He told me that they (he and some other people) just took out Manis and her 2 new born kitties from my room! These creatures were found in my room because my neighbor heard her screaming frustratedly (of course she was frustrated in my locked room).

This news made me confused. I was not able to be angry or sad, just confused. This is weird.
I thought about how Manis entered my room, maybe in christmas time when I came to took my shoes just for some minutes, that time she probably tiptoed very quietly into my room.

I was wondered, from all the 12 rooms, why she chose my room for delivering her babies? Because I’m a new comer, I mean Manis may have known other rooms better, why did she want my room?

I imagined my room must be so messed up, smelly, full of blood and poop. But when I arrived from my long holiday, there were only some small bloodspots in bathroom and also the furs on my clothes.

Thank God!
I  was suddenly turned blue, I thought about how Manis struggled for her babies alone, in my dark room, with no food at all for about 5 or 6 days!
She did it very well and very clean. No poop or blood everywhere like my exaggerated imagination. I’m so amazed to the mother instinct that Manis has naturally.

Yeah this is my story about a bizzare incident that happened in my life.
And because this is still the beggining of 2014, I want to say happy new year to everyone. I hope life keeps surprising you. Just open all your sensory, your heart, and your feeling. Have the multiple multi-sensory experiences, and get ready to be amazed!