Minggu, 01 Mei 2016

Where were the birds?

Where were the birds
When a tornado came last night?
When they started to sing this morning
Was that a merry or mourning song?


Manhattan, Kansas, after 2 strokes of tornado at the end of April 2016.

Picture source: tornadotitans(dot)tumblr(dot)com


















Kamis, 14 April 2016

There is an Art

There is an art, in the way you smile from your heart.

There is an art, at the curve of your calf.

There is an art, in the way you nurture the living beings.

There is an art, in your great patience.

There is an art, in the way you listen faithfully.

There is an art, in the photographs you took.

There is an art, in the structure of your stories.

There is an art, in your footprints.

There is an art, in the way you play the instruments.

There is an art, at the tip of the letters of your handwriting.

There is an art, in your voice tone.

There is an art, in the way you wiggle your head.

There is an art, in your swinging mood.

There is an art, in the absence of your concept of time.

There is an art, in the way you sincerely complimenting.

There is an art, in your contradictions.

There is an art, in the way you dissemble your pampering.

There is an art, in the way you sing the old songs.

There is an art, in the way you slowly drink the coffee.

There is an art, in you.

Rabu, 13 April 2016

Balada Peragu

ragu/ra.gu/ 1. dalam keadaan tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan, dan sebagainya); bimbang 2. sangsi (kurang percaya); syak

doubter/doudər/noun - a person who questions or lacks of faith in something; a skeptic


Seperti kebanyakan hal di hidup ini, ragu menurut saya punya sisi baik dan buruknya.

Menurut saya, perasaan ragu menggiring kita untuk mempertanyakan sesuatu dan tidak serta-merta percaya tentang informasi, baik itu perkataan orang, nilai dan norma yang berlaku, sejarah, doktrin, teori, ataupun agama. Dengan demikian, keragu-raguan, seperti juga skeptisisme, membuat kita mampu mempertanyakan banyak hal dan melihat suatu keadaan dari beberapa sisi, bukan dari yang nampak saja, bukan berdasar mayoritas saja. Ini sisi baiknya. Ragu mungkin juga mampu menghasilkan sikap kritis.

Namun ragu dalam kadar tertentu, sekali lagi seperti kebanyakan hal dalam hidup ini, tentunya mempunyai efek yang tidak diinginkan. Terlalu banyak meragu membuat hati menjadi tidak tenang dan tidak pasti. Padahal, kita cenderung menyenangi hal-hal yang pasti, sedangkan ketidakpastian mampu memicu keadaan stres. Selain itu, terlalu banyak meragu bisa merenggut waktu-waktu untuk bekerja karena efek dari terlalu banyak berpikir, menimbang, dan sulit memilih.

Saya mengkategorikan diri sebagai seorang peragu. Peragu kelas berat. Oleh karena itu, saya sering merasakan efek baik dan efek buruknya sekaligus. Tapi tunggu dulu, apa yang baik itu benar-benar baik dan apakah yang buruk itu selalu negatif? :p

Keraguan saya seringkali membuat saya menjadi bimbang dan tidak tampak "pasti". Bukan karena saya tidak tegas, hanya saja terkadang hal-hal yang saya pertimbangkan punya sisi baik dan buruk, yin dan yang, dan 'kebenaran' bagi saya terlalu relatif.

Akibat yang sering terjadi adalah konflik dalam diri sendiri. Contohnya saja, saat saya ingin dan berusaha mendorong anak-anak untuk punya komposisi berat badan dan tinggi badan didalam rentang normal (-2SD < ZScore < 2SD), keraguan saya mengusik, apakah standar normal itu benar-benar diperlukan? Apakah itu benar? Apakah yang diluar normal itu buruk? Apakah normal harus berarti menyeragamkan diri dan ikut aturan internasional?

Itu hanya salah satu topik saja. Banyak hal-hal lain yang senang membuat saya bertanya-tanya. Contohnya saja tentang standar pembangunan manusia, tentang relijiusitas dan doktrin dalam agama, tentang sistem pelayanan kesehatan, tentang institusi pendidikan, lembaga PBB (UN), juga tentang kasih sayang orang tua.

Ah, peragu seperti saya memang betah membimbangkan banyak hal hingga jam 4 dini hari seperti saat ini. Hingga terkadang saya pikir penting untuk mengabaikan semua hal di dunia ini, menjadi cuek dan bisa tidur sebentar supaya tidak banyak menguap saat kuliah pagi.

13/4/2016 - KS

Sabtu, 12 Maret 2016

Dua Ribu Lima Belas

Sudah bulan Maret 2016 dan ada sesuatu yang terus membuat saya terusik sejak awal tahun ini. Setelah sebelumnya saya menulis di blog ini tentang refleksi tahun 2013 dan 2014, saya merasa tidak adil bila tidak mengapresiasi perjalanan 2015 yang kaya rasa itu.

Maka sebelum seperempat tahun ini terlewati, baiknya saya mengingat-ingat kembali sambil mengurai kesan tahun lalu dalam tulisan. Tahun 2015 tidak kalah serunya dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejarah-sejarah baru saya lewati di 2015.


Setengah 2015 Pertama
Awal hingga pertengahan tahun 2015 bagi saya "hiruk pikuk". Ya, itu frasa yang mungkin mendekati makna yang saya maksudkan. Meminjam bahasa Melayu Kupang, "makamiung" mungkin juga bisa mewakili. Apapun itu, yang saya alami adalah perasaan yang bertabrakan, kesibukan yang tumpang tindih, dan perjalanan yang terlampau banyak.

Mulai dari pertengkaran dengan keluarga yang membuat emosi purba saya bergejolak, was-was menunggu kabar berita dari AMINEF tentang aplikasi ke beberapa kampus di US, bekerja di pedalaman TTS tanpa listrik dan sinyal sambil harus mengurusi kelengkapan berangkat sekolah ke Amerika. Lalu, diatas semua itu, adalah perasaan sedih bertubi-tubi dan takut menanggung rindu karena harus berjauhan dengan pacar. Awal hingga pertengahan 2015 adalah sejarah mobilisasi tertinggi saya sejauh ini. Naik pesawat seperti naik bus; pernah hari ini tiba, besoknya berangkat lagi. 
Bahkan titik klimaksnya, di akhir bulan Juni, kabar saya harus berangkat ke Amerika itu datang di hari keberangkatan yang sama! Pontang-panting saya lemparkan baju-baju ke dalam koper (dibantu kakak karena saya syok hampir hilang kewarasan). Sungguh tanpa persiapan. Maka saya merasa, dalam 6 bulan itu, jiwa saya menua dengan cepat. Ini aneh, tapi nyata :D. Saat menuliskan ini, saya terus membatin, betapa batampiasnya hidup saya kala itu.


Setengah 2015 Kedua
Lalu, Juli hingga Desember 2015, saya banyak kali merasa seperti butiran debu saat saya pindah ke negara besar ini, The United States of America. Ini negara luar Indonesia pertama yang saya datangi seumur hidup saya. Beberapa bulan disini saya habiskan dengan berpikir keras: saya harus bilang apa kalau mau pesan makanan? Bagaimana kalau makanannya dibungkus? Bagaimana merespon "hayaduin" alias "how are you doing" yang dilafalkan dengan cepat dan bikin kaget itu? Bagaimana membeli tiket kereta? Bagaimana naik transportasi publik? Bagaimana cara beli baju? Bagaimana berjalan cepat? Bagaimana supaya tidak tanganga? :D
(Terima kasih untuk HYF, mungkin orang tidak tahu, tapi beliaulah yang membuat transisi saya di negeri baru ini lebih mudah dengan semangat, optimisme, telinga, dan hatinya yang luar biasa itu)

Syukurnya, ada pelatihan 6 minggu di Portland, Oregon, sebelum ke Kansas. Saya sangat bersyukur untuk program Fulbright ini. Setidaknya, level ketengangaan saya bisa berkurang sedikit. :p
Oh ya, karena disini hidup sangat cepat; bicara cepat, kerja cepat, jalan cepat, pikir cepat, respon cepat, saya pun ingin menyesuaikan diri dengan cara mengganti netbook Toshiba lama saya dengan MacBook Air. hahaha. Ini bukan promosi, tapi sungguh ini sangat membantu mereduksi kelambanan dalam hidup saya. Tidak ada yang terlalu lama untuk diproses oleh Macbook. :p *marketing power mode: on

Semester pertama saya jalani dengan baik. Pernah menangis setelah keluar kelas karena merasa bodoh. Lalu mengeram di perpus sampai lewat dari jam 12 malam itu sudah jadi hal biasa. Orang lain baca artikel ilmiah 15 menit, saya 2 jam sendiri juga bisa. Ahh, tak apa. Saya bersyukur untuk ilmu baru yang saya pelajari. Saya lahap semuanya dengan antusias. Semua mata kuliah menarik, termasuk Introduction of Biostatistic. Statistik itu momok lama saya. Tapi mungkin karena dosen saya disini orang Taiwan yang sangat sabar dan telaten, selalu bersedia diganggu untuk pertanyaan sepele, dan pandai melucu, performa saya sangat memuaskan. Saya bersyukur untuk itu. 

Di akhir Desember, saya pulang ke Soe untuk menghadiri pernikahan kakak saya. Ini cukup mengobati rindu saya akan Max (saya betul-betul rindu Max!), makanan enak, pantai, udara hangat dan orang-orang yang juga hangat, makanan segar tanpa radiasi dan pengawet, ikan bakar, pasar tradisional, cilok tamnos, keluarga, sahabat, kekasih, Nancy, dan kakak Min.

Pembelajaran dan Nasihat kepada Diri Sendiri

  • Berjalanlah bersama orang yang benar-benar bersama dengannya kau rasa nyaman. Jika tidak, berjalanlah sendiri.
  • Perhatikan kontrak kerja. Jangan terima pekerjaan sebelum jelas kontraknya. Berhati-hati jugalah dalam memilih rekan kerja, apalagi kalau kau tipe pekerja tunggal atau bekerja hanya dengan orang yang benar-benar 'klik'. Jika tidak, duduk melamun mungkin lebih berfaedah.
  • Saya belajar hidup berbagi apartemen dengan seorang teman Amerika. Dia sangat baik dan ramah dan tulus dan relijius, dan mengajarkan saya bahwa hidup sendiri adalah privilege. Dan mahal.
  • Satu lagi, saya belajar menjadi manusia yang positif dan optimis secara bertahap. Ini susah, terlebih jika kita kerap dikelilingi negativitas dan pesimisme dari lingkungan. Namun demikian, saya tetap memelihara sikap skeptis, sinisme, dan keragu-raguan (yang sering saya bungkus dengan senyum inosen), demi menjaga kewarasan dan sikap kritis terhadap berbagai absurditas agar tidak mudah terpengaruh :p 

Begitu dulu, 2015. Saya bersyukur untuk hidup, yang, meminjam kata-kata Ferdy, "masih menarik". Semoga. Semoga selalu.


Konza Prairie - Kansas, Okt 2015
Diambil oleh kak Shima

Kamis, 11 Februari 2016

Stres dan Penyakit

Di semester spring 2016 ini saya mengambil mata kuliah pilihan Health Psychology. Alasan utama saya memilih mata kuliah tersebut karena sejak dulu saya punya ketertarikan terhadap dunia psikologi. Saya penasaran tentang hubungan psikologi dengan kesehatan.

Kelas dimulai pada pertengahan/akhir bulan Januari. Saat itu, saya baru saja kembali ke Manhattan, KS, setelah berlibur selama kurang lebih 3 minggu di Soe untuk menghadiri rangkaian acara pernikahan kak Sandra dan kak Yosua. Saya awali kuliah semester Spring ini dengan kondisi tubuh yang tidak stabil. Peralihan cuaca Soe/Kupang dan Manhattan yang drastis karena disini sedang musim dingin/winter. Lalu penyesuaian waktu tidur yang cukup sulit karena perbedaan waktu 14 jam antara Manhattan (CST) dan WITA ; satu minggu setelah tiba di Manhattan, waktu tidur saya sangat sedikit dan tidak teratur. Ditambah lagi saya diare. Tambahan lagi, beberapa hari awal tidak ada sinar matahari, ini benar-benar membuat lesu! Saya khawatir jika kondisi saya tidak membaik, performa akademik saya akan buruk.

Kembali ke kelas Health Psychology. Mata kuliah ini terdiri dari tiga kali tatap muka dalam seminggu. Minggu pertama dosen banyak membahas tentang hubungan stres dan kesehatan. Sudah terbukti bahwa stres, sedih, dan depresi (mungkin galau juga termasuk? :p) berhubungan erat dengan kondisi fisik seseorang.

Saat stres, fungsi sistem imun dalam tubuh akan berkurang sehingga seseorang yang mengalami stres atau depresi akan rentan terhadap penyakit. Selain itu, dalam kondisi stres, seseorang cenderung tidak merawat dirinya dengan baik, waktu tidur berkurang, waktu berolahraga berkurang, kehilangan napsu makan, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.

Demikian stres, emosi seseorang, ataupun depresi menciptakan gejala fisik seperti gangguan pencernaan atau diare, nyeri lambung, sakit kepala, napas tersengal, masalah waktu tidur, sakit leher, dan sebagainya. Orang yang stres juga lebih sering terkena demam/flu dibandingkan mereka yang tidak stres. Itu baru gejala-gejalanya. Jika dibiarkan terus-menerus, stres berkepanjangan tentu sangat berbahaya terhadap status kesehatan.

Lalu saya tersadar, kenapa gejala-gejala di awal semester yang saya alami tadi mirip dengan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh stres? Di kelas awal Health Psychology itulah saya menyadari bahwa saya sedang stres. Ada hal yang menjadi beban pikiran saya sampai membuat saya diare (sampai berminggu-minggu, tidak parah, tapi makanan yang saya makan tidak terserap sempurna), tidak bisa tidur (awalnya saya pikir karena perbedaan waktu), dan bawaan melodramatis (awalnya saya berasumsi karena matahari yang terus tertutup awan tebal). Di titik itulah saya memutuskan untuk tidak membebani pikiran saya dan lebih mencintai diri saya dengan cara menghindari hal-hal yang membuat saya stres.

Saya sudah minum obat diare; diarenya berhenti sebentar lalu kembali lagi. Saya sudah disarankan teman untuk minum obat (pengatur) tidur (belum sempat saya beli). Tapi apalah gunanya obat-obat itu kalau mereka hanya mampu mengurangi gejala, dan bukan mengobati sumber yang sebenarnya adalah stres itu? Beberapa hari setelah saya sadar akan kondisi fisik dan psikis saya, serta hubungan antara keduanya, saya pun dapat tidur dengan sangat pulas. Saya membiarkan tubuh saya beristirahat. Lalu diare beminggu-minggu itu pun hilang. Tanpa obat sama sekali.

Kalau ada yang mengalami gejala-gejala demikian (bisa jadi berbeda dengan saya), mungkin salah satu pertanyaan yang harus ditanyakan pada diri sendiri adalah apakah diri kita sedang sedih/stres/depresi?
Kalau ya, tentulah diri kita layak untuk mendapat perhatian khusus (butuh dicintai/self love), mencari tahu apa yang bisa membuat kita bahagia kembali, dan menghindari beban-beban yang membuat kita terganggu, atau mengubah fokus pikiran kita ke hal-hal yang positif.

Ahh, saya ternyata berbakat menjadi psikiater/psikolog :p :p

Manhattan, KS, 11/02/16


Sumber gambar: thespiritscience(dot)net

Selasa, 09 Februari 2016

0902



Itu salah satu foto favorit saya.
Konon sebuah foto atau gambar mampu menjelaskan banyak hal:
Seperti Ferdy, dengan baju putihnya yang baru saja dibeli di Soe karena merasa perlu mengenakan baju putih setelah rambutnya dipangkas rapi.
Lalu di Soe, lokasi potret itu.

Tidak berhenti sampai disitu, karena kalau ingin dirincikan, ada cerita panjang mengapa Ferdy memutuskan potong rambut dan mengapa kami bisa duduk di pinggir jalanan Soe. Saya setuju, sebuah gambar bisa punya segudang cerita.

Namun selain dari cerita panjang dibalik foto diatas, alasan lain mengapa saya menyenangi foto itu adalah ekspresi Ferdy. Ekspresi yang menegaskan kerut-kerut di sudut matanya; favorit saya!

Hari ini saya menelepon Ferdy dengan perasaan bahagia yang unik. Perasaan yang sama di waktu yang juga sama seperti tahun yang lalu saat saya sedang di Kupang. Walaupun disini masih tanggal 8, di Maumere sudah tanggal 9 Februari, dan Ferdy genap 25 tahun. Saya bersyukur untuk pertambahan usia ini :).

Dunia masih (semoga selalu) menarik buat Ferdy. Dia sedang bersemangat belajar menulis dan update blog. Semoga dia tetap semangat mengembangkan kemampuannya. Ada keinginan untuk pelajari penelitian dengan serius. Semoga ada kesempatan untuk itu. Dia masih terus bermimpi menjadi petani. Semoga rajin dan punya waktu untuk bertanam. Dia sedang aktif di grup pencinta musik dan organisasi kampus, senang kumpul dengan teman-teman, diskusi, dan belajar dari orang-orang disekelilingnya, semoga dia tetap semangat belajar, berbagi mimpi-mimpi dan energi optimisme.

Kembali ke foto, semoga Ferdy sehat dan banyak bahagia, banyak tertawa seperti foto diatas. Itu keinginan terbesar saya.

Selamat ulang tahun, Ferdy!

(Foto diambil oleh Ryan DeChantilla)




Senin, 01 Februari 2016

Kakak Perempuan (yang Menikah)

Saya punya seorang kakak perempuan yang berusia 3 tahun 5 bulan lebih tua dari saya.
Tampaknya, sejak hari saya lahir sampai hari ini, kami selalu berteman. Kami dililit oleh kuatnya ikatan batin saudara perempuan. Dia selalu "mengawasi" saya sejak saya mengenal dunia. Dia bahkan jauh lebih mengenal saya ketimbang mama dan papa. Atau bahkan siapapun di dunia ini.

Hidup selalu punya cara untuk mewarnai hubungan kakak beradik kami yang terus berevolusi.
Dari teman bertengkar dan mengejek, teman curhat, teman cuci mata di mall, teman makan bersama, teman bercerita tentang apa saja, teman saat butuh tertawa tanpa banyak usaha, teman tidur bersama, teman bersekongkol untuk menyembunyikan sesuatu dari mama papa, sampai teman yang saling "memantau" di media sosial.

Kak Sandra namanya.
Dia perempuan karismatik.
Sejak kecil kak Sandra selalu berprestasi dan selalu menjadi kebanggaan kami.
Dia maskot keluarga kami. Dia membuat papa dan mama menjadi orang tua yang berbangga dan dihormati.
Dia menghafal tanggal lahir kami, sepupu kami, dan banyak orang disekitarnya.
Dia anggun (meskipun sering saya salah artikan itu sebagai kurang lincah :D).
Tapi sungguh dia sangat anggun dan cantik.
Dia punya hati yang lembut. Dia peka dan senang membuat orang lain bahagia.
Jalan-jalannya diberkati.
Dia jarang menjadi cerewet. Dia lebih senang mendengar orang berbicara, atau duduk membaca, dan sering melamun. Kompensasinya, sejak kecil dia banyak menulis.
Naluri "Kakak" itu sangat kuat dimilikinya. Ia sangat keibuan dan penyayang, ia senang dengan anak kecil, dan senang memperhatikan kebutuhan adik-adiknya. Sejak dia sudah bisa mengatur uangnya sendiri saat SMA, dia membelikan berbagai pakaian, tas, dan asesoris buat saya yang saat itu masih SMP.
Dia seorang dokter yang rendah hati dan casual. Tangan halusnya telaten memeriksa, merawat, menyembuhkan. Tak terhitung kalanya dia menjadi dokter pribadi bagi saya dan keluarga kami.
Dia senang mengajar adik-adik sekolah minggu.
Ah... Dia memang manuasia yang keren.

Hidup Berpasangan

Tidak bisa dipungkiri waktu berjalan dengan cepat dan tiba saatnya teman sejak lahir saya ini untuk hidup berumah tangga. Saya bahagia. Saya rasa alam semesta dan semua orang yang mengenal kak Sandra dan suaminya, kak Yosua, ikut berbahagia untuk mereka. Di malam terakhir saya dan kak Sandra tidur bersama di kamarnya (yang besoknya disulap menjadi kamar pengantin), ada rasa haru dan belum rela untuk 'berpisah ranjang' dengannya.

Saya sangat beruntung bisa hadir dalam proses peminangan, pemberkatan, dan resepsi mereka. Seluruh acara berjalan dengan mulus, sederhana tapi menyentuh dan khusyuk. Belum pernah saya melihat pernikahan dimana kedua mempelai begitu menikmati acara mereka sendiri. Seumur hidup, baru kali itu saya melihat saudara perempuan saya begitu bahagia, begitu cantik, begitu anggunnya. Kak Sandra dan Kak Yosua bagaikan sepasang pangeran dan tuan putri, aura dan fisik mereka memang sangat mendukung :). Sungguh, saya tidak berlebihan, teman saya mengkonfirmasi hal yang sama. Dan beberapa teman mengomentari ekspresi kakak saya yang begitu lepas dan bahagia saat resepsi pernikahan. Ah, ya! Dia sangat menikmati malam itu! Dia bahkan tidak gugup sama sekali.

Selamat menikmati hidup berumah tangga, kakak Sandra Olivia Frans dan Kakak Yosua Natanael Sriadi!
Dunia ini menjadi lebih baik dengan hadirnya dua orang baik seperti kalian. Terlebih, sekarang, kalian partner yang tidak terpisahkan!
Berbahagialah selalu.

Semoga cerita kita tidak sampai disini saja, kakak perempuan, teman seumur hidup!



  Ka Sandra dan Ka Yosua saat resepsi pernikahan. Sabtu, 2 Januari 2016


Tiga bersaudara: Ka Sandra, kakak sulung kami diapit saya dan Nyongki
(Semua foto dari Soft Photoghraphy)