Sabtu, 16 Juni 2018

Feeling

Papa is a man of few words
When he taught me to ride a bike
One thing he said:
"Use your feeling, kid"

Now as I'm growing older
I carry his words
Apply them too often
Sometimes when it is heavy
All I want to do is
Come home and ask him:
"How much feeling is too much feeling?"


Rabu, 13 Juni 2018

Dua Ribu Tujuh Belas

Kembali lagi saya ingin menuliskan catatan perjalanan tahunan sambil mengingat-ingat tentang yang terjadi di tahun 2017 (sebelum masuk 2019 :p). Tentu saja tulisan ini tidak bisa menggambarkan detail kejadian. Dalam prinsip mindfulness, tidak ada kebenaran selain dari yang terjadi saat ini. Saat kita hendak menceritakan kembali kejadian yang sudah berlalu, cerita tersebut bukanlah kebenaran yang hakiki karena penceritaan itu sudah berbaur dengan persepsi, asumsi, dan analisis. Walau demikian, saya tetap ingin bercerita demi memelihara ingatan yang penuh dengan ilusi ini.

Memang sepertinya benar, kita memilih hal-hal yang ingin kita ingat: cenderung hal yang menyenangkan hati kita. Mungkin demikianlah mekanisme survival bekerja. Oleh karena itulah, saya pun hanya memilih beberapa hal yang menurut saya baik untuk diingat-ingat dan dibaca kembali.

Awal Sampai Pertengahan 2018
Dimulai dari awal tahun lalu. Tahun 2017 saya habiskan bersama teman-teman di Manhattan, Kansas. Waktu itu saya tidak memiliki impian muluk untuk menjalani tahun 2017 karena fokus utama saya saat itu hanyalah ingin lulus dan terbebas dari belenggu tugas-tugas :D. Sebenarnya di awal masa kuliah saya sudah mendesain agar semester akhir saya akan cenderung santai. Apa dikata: tugas akhir, internship, dan beberapa mata kuliah berdesakan ingin diselesaikan di semester akhir. Saya tidak bisa apa-apa selain menjalani semuanya. Walaupun tugas-tugas dengan buasnya melahap energi saya, saya berhasil menyelesaikan semua kewajiban tersebut dengan nilai yang sangat memuaskan. Pada bulan Mei 2017, saya memperoleh gelar Master of Public Health dari Kansas State University. Sangat bersyukur untuk itu.

Commencement day, Bramlage Coliseum K-State, May 12 2017


Ditengah timbunan tugas yang membuas, saya masih bisa menikmati US. Justru saat banyak tugas itulah motivasi untuk bersenang-senang semakin memuncak :D. Saya sempat ke beberapa states seperti Virginia, San Fransisco, Las Vegas, Arizona. Menikmati pusat-pusat pariwisata, alam yang sangat indah, national parks, dan tentu saja musim semi yang penuh bunga. Dan lagi-lagi saya berkelana sendiri sambil juga membuat "hubungan pertemanan kilat" ditengah jalan :D. Berikut saya bagikan beberapa foto kelana.

@Golden Gate Bridge, San Fransisco

Yosemite National Park, California

The Great Grand Canyon, Arizona

Grand Canyon

Horseshoe Bend, Arizona, May 2017


Lalu tibalah jua waktunya untuk saya pulang ke kampung halaman, Indonesia, terkhusus Timor. Sempat pula transit di Jakarta sebentar dan bertemu teman seperkumpulan di SMA, Julliet, Ryan, dan Tina. Julliet, Ryan, dan saya bahkan sempat bobok seranjang demi melepas kangen bertumpuk-tumpuk, dan saya meminjamkan mereka perlengkapan natural saya berupa bubuk hijau daun-daunan sebagai pengganti pasta gigi dan deodoran alami buatan sendiri :p :p :p. Kemudian kami berpisah dan saya kembali bersua dengan keluarga di Timor.


Ke Pernikahan Ice dan Rumah Bonita
Teman karib saya semasa SMA, Ice, menikah di Pati. Saya sudah bertekad untuk menghadiri pernikahannya. Saya senang sekali bisa ke Pati dan menemani sahabat saya Ice ala-ala bridesmaid dari persiapan sampai pernikahannya. Senang juga bisa melihat langsung bagaimana proses persiapan pernikahan ala pedesaan di Jawa.
Saya tentu menikmati limpahnya makanan dan kue-kue enak disana. Juga suasana kekeluargaan yang kental. Saya juga suka bagaimana mereka mengorganisir acara pernikahan. Saya sempat ikut rapat keluarga dan ternyata mereka membagi tugas kepanitiaan dengan sangat profesional :)
*btw kusempat menyanyi di pemberkatan pernihakan Iche :')



Semoga hidup bahagia yaaa Iceeee :*


Dari Pati saya lanjut ke Solo mengunjungi teman karib saya semasa kuliah, Bonita. Bonita rela cuti untuk "liburan" bersama saya. Bersama kami nikmati kemah dipinggir pantai, jajanan pasar Gede, es buah yang super banyak, angkringan kota Solo, candi Cetho yang berkabut, kebun teh kemuning, dan sedikit drama bersama adek-adek ganteng :p


Tim kemping di tepi pantai


Yu-Bo-Nik <3


Kami pura-pura model :D

Di depan Keraton Surakarta Hadiningrat

Es buah sebanyak itu harganya dbawah Rp.10.000!!!

Kebun Teh Kemuning :)

Ada yang lucu pokoknya :D

Bo dan Nike di Candi Cetho yang berkabut :) :)



Summer School "Nusantara School of Difference"
Saya ikut kegiatan unik yang diadakan oleh IRGSC (irgsc.org) dan CEDAR (cedarnetwork.org) yaitu summer school "Nusantara School of Difference. Banyak pembelajaran mengenai kepercayaan, sejarah, komunitas LGBT, dan hidup diantara keberagaman. Peserta yang datang dari US, Uganda, Jepang, dan Indonesia tentu membuat pembelajaran tentang keberagaman menjadi semakin kaya.


Pekerjaan
Sebelum kembali ke Indonesia, saya tidak punya persiapan apa-apa untuk melamar pekerjaan. Yang ada dalam pikiran saya hanya kembali ke kampung halaman, makan masakan kampung, dan terbebas dari tanggung jawab orang dewasa :p. Namun ternyata, nganggur berlebih sungguh tak nyaman. Ada dorongan dalam diri untuk segera bekerja dan menjadi berfaedah. Saya mulai melamar di sekian instansi dengan posisi yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi. Lalu melewati rangkaian wawancara dan tes. Barulah di akhir 2017 saya mendapat jawaban karir :)

Reverse Culture Shock?
Awalnya saya berpikir reverse culture shock hanyalah imajinasi belaka. Tapi ternyata ada hal-hal yang memang membuat shock saat kembali ke Indonesia. Pertama, saya jadi gampang flu. Di US saya hampir tidak pernah sakit. Setiba kembali ke kampung halaman, saya mengalami radang tenggorokan dan flu bertubi-tubi. Saya tidak tahu mengapa, apakah kualitas udara atau iklim atau kebersihan secara umum. Intinya sampai saat ini saya sedang berusaha menguatkan kembali sistem imun saya. Semoga tegar kak...

Saya juga agak shock dengan kekerabatan yang intim :p. Selama di US saya begitu menikmati kesendirian dan privasi. Hal yang langka di kehidupan berkomunitas Indonesia ini, teristimewa di kota kecil. Saya jadi gampang teriritasi, bahkan dengan teman-teman saya sendiri yang saya anggap terlalu agresif :D. Kembali lagi, saya beradaptasi untuk hal ini.

Hal yang paling menyebalkan adalah betapa tidak nyamannya berjalan kaki. Teristimewa sebagai perempuan. Kita dilirik dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti hendak diterkam. Lalu dipanggil-panggil layaknya anak ayam yang tersesat. Tidak hanya itu, ditawari ojek dengan genit seperti hidup kita tidak lengkap tanpa mereka. Jijik sekali saya dengan perilaku laki-laki yang proses evolusinya sangat terbelakang itu. Saya sangat rindu jalan kaki di US. Saya bahkan berkali-kali jalan kaki lewat jam 12 malam dan pulang rumah dengan aman.

Kemudian tentu saja budaya antri. Sudahlah yang ini cukup disini, kita sudah tau sakitnya seperti apa :p.


Yoga
Saya tinggal di rumah kontrakan ka Yosua dan ka Sandra di Kupang mulai Juli sampai Desember, sambil sesekali pulang ke Soe. Karena punya banyak waktu kosong saat kembali ke kampung, saya banyak latihan yoga dengan video-video tutorial. Saya menikmati perjalanan Yoga saya. Bisa dibilang, Yoga membantu saya "kembali" ke diri saya.


Berpisah dengan beberapa relasi
Di tahun 2017 saya memutuskan beberapa relasi yang menurut saya sudah waktunya berhenti. Terkadang kita dihadapkan pada 2 hal ini: terus berkompromi dan hidup bersisian atau berjalan sendiri dan merayakan kecenderungan kita. Kebetulan saat itu saya pilih yang kedua. Satu mantra saya: "May all beings be happy and free".


Demikian tahun 2017 bagi saya. Sekali lagi, hanya ini yang terekam dalam memori saya saat ini.
Saya bersyukur untuk semua yang sudah terjadi.
Namaste :*






Sabtu, 28 April 2018

Ndikosapu

Ndikosapu, saat gerimis mendahului kabut
Dan menderas kitapun bergegas
Saling memperhatikan langkah kaki masing-masing
Adakah jalan menuju keabadian
Karena cuaca begitu sempurna untuk roman yang masih muda
Ujung mata kita mencari-cari arah
Apalah daya seorang pemalu yang hanya berbekal kamera
Tersenyumlah kita bersama, berdirilah kita bersisian
Karena jalan berbatu didepan kita
Jangan lelah kita akan saling memandang
Melalui spion yang berembun
Sambil kita menyadari betapa lunaknya kepribadian
Betapa kuatnya ikatan-ikatan tak kasat mata
Betapa lembutnya kabut dihirup
Betapa manisnya teh dihidangkan
Betapa satu hari yang tak terlupakan


Jumat, 19 Januari 2018

Kuda dan Kupu-Kupu

Dari ketinggian Fata Atu terlihat
Kuda dan kupu-kupu makan bersama
Merumput menyeruput sari-sari
Elok dan rukun
Memberkati mata yang lelah

Disapa Ngada

Dahlia, hydrangea, dan aster
Bertebaran di Ngada
Sejuk berhujan
Dingin yang menyuburkan
Dan kelopak-kelopak yang riang

Minggu, 19 November 2017

Lanjutan Teh Kesukaan: Mengunjungi Rumah dan Kebun Teh

Imperial Tea Court, San Fransisco

Seperti cerita sebelumnya di Teh Kesukaan, saya sangat menikmati teh akhir-akhir ini. Saya ingin berbagi kelanjutan cerita pengalaman pribadi minum teh.

Mengikuti napsu insting menikmati teh, saya berkunjung ke sebuah rumah teh bergaya Asia/Cina yang fancy di Ferry Plaza, San Fransisco. Pada waktu itu saya sedang berlibur di San Fransisco setelah didera berbagai tugas mahasiswa. Di SF, saya berencana pergi ke toko-toko yang menjual produk lokal seperti farmers market (farmers market adalah kecintaan saya <3 <3). Saya temukan Ferry Marketplace di Google Map dengan rating yang tinggi dan sayapun berangkat kesana. Sebagai info, saya selalu percaya dengan rating bintang di amazon, google, dan berbagai situs online lainnya.

Saya tidak pergi sendirian melainkan bersama teman baru saya, Fabienne. Kami berkenalan di Green Tortoise Hostel, tempat penginapan hipster dan murmer tempat kami tinggal. Fab berasal dari salah satu kepulauan di Madagaskar. Keren kan? Syukurnya, hostel kami tidak jauh dari Ferry Marketplace, hanya jalan kaki 20 menit. Lokasinya di jajaran "Pier" San Fransisco dengan nomor awal, tidak susah ditemui. Ferry Marketplace ternayata bangunan cukup mewah yang menampung toko-toko kecil yang unik. Dari coffee shop lokal, toko dessert ala prancis, toko makanan sehat, toko perlengkapan rumah tangga berbahan kayu, sampai rumah teh.

Begitu melihat rumah teh Imperial Tea Court, saya dan Fabienne seperti tersambar petir kekaguman. Tidak disangka, kami berdua sama-sama penyuka teh. Waktu itu, satu lagi teman baru kami, Daniel, sudah bergabung. Daniel belum tau banyak tentang teh, tapi beliau tertarik ingin mencoba. Kami bertiga pun masuk ke rumah teh Imperial Tea Court.

Seperti fotonya dibawah, Imperial Tea Court didesain dengan suasana Asia dan Cina khususnya. Perabot, dekorasi, musik, dan para pelayan membuat kami lupa bahwa kami sedang berada di salah satu pusat kota San Fransisco. Disini, puluhan jenis teh dihidangkan dan dijual. Menariknya, cara menghidangkan teh dilakukan seperti budaya minum teh tradisional Cina, dengan menggunakan teko dan cangkir yang khusus.

Pelayan mendemonstrasikan bagaimana cara menyeduh teh dengan keramik-keramik mungil. Kami diberi bekal satu teko air panas mendidih dari tanah liat (bisa diisi ulang), masing-masing satu cangkir penyeduh berisi teh pesanan kami, dan cangkir untuk minum. Pertama, air panas dituang ke dalam cangkir penyeduh, lalu tutup cangkir penyeduh dan tunggu beberapa detik agar daun teh berbaur dengan air panas. Kemudian pegang cangkir penyeduh dengan kedua tangan dengan posisi kedua jempol menahan penutupnya, sisakan sedikit cela untuk air. Lalu balik cangkir penyeduh dan posisikan teh yang tumpah persis di cangkir minum. Segera minum teh seduhan saat masih panas. Begitulah sekilas "ritual" menyeduh teh. Kalau ingin menambah, tinggal diulang lagi prosesnya dari menaruh air panas kedalam cangkir penyeduh.

Kami bertiga menikmati upacara kecil kami sambil bercerita santai. Waktu itu saya memesan Jasmine White Tea, Fabbiene memesan semacam Black Tea, dan Daniel memesan Pu erh Tea. Kami mencicipi teh kami dan teh teman kami :D. Milik saya, tentu saja sangat floral dengan aroma jasmin yang sangat kuat tetapi tetap terasa lembutnya teh putih. Punya Fab lebih berat dan sepat tentu karena jenisnya teh hitam. Yang paling unik adalah teh Daniel. Itu memang pertama kali saya cicipi teh Pu erh. Sangat kuat dengan karakter earthy, seperti ada sensasi tanah. Itu dikarenakan jenis teh tersebut biasanya sudah difermentasi beberapa tahun (bisa sampai puluhan tahun) sebelum dihidangkan.

Untuk harga, tidak bisa dibilang murah. Harga teh tentu bervariasi bergantung jenis teh. Teh yang kami pesan masing-masing berkisar $US 12-15, belum termasuk tip tentunya. Disana juga tersedia berbagai snack dan panganan untuk melegkapi upacara minum teh. Kami tidak memesan karena cukup mahal untuk kantong kami. Kami pun keluar dengan bahagia karena pengalaman mewah tadi dan juga sedikit rasa lapar. Untungnya di depan toko ini ada stand yang menjual bakpao panas langsung dari steamer dan spring roll goreng yang juga masih panas lengkap dengan saosnya. Kami langsung menyerbu tanpa ampun mengingat harganya masing-masing cuma sekitar 3 dollaran :p.

Imperial Tea Court di Ferry Building Marketplace, San Fransisco
(Sumber: ferrybuildingmarketplace dot com)



Teko tanah liat berisi air panas dan cangkir penyeduh teh di Imperial Tea Court, SF


Kebun Teh Kemuning, Jawa Tengah (dekat Solo)

Semua berawal dari kunjungan saya ke kota Solo di bulan Juli 2017. Kunjungan ke Solo merupakan lanjutan dari kunjungan ke Pati. Di Pati saya khusus menghadiri teman karib saya sejak SMA, Iche, yang menikah. Di Solo saya berkunjung ke teman akrab saya juga sejak kuliah, Bonita.

Saya jatuh cinta dengan kota Solo. Saya tidak tahu apa ini kebetulan yang saya temui selama saya disana, atau memang demikian adanya. Saya temui Solo sebagai kota yang nyaman, ramah, dan lembut. Entah bias entah apa, tapi saya ingin berkunjung lagi kesana. Demi bertemu lagi dengan jiwa-jiwa yang lembut dan makanan yang juga enak-enak :D.

Saya diajak plesir oleh Bonita yang demi kedatangan saya rela mengajukan cuti selama beberapa hari. Kami berkunjung ke pantai bersama teman-teman Bonita yang manis-manis. Mereka kebanyakan berjenis kelamin laki-laki yang entah dididik seperti apa sehingga mereka begitu ramah, lembut, dan sopan. Sayang usia mereka masih muda-muda :p :p. Saya senang dan menghargai kelembutan dan kesopanan yang tidak dibikin-bikin <3

Salah satu tujuan berkelana kami adalah ke kebun teh Kemuning. Dari Solo, kami berangkat pagi sekitar jam 6 dengan harapan sampai di Kemuning masih sepi. Ternyata betul, setiba disana matahari baru naik dan embun masih basah. Jauh dari pusat kota, udara yang dihirup sangat segar dan sejuk. Kami menarik napas panjang sambil terpesona dengan pemandangan yang sangat mendamaikan itu. Kalau saya tinggal di Solo, jika sumpek melanda, saya mungkin akan ke kebun teh ini untuk bernapas. Kemuning sendiri tidak begitu jauh dari pusat kota Solo. Karena cukup ngebut, waktu perjalanan kami dari kota tidak sampai 1 jam.

Setelah berfoto ria di sekitaran kebun, kami mampir ke salah satu warung teh di pinggir jalan. Disini banyak warung-warung lesehan dari bambu sepanjang kebun teh. Tersedia juga toilet umum. Kami memesan sarapan ditemani teh panas asli kemuning yang sepat. Minum teh Kemuning dengan pemandangan kebun teh yang asri adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Kebun Teh Kemuning di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 

Rumah Teh Ndoro Donker, Kemuning-Karanganyar

Setelah dari kebun teh Kemuning, kami berkunjung ke Candi Cetho yang cantik dan berkabut. Sepulang dari Candi Cetho, kami pun mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker (RTND). RTND berlokasi di daerah Kemuning, masih di area kebun teh Kemuning. Rumah teh ini bernuansa kebarat-baratan atau mungkin ke-Belanda-an. Mulai dari nama dan logonya, perabotan, dekorasi, sampai makanan yang dihidangkan. Memang bukan konsep lokal, tetapi saya senang dengan suasana dan karakter rumah teh ini. Di dalam gedung nuansanya putih dan memikat, cocok untuk minum-minum cantik. Sedangkan dibagian luar tenda-tenda berjejer bersebelahan langsung dengan kebun teh, sejuk dan lebih santai.


Rumah Teh Ndoro Donker. Sumber: merdeka dot com

Kami memesan beberapa jenis teh, yaitu Teh Raja, White Tea, dan Forest Tea.White tea atau teh putih yang kami pesan hampir tidak terasa. Memang alaminya teh putih itu sangat lembut dan halus karena merupakan kuncup termuda daun teh dan dikeringkan tanpa proses fermentasi, namun yang kami dapatkan di cangkir kami hanya beberapa helai teh putih yang disajikan dalam sebuah teko kecil sehingga rasanya hambar. Saya mengerti memang harga teh putih sangat mahal. Tapi kalau terlalu sedikit pun rasa-rasanya tak berbeda jauh dengan minum air panas saja.

Meski demikian, saya puas dengan teh raja dan forest tea nya. Teh raja hampir seperti teh Oolong rasanya, mild dan aromatik. Sedangkan yang paling menarik hati saya, forest tea, adalah racikan rempah-rempah yang sangat menarik. Selain daun teh, terdapat kayu sacang, kayu manis, dan campuran rempah lainnya. Saya sangat suka teh ini! Kaya rempah, warnanya merah cerah berkat kayu sacang, dan rasa yang kuat dari campuran rempah-rempah. Kalau berkunjung kesini lagi, saya pasti akan memesan kembali Forest Tea :). Snack yang dihidangkan juga enak-enak. Singkong, tahu, atau bitterballen, sangat cocok menemani minum teh sore.

Terdapat toko suvenir di Ndoro Donker. Saya membeli sebungkus teh lokal Kemuning yang dijual disana. Rasanya sepat dan sedikit aroma hangus. Mungkin memang demikian hasil teh dari Kemuning, karena yang saya cicip di warung bambu sepanjang kebun teh juga rasanya mirip.

Kemuning memang indah, peaceful, sejuk, dan menarik. Minum teh di warung bambu atau di rumah teh kebarat-baratan masing-masing mempunyai sensasi yang berbeda <3.


Peace Tea dari Mountain Rose Herbs

Demi menunjang kedamaian hati dan pikiran, saya memesan teh damai atau Peace Tea dari Mountain Rose Herbs saat saya masih di Kansas. Peace tea adalah campuran dari beberapa tanaman yaitu bunga chamomile organik, daun spearmint organik, bunga lavender organik, kayu manis organik, bunga markisa (passionflower) organik, dan bunga mawar organik. Terdengar sangat mendamaikan bukan? :D

Campuran teh ini diracik oleh ahli teh di Mountain Rose Herbs dan bahan-bahan tersebut sudah terbukti atau dipercaya mampu memberikan efek rileks bagi tubuh dan pikiran. Saya sempat minum beberapa kali. Rasanya minty dan aromanya sangat menenangkan. Saya sendiri lebih suka aromanya daripada rasanya :D. Mungkin karena rasa mint yang lebih dominan. Karena saya hanya minum beberapa kali, saya hibahkan sisanya yang masih 90% ke teman saya Zaw yang sepertinya juga sedang membutuhkan kedamaian. Semoga beliau cocok.

Peace Tea by mountainroseherbs dot com


Begitu dulu perjalanan menjelajahi dunia teh. Besok-besok, teh apa lagi ya yang akan dicoba? :)

NB: Kalau ingin lebih memahami rasa teh, sebaiknya minum teh tanpa gula. Saya hampir selalu menyeduh teh tanpa gula untuk menikmati rasa asli teh <3

Senin, 18 September 2017

Panggilan Peregangan - A Call for Stretching

Sekarang ini semakin banyak orang menyadari pentingnya beraktifitas fisik. Bukan hanya orang-orang di kota besar saja yang semakin sering berolahraga. Di kota-kota yang lebih kecil seperti kota Kupang misalnya, masyarakat mulai melek olahraga (physical literate - dari physical literacy). Kupang yang dulu tak begitu banyak terlihat orang-orang berolahraga di tempat umum. Sekarang ini kalau sore hari main ke taman nostalgia, ada banyak masyarakat yang berolahraga, terutama jogging. Bukan hanya itu, klub-klub kesehatan dan fitness center semakin banyak dilirik. Mungkin saja suatu saat pusat-pusat kebugaran akan semakin menjamur di Kupang, menyaingi jumlah cafe-cafe kekinian dan pitrat plus-plus.

Alasan pendorong fenomena ini tentu bermacam-macam. Ayah saya yang berusia 60 tahun berjalan kaki setiap pagi hari buta (jam 4 subuh) sepanjang kurang lebih 6km untuk menjaga kebugaran tubuh yang semakin hari semakin rentan terserang berbagai sindrom metabolik. Anak-anak muda mungkin berusaha membangun otot-otot yang tertidur, atau mengurangi tumpukan lemak di bagian-bagian tertentu - urusan penampilan. Atau ada juga yang berolahraga sebagai bagian dari pembenahan fisik-mental-spiritual, seperti saya yang kehipster-hipsteran ini :p. Intinya, dengan beragam motivasi, masyarakat tua muda semakin gencar olahraga.

Saya senang melihat perubahan ini. Olahraga yang dilakukan dengan baik tentu banyak manfaatnya: lebih bugar, daya tahan fisik meningkat, resiko banyak penyakit berkurang, lebih percaya diri, dan lebih bahagia (ada hormon-hormon yang dilepaskan setelah berolahraga yang menciptakan perasaan bahagia). Oleh karena itu, baik menurut saya jika melihat orang-orang yang memprioritaskan sebagian waktu dan energinya untuk merawat diri dengan melatih tubuh.

Saya ingin berbagi pengalaman pribadi dalam beraktifitas fisik. Sebelumnya, catatan ini sepenuhnya bersifat testimoni pribadi (macam sista-sista di online shop), bukan panduan whatsoever :D. Sejak kecil, olahraga bukanlah prioritas dalam keluarga. Di sekolah, kalau ada pertandingan, saya sudah biasa jadi anak bawang atau pemain cadangan (kecuali di gerak jalan, atau lompat tali yang saya lumayan ahli :p).

Kesadaran berolahraga timbul mula-mula saat kuliah di Malang. Tidak sering, tapi saya lumayan suka jogging. Memasuki tingkat akhir, saya dan teman saya Winda bahkan mendaftarkan diri di fitness center yang merupakan fasilitas kampus. Namun prakteknya tidak dibarengi kedisiplinan. Ditambah juga dengan jurusan kami yang cukup sibuk ke tempat-tempat terpencil untuk berbagai praktek. Sejak saat itu, saya sudah tertarik ingin mengikuti kelas yoga, namun terhambat fasilitas transportasi.

Lalu saat kuliah di Manhattan-KS, saya diherankan dengan minat olahraga dari sesama pelajar maupun masyarakat umum. Mereka "gila" olahraga di segala musim dan waktu! Bukan sesuatu yang asing jika tengah malam saya masih temui orang-orang jogging dalam perjalanan pulang dari perpustakaan ke rumah. Fitness center dan lapangan-lapangan yang merupakan fasilitas kampus selalu ramai dipenuhi berbagai aktivitas. Trotoar jalan yang memang lebar dipakai untuk lari, sepeda, dan skating. Tentu saja saya heran karena hal ini bertentangan dengan fakta-fakta yang saya ketahui sebelumnya, seperti angka obesitas yang tinggi di Amerika. Memang benar angka obesitas tinggi, tetapi mungkin persentasinya lebih besar di kalangan sosial menengah kebawah.

Di fitness center kampus, ada berbagai fasilitas dan kelas yang ditawarkan. Sebut saja yoga dan zumba. Semua perlengkapan dan kelas boleh diikuti secara gratis. Saya sempat ikuti beberapa kelas disana. Masa- masa saya disanalah ketertarikan dan kesadaran saya akan pentingnya berolahraga semakin memuncak. Mungkin saja ini dipancing karena lingkungan saya yang gemar olahraga itu.

Dari semua cabang dan jenis olahraga, yang paling menarik minat saya dari awal adalah yoga. Saya sejak dulu tidak (belum) pernah berminat dengan semua olahraga yang melibatkan bola atau raket :D. Yoga sudah menarik perhatian saya sejak kuliah di Malang dulu, namun baru Manhattan-lah saya pertama kali mengikuti kelas yoga. Walaupun fasilitas sudah tersedia, saya lagi-lagi tidak disiplin. Mungkin minder karena banyak hal yang saya belum pahami, mungkin juga karena tidak cukup sabar dengan proses pembelajaran yang butuh ketekunan dan waktu yang panjang.

Meski begitu, saya tetap bertekad untuk meneruskan pembelajaran. Saya membeli yoga mat. Saya menonton video yoga berjam-jam :p dan men-download video tutorialnya. Saya membeli yoga pants yang ternyata yaampun enak sekali dipakai! (Sampai sekarang saya pakai yoga pants kemana-mana :p). Walaupun sesungguhnya tidak butuh (alasan untuk membeli) pakaian khusus untuk memulai latihan :D.Jangan sampai pakaian yoga >> latihan yoga :p.
Lalu saya belajar sendiri  di kamar saya. PERHATIAN: belajar yoga sebaiknya bersama instruktur terpercaya karena gerakan yang keliru dapat mengakibatkan cedera). Satu hal yang saya sadari di awal pembelajaran adalah betapa kaku dan tidak fleksibelnya tubuh saya :p.

Kesadaran akan tubuh yang tidak fleksibel atau lentur itu awalnya membuat hati menjadi ciut. Menurut pendapat saya, mungkin kesadaran akan tubuh yang tidak cukup fleksibel adalah salah satu alasan mengapa banyak yang menyerah pada yoga diawal masa belajar. Tetapi saya tidak menyerah. Saya latihan terus walaupun saya harus berkeringat dan gemetaran hanya untuk mendekatkan kepala ke lutut (sampai sekarang pun masih gemetaran :D). Hal penting yang saya pelajari disini adalah bahwa tidak butuh tubuh yang fleksibel untuk mempelajari yoga. Kemudian, kelenturan tubuh setiap orang berbeda-beda, dan semua dapat meningkatkan fleksibilitasnya dengan cara latihan secara rutin.

Salah satu yogi idola saya, Laruga Glaser.
Sumber: instagram larugayoga


Seperti layaknya pembelajar yoga, saya melakukan banyak stretching atau peregangan. Saat melakukan gerakan-gerakan stretching itulah saya sadar betapa banyak bagian tubuh saya sangat kaku. Seringkali kita "mengancing" bagian-bagian tubuh kita tanpa disadari dalam beraktivitas maupun berolahraga. Akibatnya otot-otot menjadi kaku dan tidak lentur. Disini, stretching berperan seperti pengurai simpul-simpul yang terikat. Memang pada mulanya stretching bisa mengakibatkan bagian tubuh menjadi sakit. Namun jika dibiasakan, perbedaan akan bisa dirasakan. Otot-otot berangsur rileks (demikian juga pikiran) dan bisa lebih "aware" akan postur tubuh. Seperti ada alarm yang berbunyi jika kita berada di postur yang kurang tepat. Stretching juga menghindarkan kita dari resiko cedera saat beraktivitas.

Berikut salah satu panduan stretching dari seorang mas cakep di YouTube: Klik disini

Anehnya, setelah melakukan stretching sekian waktu, saya mulai menemukan kenikmatan dari peregangan tubuh ini. Saya menemukan nikmatnya merasakan otot-otot tertarik. Sungguh nikmat dan rileksnya sampai-sampai saya pernah jatuh tertidur setelah melakukan sesi yoga yang menekankan stretching. Panduan YouTube-nya klik disini. Lalu jika satu atau dua minggu saya tidak melakukan stretching sama sekali, tubuh saya seperti merengek minta ditarik-tarik :D. Stretching (dan bagi saya juga tentu saja yoga) ternyata nagih. Saya sebut ini sebagai "panggilan peregangan".

Saya merasa lebih bugar dengan rajin melakukan stretching (dalam praktik yoga). Seperti terkoneksi kembali dengan tubuh saya. Memang saya tidak sekonyong-konyong menjadi orang yang lentur. Saya sadar saya bisa lebih fleksibel dengan rutin melatih tubuh. Tentu saat ini saya sudah lebih fleksibel jika dibandingkan saya saat awal berlatih dulu. Ada beberapa gerakan yang saya sadari sudah mengalami kemajuan (walaupun hanya beberapa milimeter mungkin). Namun kembali lagi, dengan lebih "aware" tadi, saya bisa lebih mengenal bagian-bagian tubuh saya, dan semoga tetap rajin berlatih menjadi lebih baik, karena masih banyak sekali yang harus dipelajari.

Salam peregangan :* <3

PS: Setiap orang punya ketertarikan akan aktifitas fisik yang berbeda-beda. Bagi saya mungkin Yoga. Tapi banyak orang yang tidak cocok dengan latihan yang "diam di tempat". Walaupun masing-masing punya minat yang bervariasi, stretching tetap layak dicoba :)

PSS: saya masih setia menonton yogi-yogi berlatih sambil bermimpi satu waktu bisa menjadi seperti mereka :3