Senin, 09 Januari 2017

Diaku

Dia senang menampakkan diri disela-sela aktivitasku
Terkadang kutemui dia terselip diantara lembar-lembar buku
Juga ada disela-sela gumpalan rambut rontok seusai keramas
Atau bersinar-sinar didaerah gelap macam bungkus laptopku
Bagiku janggal jika dia menghampiriku-
Saat aku sedang asyik-asyiknya melipat kantong bekas belanjaan
Mungkin dia suka melihatku kaget
Memangnya dulu-dulu dia sembunyi dimana saja?
Kurasa aku belum cukup tua dan bijak untuk melihatnya terlalu sering
Tapi kusambut jua muncul-munculnya
Kutandai jua jatuh-jatuhnya
Toh dia tak pernah gagal mengingatkanku
Bahwa hidup ada musimnya, juga batasnya
Kalau dahulu segera kulenyapkan saat kutemui dia hidup-hidup
Sekarang malah kusayang-sayang
Kupelihara hingga panjang-panjang
Rambut putihku

Jumat, 06 Januari 2017

Dua Ribu Enam Belas

Kebiasaan menuliskan catatan singkat tentang perjalanan setahun ini saya mulai sejak tahun 2013.
Beberapa menit yang lalu saya terpikir tentang catatan-catatan saya. Sedikit filosofis, terlintas dipikiran saya bahwa sesuatu hal baru bernilai jika kita memberi nilai padanya. Atau bisa juga nilai dari pada sesuatu hal tergantung pada sejauh mana kita mau mengeksplorasi. Lalu eksplorasi pikiran manusia sungguh terbatas dan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Contoh saja mood. Kalau saya sedang memiliki mood jelek contohnya, maka penghayatan tentang tahun 2016 mungkin akan difokuskan pada kemalangan-kemalangan yang terjadi, berbanding kebaikan yang saya nikmati.
Walaupun demikian, menulis sesuatu yang buruk sekalipun kemungkinan lebih baik daripada tidak menuliskannya sama sekali. Karena memang betul penghayatan saya bisa terbatas dan dipengaruhi banyak bias. Namun lebih parah lagi, memori saya bisa jadi lebih banyak cela. Setidaknya ada persediaan untuk bernostalgia di kemudian hari. Meskipun lagi, saya berharap memori saya tidak lantas bergantung pada potingan-postingan blog semata karena banyak hal terjadi dan hampir mustahil menulis setiap detail. Kadang kala sesuatu lebih nyaman dinikmati diam-diam.

---panjangnya pembukaan refleksi bersaing dengan pembukaan UUD '45 :p

Tahun 2016 bagi saya adalah suatu perjalanan spiritual yang panjang, penuh pertanyaan dan perenungan. Disini saya menemukan diri saya yang sebelumnya saya abaikan. Saya kaitkan penemuan diri ini dengan lokasi tempat tinggal saya di Manhattan, Kansas.
Manhattan-Kansas memiliki kondisi berkebalikan dengan Manhattan-New York. Orang Amerika sendiri belum tentu tahu ada Manhattan lain di negara bagian Kansas. Jauh dari kemeriahan kota besar dan perayaan keberagaman. Disini nuansa konservatif sangat kental. Boleh dibilang komunitas di Kansas juga kurang beragam.

Saya sendiri seorang yang sangat liberal dalam berbagai pemikiran. Anehnya, berada di tempat yang sangat konservatif ini justru menjadikan saya terlebih liberal lagi secara pribadi. Mempelajari orang-orang yang sangat relijius membuat saya semakin tidak ingin menjadi seperti mereka. Bukannya saya tidak pernah "walking in their shoes". Saya sudah, bahkan pernah menjadi sangat serius dengan keagamaan. Namun sekali lagi, melihat perilaku kelompok agamis, dan terlebih luas, melihat bagaimana "institusi" agama membentuk pola pikir manusia membuat saya menemukan diri saya saat ini. Membuka pikiran saya selebar-lebarnya. Melihat teori-teori yang dulu saya abaikan (takutkan) sebagai sesuatu yang patut diuji. Menjalani perjalanan spiritual saya.

Sebagaimana sebuah perjalanan, saya tidak berhenti di satu tempat. Saya tidak ingin stuck di satu buku dan satu teori. Saya mencari. Saya bertanya. Banyak bertanya. Tanpa tahu pasti kemana perjalanan ini akan berakhir. Apatah mungkin saya akan berakhir kembali dalam pelukan nyaman kreasionist ataukah berjalan menelusuri misteri demi misteri, ide demi ide, kemungkinan demi kemungkinan.

Walaupun tampak menggairahkan, perjalanan ini cukup mencekam. Bagi saya, masing-masing pribadi menjalani perjalanan spiritualnya sendiri. Di dunia fisik, kita bisa punya teman yang sangat dekat, keluarga, atau pasangan. Namun perjalanan spiritual analisis saya sangat personal. Perdebatan muncul terkadang dari dalam diri sendiri. Tidak ada orang yang bisa sepenuhnya memahami diri kita selain dari kita sendiri, karena jauhnya perjalanan hanya kita yang bisa mengukur. Lalu muncul godaan untuk mempengaruhi orang lain. Menguji siapa yang lebih benar. Kemudian saya sadar bahwa saya perlu menghormati perjalanan orang lain. Semoga saya bisa belajar rendah hati untuk itu.

Gagak yang sedang bermigrasi

Hal-hal yang menyenangkan

Selain bahasan "abstrak" diatas, saya juga menemukan hal lain. Saya jatuh cinta dengan memotret bunga-bunga cantik. Saya temukan kebiasaan ini saat saya sedang melihat-lihat file foto dari kamera saku andalan saya. Ternyata banyak foto bunga didalamnya. Tidak lama kemudian saya membeli kamera baru dengan fitur yang lebih mumpuni dan lensa yang lebih canggih. Saya masih belajar memotret. Selama ini saya sangat menikmati hobi baru tersebut. Saya juga sepertinya lebih peka dalam melihat dan menemukan kecantikan-kecantikan disekitar saya dengan rajin memotret bunga, hewan kecil, burung, atau langit :). Konsekuensinya tentu saja hard disk saya disusupi banyak foto baru. Saya senang.

Belajar memotret bunga :)


Tahun 2016 saya cukup banyak jalan-jalan. Di bulan Januari saya disibuki kakak saya yang menikah :p. Saya ke Soe, sempat jalan2 sedikit, juga ke Kupang. Saya bertemu banyak keluarga dan sahabat.  Walaupun banyak drama dan penyiksaan emosi, saya senang bisa pulang sebentar ke Soe :). Eksploitasi perasaan bisa jadi lebih baik dari mati rasa :D. Saya bertemu dua laki-laki muda, Ferdy dan Max :p.

Dengan sahabat saya Inri di Pantai Lasiana, Kupang

Air Terjun Oehala, Soe (Foto oleh mas Ferdy :D)

Spring break di bulan Maret saya pergi ke Colorado bersama keluarga Pak Ruli & Kak Shima, juga mbak Tia. Perjalanan ini sangat menyenangkan dan Colorado sangat mempesona. Saya berhutang cerita di blog.

Colorado terlalu cantik dan megah <3
Mbak Tia dan saya difoto oleh Kak Shima

Lalu summer break saya pergi ke beberapa tempat ikoniknya US: Chicago, New York, Washington DC, dan Philadelphia. Sangat seru karena saya mengatur perjalanan sendiri dan juga berkelana sendiri. Saya senang. Lagi-lagi, saya berhutang cerita disini.

Brooklyn Bridge - New York City, tampak beberapa orang sedang menyematkan gembok (atau apa saja yang bisa ditautkan) ke sisi jembatan 

Satu pengalaman baru yang saya alami disini adalah mengganti major advisor alias dosen pebimbing akademik saya. Pergantian ini semata-mata karena saya merasa perlu lebih dekat ke arah gizi komunitas. Dosen pembimbing akademik saya yang lama menurut saya sangat brilian. Saya ikut dua mata kuliah wajib yang beliau pegang. Dua-duanya brilian. Beliau mengajar dengan unik dan padat materi. Setiap keluar dari kelas beliau, saya merasa otak saya berkeringat :D. Selalu ada diskusi-diskusi panjang yang memicu pelajar untuk berpikir lebih dalam. Hal tersebut membuat pelajaran tertanam didalam otak. Saya pikir  begitulah kelas perkuliahan yang ideal. Akan tetapi, beliau punya fokus dan ketertarikan tentang topik yang mungkin berbeda dengan yang ingin saya gali.

Yang menarik dari pergantian dosen pembimbing ini adalah profesionalitas dari dosen-dosen yang saya ganti. Mereka membuat prosesnya sangat mudah dan bebas dari sentimental pribadi. Walaupun sebenarnya saya sudah membangun "bonding" dengan advisor lama saya, beliau menyamankan saya dengan berkata bahwa beliau tidak akan sakit hati, semua keputusan ada ditangan saya. Sayalah yang menentukan pilihan-pilihan untuk pengalaman akademik saya. Saya lega. Sebagai informasi, beliau menjadi dosen pembimbing saya diawal perkuliahan karena sudah diatur oleh kampus dan manajemen beasiswa saya. Saya beruntung. Saya pikir saya belajar banyak dari pembimbing lama dan pembimbing baru saya sekaligus. Privilege dan kemudahan pergantian dosen ini adalah suatu pengalaman berharga yang mungkin sulit ditemukan di budaya timur.

Tentang pembimbing yang baru, beliau berusaha memompa semangat saya dan mendorong saya untuk berani dan terus maju. Baru-baru ini beliau mengundang saya ke rumahnya untuk jamuan minum sebelum natal. Kami duduk berdua di depan pohon natal baru yang megah dan sudah dihias cantik, diiringi musik natal, minum teh Indonesia, dan cookies yang baru dipanggang oleh beliau sendiri. Tidak sampai disitu, pulangnya saya mendapatkan bingkisan natal dari beliau. Saya terharu sekali. Beliau sosok yang profesional dan compassionate di saat yang bersamaan.

Bingkisan natal dari dosen pembimbing :')

Tahun ini saya membeli kindle (e-book reader device) karena saya sadar tentang dua hal. Pertama; buku adalah bawaan yang berat. Tidak praktis sekali memboyong buku kemana-mana. Walaupun saya sangat suka buku "fisik" yang bisa dipegang, dilipat, ditandai, dipinjam, disumbang, pada akhirnya saya putuskan untuk belajar membaca e-book. Semua demi alasan kepraktisan. Kedua; tidak semua buku bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia. Terlebih di NTT. Mempertahankan akun di amazon akan mempermudah saya kedepan saat pulang ke Indonesia, untuk memperoleh buku yang saya inginkan. Ketiga; (padahal katanya dua hal :p) tidak perlu repot memikirkan ongkos kirim dan kapan buku yang diinginkan tiba karena dengan Kindle (atau situs dan e-book reader lainnya) buku datang kurang dari 5 menit setelah pemesanan. Saya sudah mencoba membaca buku-buku via kindle device. Praktis dan tidak menyakitkan mata. Saya puas dan bahagia.

Kindle Paperwhite :) 


Saya menikmati proses masak-memasak. Saya mencoba berbagai masakan dan bahan makanan. Proses trial and error :D. Saya menemukan kepuasan setiap kali berhasil membuat suatu hidangan, yang paling sederhana sekalipun. Saya menjadi lebih percaya diri dalam memasak. Walaupun bahan-bahan makanan dan bumbu-bumbu disini rasanya berbeda sekali dengan yang di Indonesia, perkakas dan fasilitas dapur yang lengkap membuat semuanya mudah saja. Terutama built in oven dan air keran siap minum panas dinginnya. Akan saya nikmati fasilitas ini selagi ada :D

Onde-onde/klepon perdana bikinan kak Siti dan saya :D

Sudah satu setengah tahun ajaran saya lewati. Saya sekarang memasuki semester yang baru dan sangat berharap inilah semester terakhir saya.

Saya tidak tahu bagaimana merangkum tahun 2016 dalam satu kalimat singkat. Terlalu kompleks. Selain hal-hal diatas saya mengalami banyak hal lain yang aneh-aneh, sedih-sedih, banyak ketidakpastian, banyak bergulat dengan motivasi, dan macam-macam perasaan, pengalaman, dan petualangan yang membaur menjadi sesuatu yang tidak begitu mudah dijelaskan. Boleh saya katakan, ini bukan tahun paling menyenangkan buat saya. Tetapi dari segi pembelajaran, mungkin saya cukup belajar banyak. Saat tahun 2017 datang, saya merasa lega.

Saya ingin menikmati tahun yang baru ini. Saya yakin akan banyak hal baru yang saya alami. Saya mau menikmati hidup saya. Tidak mau terlalu serius dengan hidup. Mau memfokuskan diri ke hal-hal sederhana seperti menikmati teh, bunga-bunga cantik, makanan-makanan enak, dan orang-orang baik.

Saya berharap semua juga menikmati hidupnya masing-masing. Kenyataan bahwa kita masih bertahan hidup ditengah banyak tantangan, lebih dari pada itu, masih punya niat yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, patut disyukuri.

Selamat tahun baru <3



Bulan dan langit pink <3 <3

Rabu, 28 Desember 2016

Gulai Cumi ala Kak Shima

Resep gulai cumi ala Kak Shima:
*Porsi tergantung jumlah cumi dan jumlah bumbu
*Takaran bebas, ilmu kira-kira

Bahan:
Cumi
Santan kelapa (3/4 sampai 1 kaleng santan kira-kira)
Cabai (boleh cabe besar atau rawit)
Bawang merah
Kemiri (boleh ada boleh tidak) *saya pakai, di sangrai sedikit
Kunyit segar
Tomat, dipotong 4-6 bagian
Serai
Daun jeruk
Terasi sedikit saja *saya pakai terasi, sedikit disangrai juga

Caranya:
# Haluskan bawang merah, cabai merah, kunyit hidup, kemiri dan terasi (pakai blender, atau manual, sampai halus betul)
# Tumis bumbu halus dengan sedikit minyak. Masukkan serai dan daun jeruk biar wangi. Tumis sampai masak dan sedikit berminyak
# Masukkan 2 atau 3 gelas santai cair (santan plus air). Kalau sudah mendidih, masukkan cumi dan diikuti santan yg kental.
# Tambahkan garam dan boleh tambah sedikit gula kalau mau
# Masukkan tomat juga yg sudah di potong. 
# Masak sebentar hingga mendidih lagi atau sampai cuminya masak
Siap di hidangkan <3

*Resep saya copy-paste dari pesan messenger kak Shima, sedikit diedit :D
*Kak Shima itu jagoan masak se-Manhattan-Kansas, sekarang sudah kembali ke Medan
*Lumayan berhasil. Kalau cumi lebih segar pasti hasil jadi lebih sedaaap
*Dimakan dengan nasi panas...Amboiii






Tart Susu Kampung Maleset

Resep Tart Susu Ibu Frans (mama :p)*
*bisa jadi 12 potong

Bahan:
1 gelas gula pasir
1 gelas susu bubuk
2 butir telur ayam
3 sdm mentega dicairkan (saya pakai butter)
2 gelas terigu
4 gelas air (karena disini yang ada susu sapi siap minum, saya ganti susu bubuk dengan 4 gelas susu sapi, jadi tanpa air)

Cara membuat :
1. Kocok gula, mentega, telur, susu sekaligus
2. Setelah tercampur rata, masukkan terigu bergantian dgn air sampai habis (mixer pelan) --> saya kocok manual :D
3. Siapkan pan, oles dgn mentega
4. Masukkan campuran ke pan, oven kurang lebih 1 jam, setelah matang diangkat.

**Ini resep saya copy-paste dari pesan whatsapp mama. Hahaha
Lumayan berhasil :)

Tart susu perdana

Selasa, 27 Desember 2016

Teh Kesukaan

Saya sedang cinta-cintanya dengan minum teh.
Entah kesambet apa, tiba-tiba saya jadi menikmati sekali minum minuman paling populer kedua di dunia ini. Kedua terpopuler karena yang pertama masih diduduki air putih. hehehe
Yang jelas, minum teh bagi saya jadi semacam ritual menyenangkan.
Saya tidak mengarah ke penjelasan sejarah teh disini. Walaupun menarik sebenarnya, tapi saya pikir wikipedia lebih jago dalam hal itu :p.

Di amazon.com kayaknya :p


Pada semester Fall 2016 yang baru saja lewat saya mengambil mata kuliah wajib Functional Food. Teh digolongkan dalam Functional Food. Artinya minuman ini memiliki fungsi kesehatan lebih selain dari pada fungsinya sebagai pelepas dahaga (*pelepas dahagaaaa). Hasil penelitian, walaupun tidak konsisten, menunjukkan adanya hubungan minum teh (terutama teh hijau) dan penurunan resiko penyakit jantung, kanker, juga menurunkan berat badan karena teh kaya akan senyawa poliphenol. Walauuu, sebenarnya tidak bisa kita harapkan kesehatan terjadi hanya dari minum teh saja. Intinya, teh "mungkin" punya beberapa manfaat kesehatan.

Membuat teh itu sebenarnya ada seninya. Dari mendidihkan air, mendiamkan/memfilter/menyeduh, lalu mencampuri pemanis. Kalau proses ini dinikmati tentu menyenangkan. Mencium bau teh itu semacam terapi (orang yang senang menyebut kata "terapi" itu kemungkinan punya banyak pikiran :p). Bau teh itu menenangkan. Ada beragam jenis teh di pasaran. Masing-masing punya ciri dan kenikmtan yang berbeda. Saya ingin berbagi beberapa jenis teh yang saya senangi akhir-akhir ini.

# Tong Tji Teh Melati

Teh Melati nya Tong Tji (tongtji.com)

Ini perpaduan teh hijau dan melati yang lembut dan harum. Karena teh-nya teh hijau, rasanya lebih lembut dan tidak ada after taste masam atau pahit. Saya coba bikin pakai coffee maker dengan cara taburkan tehnya ke dalam filter. Alasannya selain keren (:p) supaya aroma dan sari-sari teh nya lebih keluar. Satu sachet bisa jadi 3 cup teh dengan menggunakan coffee maker.

Ilustrasi coffee maker yang ternyata efektif sebagai pembuat teh
(goodhousekeeping.com)

# Teh Sariwangi
Saya tumbuh besar dengan sari-sarinya teh Sariwangi :p. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi, teh ini begitu terkenal hingga ke pelosok nusantara. Minum teh ini bikin anak rantau seperti saya ingat rumah. Teh Sariwangi ini terbuat dari teh hitam. Karena sudah melalui proses fermentasi, rasanya sedikit pekat dan sedikit sensasi masam-pahit. Saya juga meraciknya dengan coffee maker.

Teh Sariwangi (mari-bicara.com)

# Teh Yamamotoyama
Buset nama apa itu? :p. Teh asal Tokyo ini di klain sudah dibuat sejak tahun 1690. Ckck. Saya awalnya hanya ingin coba-coba teh ini waktu ketemu di asian market. Selanjutnya? Ketagihan.
Saya baru coba dua jenis saja, Teh oolong dan teh melati nya. Teh melatinya menurut saya agak sedikit tajam dan rasa melatinya melampaui rasa tehnya. Sedangkan teh oolong-nya favorit saya. Teh oolong adalah teh yang setengah difermentasi sehingga rasanya tidak sepekat black tea. Lembut tapi kesat dan tidak asam. Lezat :)


yamamotoyama.com
# Teh Tong Tji Super Loose Leaf
Masih merk Tong Tji, yang satu ini bukan jenis teh celup melainkan daun teh kering yang tidak dihaluskan (loose leaf) dengan campuran melati. Jadi rasanya tentu saja bisa dibayangkan: lebih kaya dan lebih pure. Aroma yang keluar juga lebih kuat. Kalau saya hirup biasanya orang timur bilang mata putih sampai terbalik (macam mana pula itu :D). Menurut saya si penikmat teh amatir, teh ini juara.  Sengaja ingin menjaga kekuatan rasanya, saya seduh teh ini dengan menggunakan tea filter.

Teh Tong Tji Super Loose Tea kemasan lama, amazon.com

Ilustrasi Tea Filter, amazon.com

# Thai Tea
Seperti namanya, Thai tea berasal dari Thailand. Thai tea sebenarnya saya golongkan sebagai minuman ringan. Menikmati Thai tea bagi saya tidak seperti menikmati teh-teh lainnya diatas. Dia lebih menjurus ke minuman "dessert". Ciri khas Thai Tea adalah warnanya yang orange pekat. Awalnya saya pikir "jenis teh apa ini yang warnanya oranye? Ternyata teh nya ditambahkan bahan pewarna. Begitulah. Pembuatannya biasa dicampurkan dengan gula dan krimer atau susu. Karena rasanya yang nikmat, teh Thailand ini cukup terkenal dan sering ditemukan di asian market maupun restoran asia.

Thai Tea "Pantai" ebay.com

Ilustrasi Thai Tea 11street.com


Sekian dulu, selamat nge-teh :)

Minggu, 25 Desember 2016

Its the end of 2016 already. Finally!
Whats that in "finally"? 
I don't know.
It was just an expression.
But whether it was me being happy for almost finishing an awful year of my life,
Or it was just a mere celebration of being alive.
No idea.

I am having a hard time defining myself. Again.
When I was a teen, I thought that mid twenties people are so mature and stable. 
It might be well applied for other people. Although I am not very sure.
My mid twenties is not so cool really.
I don't know what I am doing,
I hate myself,
I have such a tiny willpower that sometimes I feel like I am ready to die in any second, 
'cos what is the difference anyway?

I used to think that I had found my passion.
Now I am continuously checking on my inner excitement about the area.
Because I am somewhat designed to be a doubter.
Its my job to question stuff.
Until the deadline come and forcefully drag me from a total Absurd to become a lame believer.

I guess evolution has been adding too much complexity on human race.
I found my self being less care nowadays.
Or maybe its just me being tired of pretend that I cared.
No I am no angel or deity-like figure. I am getting over those imagination.
Guess I am pretty much a piece of ever questioning material still floating in this enormous universe.

Right now I feel like a homeless person.
I once felt sorry about a homeless couple in a New York subway.
Well, better feel sorry about myself now because my homelessness is not the absence of building but the presence of self-redefining.
What makes me better is imagining myself as a philosopher.
Since I doubt and question nearly all time, I am happy whenever I found any men with the same features.

Just like other beings, I am growing old.
I realize that every second brings me closer to the mortality.
Oh my, I should make my life pleasurable then!
Because I do not want to spend my life questioning the true meaning.
I am not even sure that such thing is exist.
I am going to make my life a home for myself by living the ideas of my own, my choice.
Trying my best embracing the absurdity.

Rabu, 30 November 2016

Menua

Bicaramu menghalus, suaraku membulat
Jalanmu memelan, langkahku mendewasa
Obat-obatmu bertambah, krim wajahku bervariasi
Kulitmu mengendor, ubanku bermunculan
Sakitmu menyerang, tidurku tertunda
Tekanan darahmu naik, garamku kujaga
Batukmu memanjang, bersin-bersinku stabil
Pendengaranmu melemah, mataku lelah
Kita sejaring, menua bersama
Sakit kita, merata terbagi
Bahagia kita, mungkinkah itu?


Manhattan-KS,
30 November 2016