Selasa, 21 Maret 2017

Bagaimana Mungkin Saya Tidak Jatuh Cinta pada Musim Semi

Merayakan hari pertama musim semi 2017, berikut saya bagikan beberapa foto mekarnya awal semi tahun ini. Saya pencinta musim semi. Setelah berbulan-bulan musim gugur dan salju dimana semuanya cokelat, kelabu, dan dorman, musim semi mendorong kuncup-kuncup bermunculan, warna-warni kembali, bunga-bunga sibuk bereproduksi, menebarkan bau harum yang menggoda, aroma energi kehidupan.

Kuncup-kuncup putih yang bermunculan serentak pada sebuah pohon

Kalau bunganya diperbesar, seperti ini tampilannya :)

Bunga Magnolia Pink

Tangkai Magnolia Pink

Pohon Magnolia yang Dipenuhi Bunga 

Magnolia Pink mencerminkan self-care and keutuhan


Favorit saya: Magnolia Putih

Magnolia Putih mencerminkan pemenuhan spiritual, awakening, dan kedamaian

Gentle White Magnolia
"Magnolia, you sweet thing. You're driving me mad" (JJ Cale)

Kuncup dan bunga Magnolia mekar

Kampus dan Magnolia

Pertemuan Winter dan Spring

Tupai-tupai keluar mencari makan

Tampak depan Dickens Hall

Kuncup Magnolia

Magnolia Putih

Dancing Petals

Magnolia bunga yang mirip bunga teratai/lotus

Seperti Magnolia, bunga Daffodils adalah contoh bunga yang muncul
di awal musim semi

Daffodil putih dengan "terompet" oranye

Tupai-tupai asik mengendus makanan

Mekarnya bunga Hyacinth Pink: sangat dreamy!

Semua foto saya ambil di area kampus Kansas State University. 
Saya harap foto bisa menjelaskan kecantikan bunga-bunga ini serta suasana musim semi. Hanya saja, mereka jauh lebih cantik dan ajaib daripada yang bisa saya tampilkan.
Bagaimana mungkin saya tidak jatuh cinta pada musim semi?!
Selamat merayakan kehidupan <3

Manhattan, Kansas,
Hari pertama musim semi 2017, Senin 20 Maret.

Minggu, 26 Februari 2017

Snowflakes

Snowflakes atau kepingan salju menurut saya adalah salah satu hal paling indah dan magical di dunia ini. Mungkin karena bentuk heksagonalnya yang sempurna dengan fiturnya yang putih transparan dan berkilauan. Ditambah lagi momen jatuhnya yang sangat graceful.

Snowflake yang mendarat di mantel saya <3

Bertemu dengan snowflakes itu untung-untungan. Tidak semua hujan salju menurunkan snowflakes. Terkadang yang jatuh saat salju adalah bulatan-bulatan air seperti pasir, bukan dalam bentuk heksagonal yang tipis. Ini sangat bergantung pada faktor-faktor seperti lapisan temperatur dan kekuatan angin.

Winter kali ini cuacanya berbeda dengan kali lalu. Salju turun di pertengahan Desember dimana suhu sangat dingin (mencapai minus 20 celcius) disertai angin kencang. Saya lebih banyak memilih tinggal di rumah saja. Memasuki Februari, anehnya, cuaca menghangat dan tidak ada lagi tanda-tanda salju turun. Bahkan terkadang suhu mencapai diatas positif 20 celcius. Banyak orang bilang winter kali ini "hangat",  salju yang turun pun tak banyak.

Saya juga bersyukur saja dengan suhu yang mulai menghangat. Namun terkadang rindu juga dengan salju karena saya akan pulang ke Indonesia pertengahan tahun ini. Tidak tahu kapan lagi bisa nikmati salju. Maka saat kemarin (24/2) pagi (siang sih :p) saya bangun tidur dan melihat di jendela ada salju turun, saya kegirangan bukan kepalang. Tanpa cuci muka dan sikat gigi, saya segera pakai legging winter, mantel, sarung tangan, dan penutup telinga untuk menikmati salju kaget itu. Tidak lupa saya membawa kamera saya.

Salju kemarin sangat spesial. Pertama, kemungkinan itu salju terakhir untuk winter kali ini. Yang kedua, salju kemarin itu banyak snowflakes-nya!!!! Saya pun semangat jepret sana jepret sini.
Baru kemudian saya sadari, memotret snowflakes ternyata tidak mudah. Ukurannya yang kecil, mudah diterbangkan angin, dan gampang cair membuat saya sulit mengambil gambar mereka. Apalagi suhunya dingin, maunya cepat-cepat jepret saja. Alhasil foto blur dan goyang jauh lebih banyak dari yang baik.

Berikut saya tampilkan foto-foto kemarin. Foto-foto ini sangat jauh sekali dari snowflakes yang asli, tidak mampu menampilkan kecantikan mereka. Tapi setidaknya bisa menyimpan memori saya. 

Dua snoflakes mungil


Ukuran snowflakes yang sangat kecil


Masing-masing snowflake punya karakteristik yang berbeda-beda


Yang ini bentuknya mirip bunga


Di latar kontras mereka terlihat lebih jelas


Salah satu foto yang cukup jelas











Kalau ada matahari mereka bisa bersinar-sinar








Tampak jauh: tidak semua snowflakes mendarat dengan ukuran sempurna.
Kalau mereka mendarat terlalu keras, bentuknya langsung hancur

























Thank you for showing up so gracefully, till we meet again, Snowflakes :* <3

NB:
Sebagai penghibur mata yang lelah karena banyak blur, ini foto snowflake yang super real dari fotografer Rusia, mas Alexey Kljatov:

Real Snowflake Macro Photo by Alexey Kljatov @ 500px(dot)com


Senin, 09 Januari 2017

Diaku

Dia senang menampakkan diri disela-sela aktivitasku
Terkadang kutemui dia terselip diantara lembar-lembar buku
Juga ada disela-sela gumpalan rambut rontok seusai keramas
Atau bersinar-sinar didaerah gelap macam bungkus laptopku
Bagiku janggal jika dia menghampiriku-
Saat aku sedang asyik-asyiknya melipat kantong bekas belanjaan
Mungkin dia suka melihatku kaget
Memangnya dulu-dulu dia sembunyi dimana saja?
Kurasa aku belum cukup tua dan bijak untuk melihatnya terlalu sering
Tapi kusambut jua muncul-munculnya
Kutandai jua jatuh-jatuhnya
Toh dia tak pernah gagal mengingatkanku
Bahwa hidup ada musimnya, juga batasnya
Kalau dahulu segera kulenyapkan saat kutemui dia hidup-hidup
Sekarang malah kusayang-sayang
Kupelihara hingga panjang-panjang
Rambut putihku

Jumat, 06 Januari 2017

Dua Ribu Enam Belas

Kebiasaan menuliskan catatan singkat tentang perjalanan setahun ini saya mulai sejak tahun 2013.
Beberapa menit yang lalu saya terpikir tentang catatan-catatan saya. Sedikit filosofis, terlintas dipikiran saya bahwa sesuatu hal baru bernilai jika kita memberi nilai padanya. Atau bisa juga nilai dari pada sesuatu hal tergantung pada sejauh mana kita mau mengeksplorasi. Lalu eksplorasi pikiran manusia sungguh terbatas dan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Contoh saja mood. Kalau saya sedang memiliki mood jelek contohnya, maka penghayatan tentang tahun 2016 mungkin akan difokuskan pada kemalangan-kemalangan yang terjadi, berbanding kebaikan yang saya nikmati.
Walaupun demikian, menulis sesuatu yang buruk sekalipun kemungkinan lebih baik daripada tidak menuliskannya sama sekali. Karena memang betul penghayatan saya bisa terbatas dan dipengaruhi banyak bias. Namun lebih parah lagi, memori saya bisa jadi lebih banyak cela. Setidaknya ada persediaan untuk bernostalgia di kemudian hari. Meskipun lagi, saya berharap memori saya tidak lantas bergantung pada potingan-postingan blog semata karena banyak hal terjadi dan hampir mustahil menulis setiap detail. Kadang kala sesuatu lebih nyaman dinikmati diam-diam.

---panjangnya pembukaan refleksi bersaing dengan pembukaan UUD '45 :p

Tahun 2016 bagi saya adalah suatu perjalanan spiritual yang panjang, penuh pertanyaan dan perenungan. Disini saya menemukan diri saya yang sebelumnya saya abaikan. Saya kaitkan penemuan diri ini dengan lokasi tempat tinggal saya di Manhattan, Kansas.
Manhattan-Kansas memiliki kondisi berkebalikan dengan Manhattan-New York. Orang Amerika sendiri belum tentu tahu ada Manhattan lain di negara bagian Kansas. Jauh dari kemeriahan kota besar dan perayaan keberagaman. Disini nuansa konservatif sangat kental. Boleh dibilang komunitas di Kansas juga kurang beragam.

Saya sendiri seorang yang sangat liberal dalam berbagai pemikiran. Anehnya, berada di tempat yang sangat konservatif ini justru menjadikan saya terlebih liberal lagi secara pribadi. Mempelajari orang-orang yang sangat relijius membuat saya semakin tidak ingin menjadi seperti mereka. Bukannya saya tidak pernah "walking in their shoes". Saya sudah, bahkan pernah menjadi sangat serius dengan keagamaan. Namun sekali lagi, melihat perilaku kelompok agamis, dan terlebih luas, melihat bagaimana "institusi" agama membentuk pola pikir manusia membuat saya menemukan diri saya saat ini. Membuka pikiran saya selebar-lebarnya. Melihat teori-teori yang dulu saya abaikan (takutkan) sebagai sesuatu yang patut diuji. Menjalani perjalanan spiritual saya.

Sebagaimana sebuah perjalanan, saya tidak berhenti di satu tempat. Saya tidak ingin stuck di satu buku dan satu teori. Saya mencari. Saya bertanya. Banyak bertanya. Tanpa tahu pasti kemana perjalanan ini akan berakhir. Apatah mungkin saya akan berakhir kembali dalam pelukan nyaman kreasionist ataukah berjalan menelusuri misteri demi misteri, ide demi ide, kemungkinan demi kemungkinan.

Walaupun tampak menggairahkan, perjalanan ini cukup mencekam. Bagi saya, masing-masing pribadi menjalani perjalanan spiritualnya sendiri. Di dunia fisik, kita bisa punya teman yang sangat dekat, keluarga, atau pasangan. Namun perjalanan spiritual analisis saya sangat personal. Perdebatan muncul terkadang dari dalam diri sendiri. Tidak ada orang yang bisa sepenuhnya memahami diri kita selain dari kita sendiri, karena jauhnya perjalanan hanya kita yang bisa mengukur. Lalu muncul godaan untuk mempengaruhi orang lain. Menguji siapa yang lebih benar. Kemudian saya sadar bahwa saya perlu menghormati perjalanan orang lain. Semoga saya bisa belajar rendah hati untuk itu.

Gagak yang sedang bermigrasi

Hal-hal yang menyenangkan

Selain bahasan "abstrak" diatas, saya juga menemukan hal lain. Saya jatuh cinta dengan memotret bunga-bunga cantik. Saya temukan kebiasaan ini saat saya sedang melihat-lihat file foto dari kamera saku andalan saya. Ternyata banyak foto bunga didalamnya. Tidak lama kemudian saya membeli kamera baru dengan fitur yang lebih mumpuni dan lensa yang lebih canggih. Saya masih belajar memotret. Selama ini saya sangat menikmati hobi baru tersebut. Saya juga sepertinya lebih peka dalam melihat dan menemukan kecantikan-kecantikan disekitar saya dengan rajin memotret bunga, hewan kecil, burung, atau langit :). Konsekuensinya tentu saja hard disk saya disusupi banyak foto baru. Saya senang.

Belajar memotret bunga :)


Tahun 2016 saya cukup banyak jalan-jalan. Di bulan Januari saya disibuki kakak saya yang menikah :p. Saya ke Soe, sempat jalan2 sedikit, juga ke Kupang. Saya bertemu banyak keluarga dan sahabat.  Walaupun banyak drama dan penyiksaan emosi, saya senang bisa pulang sebentar ke Soe :). Eksploitasi perasaan bisa jadi lebih baik dari mati rasa :D. Saya bertemu dua laki-laki muda, Ferdy dan Max :p.

Dengan sahabat saya Inri di Pantai Lasiana, Kupang

Air Terjun Oehala, Soe (Foto oleh mas Ferdy :D)

Spring break di bulan Maret saya pergi ke Colorado bersama keluarga Pak Ruli & Kak Shima, juga mbak Tia. Perjalanan ini sangat menyenangkan dan Colorado sangat mempesona. Saya berhutang cerita di blog.

Colorado terlalu cantik dan megah <3
Mbak Tia dan saya difoto oleh Kak Shima

Lalu summer break saya pergi ke beberapa tempat ikoniknya US: Chicago, New York, Washington DC, dan Philadelphia. Sangat seru karena saya mengatur perjalanan sendiri dan juga berkelana sendiri. Saya senang. Lagi-lagi, saya berhutang cerita disini.

Brooklyn Bridge - New York City, tampak beberapa orang sedang menyematkan gembok (atau apa saja yang bisa ditautkan) ke sisi jembatan 

Satu pengalaman baru yang saya alami disini adalah mengganti major advisor alias dosen pebimbing akademik saya. Pergantian ini semata-mata karena saya merasa perlu lebih dekat ke arah gizi komunitas. Dosen pembimbing akademik saya yang lama menurut saya sangat brilian. Saya ikut dua mata kuliah wajib yang beliau pegang. Dua-duanya brilian. Beliau mengajar dengan unik dan padat materi. Setiap keluar dari kelas beliau, saya merasa otak saya berkeringat :D. Selalu ada diskusi-diskusi panjang yang memicu pelajar untuk berpikir lebih dalam. Hal tersebut membuat pelajaran tertanam didalam otak. Saya pikir  begitulah kelas perkuliahan yang ideal. Akan tetapi, beliau punya fokus dan ketertarikan tentang topik yang mungkin berbeda dengan yang ingin saya gali.

Yang menarik dari pergantian dosen pembimbing ini adalah profesionalitas dari dosen-dosen yang saya ganti. Mereka membuat prosesnya sangat mudah dan bebas dari sentimental pribadi. Walaupun sebenarnya saya sudah membangun "bonding" dengan advisor lama saya, beliau menyamankan saya dengan berkata bahwa beliau tidak akan sakit hati, semua keputusan ada ditangan saya. Sayalah yang menentukan pilihan-pilihan untuk pengalaman akademik saya. Saya lega. Sebagai informasi, beliau menjadi dosen pembimbing saya diawal perkuliahan karena sudah diatur oleh kampus dan manajemen beasiswa saya. Saya beruntung. Saya pikir saya belajar banyak dari pembimbing lama dan pembimbing baru saya sekaligus. Privilege dan kemudahan pergantian dosen ini adalah suatu pengalaman berharga yang mungkin sulit ditemukan di budaya timur.

Tentang pembimbing yang baru, beliau berusaha memompa semangat saya dan mendorong saya untuk berani dan terus maju. Baru-baru ini beliau mengundang saya ke rumahnya untuk jamuan minum sebelum natal. Kami duduk berdua di depan pohon natal baru yang megah dan sudah dihias cantik, diiringi musik natal, minum teh Indonesia, dan cookies yang baru dipanggang oleh beliau sendiri. Tidak sampai disitu, pulangnya saya mendapatkan bingkisan natal dari beliau. Saya terharu sekali. Beliau sosok yang profesional dan compassionate di saat yang bersamaan.

Bingkisan natal dari dosen pembimbing :')

Tahun ini saya membeli kindle (e-book reader device) karena saya sadar tentang dua hal. Pertama; buku adalah bawaan yang berat. Tidak praktis sekali memboyong buku kemana-mana. Walaupun saya sangat suka buku "fisik" yang bisa dipegang, dilipat, ditandai, dipinjam, disumbang, pada akhirnya saya putuskan untuk belajar membaca e-book. Semua demi alasan kepraktisan. Kedua; tidak semua buku bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia. Terlebih di NTT. Mempertahankan akun di amazon akan mempermudah saya kedepan saat pulang ke Indonesia, untuk memperoleh buku yang saya inginkan. Ketiga; (padahal katanya dua hal :p) tidak perlu repot memikirkan ongkos kirim dan kapan buku yang diinginkan tiba karena dengan Kindle (atau situs dan e-book reader lainnya) buku datang kurang dari 5 menit setelah pemesanan. Saya sudah mencoba membaca buku-buku via kindle device. Praktis dan tidak menyakitkan mata. Saya puas dan bahagia.

Kindle Paperwhite :) 


Saya menikmati proses masak-memasak. Saya mencoba berbagai masakan dan bahan makanan. Proses trial and error :D. Saya menemukan kepuasan setiap kali berhasil membuat suatu hidangan, yang paling sederhana sekalipun. Saya menjadi lebih percaya diri dalam memasak. Walaupun bahan-bahan makanan dan bumbu-bumbu disini rasanya berbeda sekali dengan yang di Indonesia, perkakas dan fasilitas dapur yang lengkap membuat semuanya mudah saja. Terutama built in oven dan air keran siap minum panas dinginnya. Akan saya nikmati fasilitas ini selagi ada :D

Onde-onde/klepon perdana bikinan kak Siti dan saya :D

Sudah satu setengah tahun ajaran saya lewati. Saya sekarang memasuki semester yang baru dan sangat berharap inilah semester terakhir saya.

Saya tidak tahu bagaimana merangkum tahun 2016 dalam satu kalimat singkat. Terlalu kompleks. Selain hal-hal diatas saya mengalami banyak hal lain yang aneh-aneh, sedih-sedih, banyak ketidakpastian, banyak bergulat dengan motivasi, dan macam-macam perasaan, pengalaman, dan petualangan yang membaur menjadi sesuatu yang tidak begitu mudah dijelaskan. Boleh saya katakan, ini bukan tahun paling menyenangkan buat saya. Tetapi dari segi pembelajaran, mungkin saya cukup belajar banyak. Saat tahun 2017 datang, saya merasa lega.

Saya ingin menikmati tahun yang baru ini. Saya yakin akan banyak hal baru yang saya alami. Saya mau menikmati hidup saya. Tidak mau terlalu serius dengan hidup. Mau memfokuskan diri ke hal-hal sederhana seperti menikmati teh, bunga-bunga cantik, makanan-makanan enak, dan orang-orang baik.

Saya berharap semua juga menikmati hidupnya masing-masing. Kenyataan bahwa kita masih bertahan hidup ditengah banyak tantangan, lebih dari pada itu, masih punya niat yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, patut disyukuri.

Selamat tahun baru <3



Bulan dan langit pink <3 <3