Kamis, 25 Agustus 2016

Elevated

Floating
On the ocean of dreams
Under the sky of possibilities

Flying
Upon the air of fairy tales
Amongst countless of genies

Singing
Out the songs of hope
Surrounded by the lyrics of healing

Elevating
Up high to the atmosphere of luck
Above the deepness of mystery


"Sky isn't Necessary the Limit" (A view of Manhattan, New York City on July 2016)

Manhattan, Kansas,
One fine evening at 08/24/16

Rabu, 17 Agustus 2016

71 Tahun Indonesia

Dalam satu tahun saja, ada beribu-ribu anak Indonesia yang dikirim keluar negeri untuk menempuh pendidikan. Ada yang mengikuti pendidikan non-degree, pertukaran pelajar, ada yang menempuh pendidikan setara S1, master, doktoral, postdoktoral, dan lain sebagainya. Negara yang dituju sangatlah beragam, bahkan bisa dikatakan, diseluruh belahan benua, didetik ini, ada pelajar-pelajar Indonesia yang sedang berjuang di arena pendidikan. Jangan ditanya fokus pendidikan yang sedang digeluti. Ratusan. Teknik, pendidikan, seni, pertanian, ekonomi, kesehatan, politik, komunikasi, apa yang tidak ada?

Saya salah satu dari pelajar Indonesia yang berkesempatan mengecap perkuliahan di luar negeri. Saat ini saya sedang memasuki tahun kedua dari pendidikan Master of Public Health Nutrition di Kansas State University, Amerika Serikat. Sebagaimana teman-teman lainnya, saya sedang belajar dan berusaha. Berharap otak ini mampu menyerap pembelajaran dengan baik, dan berharap bisa lulus tepat waktu, tanpa konflik. :D

Dari tanah rantau, tulisan ini dibuat sebelum upacara peringatan kemerdekaan negara republik Indonesia yang ke-71 tahun. Sebelum merah-putih bendera dikibarkan dan kerupuk diikat dengan tali rafia, atau hadiah-hadiah digantung dipucuk tiang yang dilumuri minyak. Ah... Pengalaman 17 Agustus adalah pengalaman upacara bendera di lapangan Puspenmas SoE, NTT. Juga pengalaman menonton papa dan mama yang sibuk menyiapkan bendera dan umbul-umbul untuk dipasang dihalaman rumah. Atau mementaskan drama seputar kemerdekaan di SD GMIT SoE I.

Jika dahulu, perayaan 17 Agustus adalah pesta besar, hari libur, pakaian tradisional, bendera kertas yang dikibar-kibarkan, perlombaan, drama sekolah, dan kemeriahan-kemeriahan lainnya, 17 Agustus saya kali ini akan saya isi dengan refleksi (layaknya seorang manusia dewasa :D). Bukan karena sok dewasa, hanya saja disini tidak ada kemeriahan seperti itu karena saya tinggal jauh dari kemeriahan kota besar. Populasi orang Indonesia disini sedikit sekali nyaris langka.

Perenungan saya mungkin akan saya mulai dengan aplikasi-aplikasi beasiswa yang saya kirim ke berbagai lembaga pengatur beasiswa. Jika sudah beberapa kali mengisi formulir beasiswa, maka kita bisa melihat pola kesamaannya, walaupun dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang berbeda. Entah bentuknya esai atau pertanyaan terbuka, inti dari aplikasi tersebut adalah menanyakan siapa kita, apa yang ingin kita pelajari, mengapa ingin bersekolah di luar negeri dan mengambil bidang tertentu, dan,  yang paling menohok tentu saja: apa kontribusi kita ke negara/daerah asal setelah menempuh pendidikan.

Oke. Untuk pertanyaan alasan kita ingin melanjutkan pendidikan, kita bisa saja mengambil salah satu dari masalah nyata yang ada di masyarakat. Sebut saja kurangnya peneliti atau ilmuwan di bidang X. Bahwa Indonesia membutuhkan A, B, C, D.....Z. Akan tetapi, menempatkan diri kita untuk menjawab kebutuhan negara atau daerah kita apakah semudah itu? Kira-kira kontribusi nyata apa yang bisa kita sumbangkan setelah jauh-jauh merantau bertahun-tahun ke negeri orang-berjuang jatuh bangun melafalkan kata-kata asing-dengan pembiayaan yang tidak murah itu? Apakah kita bisa berperan serta dan berpengaruh positif mewujudkan masyarakat madani (bahkan untuk memastikan apa itu masyarakat madani saya perlu membuka google dan membaca wikipedia :D)?

Pertanyaan sulit bukan?
Siapa suruh menjadi penerima beasiswa belajar ke luar negeri? :p

Bayangkan ada ribuan anak-anak Indonesia yang saat ini belajar di negara-negara yang lebih "maju". Mungkin juga lebih "beradab". Kalau setiap tahun ada ribuan anak indonesia yang meraih gelar atau prestasi baru di luar kemudian pulang kembali ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia, apa kontribusi mereka (saya) bagi Negara/daerah? Apakah kita bisa menjadi agen peradaban? Apakah kita bisa bersama-sama menggandeng tangan-tangan yang "tertinggal" untuk berjuang menyetarakan "peradaban"? Apa kita bisa ikut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa?

(Menuliskan ini sebenarnya penuh kontradiksi karena arti peradaban sendiri terkadang samar dengan pengertian kapital. Semuanya diukur dengan uang. Tapi itu bisa menjadi refleksi yang lain.)

Menyederhanakan pertanyaan-pertanyaan njelimet (rumit) diatas, dan terlepas siapa kita saat ini, pelajar didalam/diluar negeri, pegawai negeri/swasta, peran apapun di masyarakat;
Apa kontribusi positif yang akan atau sedang kita sumbangkan bagi Indonesia?

Saya pribadi belum banyak. Saya masih berusaha supaya tidak gagal di setiap matakuliah dan tidak terlambat masuk kelas.

TAPI, ada satu hal yang saya pelajari akhir-akhir ini. Ini pelajaran yang sulit bagi saya pada mulanya. Tidak membutuhkan rupiah atau dolar. Cukup merubah cara pandang saja. Saya belajar untuk menjadi manusia oprtimis dan berpikiran positif. Tidak mudah, karena saya dibesarkan di lingkungan yang pesimis dan banyak dipenuhi negativitas. Saya tidak tahu dibagian Indonesia mana anda berasal, tapi sikap ini cukup sering saya temui di banyak tempat.

Kapan terakhir kali kita berpikir optimis dan positif tentang Indonesia? Atau yang selalu dipikiran kita adalah mencaci maki pemerintah yang tidak becus. Tidak ada yang keliru sebenarnya. Kritik dan makian bisa membangun jika disampaikan dan "dikerjakan" dengan bijak. Hanya terkadang kita lupa bahwa kita punya potensi yang besar hingga sibuk menjatuhkan sesama warga dengan latar belakang agama, suku, ataupun pendapat yang berbeda. Diskusi dan debat sering terjadi jauh dari tujuan membangun, malah berujung melecehkan satu sama lain. Saya pikir ini bukanlah jalan yang efektif menuju fenomena yang kita sebut sebagai masyarakat madani.

Indonesia punya harapan? Tentu saja! Kita bangsa yang besar, kita bangsa yang kaya (bahkan ada orang asing yang pernah mendekati saya untuk menanyakan kemungkinan meneliti air liur komodo! Mau cari makhluk purba mana di dunia ini kalau bukan di Pulau Komodo, Indonesia?).

Saudara, kalau ada satu atau dua hal baik yang bisa kita lakukan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik, penuh harapan, untuk mengisi "gap" yang nyata di masyarakat, apa yang kita bisa buat?

Saya mau membaca buku (dan artikel ilmiah), saya mau menanam pohon, saya mau mengajar tentang gizi di tempat-tempat yang membutuhkan, dan saya mau melanjutkan kebiasaan baru saya untuk berpikir positif serta memupuk optimisme.

Selamat merayakan kemerdekaan ke 71 tahun, bangsa yang besar, bangsa Indonesia!

Oh ya, jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya, jika tidak ada tempat, simpan dulu sampahnya sampai ketemu tempat sampah. Penting loh!


Sumber Gambar: www(dot)sejarah-negara(dot)com
Manhattan, Kansas
16 Agustus 2016 Sore

Jumat, 22 Juli 2016

Kota

Adalah seorang perempuan yang lahir dan besar di sebuah kecamatan kecil di pulau Timor.
Kecamatan itu bernama Kecamatan Kota SoE.
Maka ia tumbuh besar dengan anggapan bahwa tempatnya adalah sebuah "kota".

Ketika ia ber-SMA dan berkuliah di Jawa, ia melihat sesuatu yang lebih besar, ramai, padat, dan cepat. 
Walau susah, ia beradaptasi.
Sambil beradaptasi, ia menyadari bahwa tempat lahirnya bukanlah kota, meskipun kecamatannya diberi nama "Kota Soe".

Lalu ia pun melanjutkan sekolah ke negara yang besar bernama Amerika.
Dia melihat negara yang menempatkan diri di jajaran dunia kelas satu itu.
Disitu semuanya lebih cepat, lebih otomatis, lebih hi-tech, lebih kompleks.

Malam ini ia tak kunjung tidur hingga fajar datang.
Besok ia akan bertualang sendiri ke pusat-pusat Amerika yang sering dibicarakan khalayak.
Ia gugup, sebagaimana seorang perempuan dari kecamatan kecil hendak mengalami kota.
Ibu dari kota-kota di dunia.

Manhattan, KS
Dini hari 220716

Sabtu, 16 Juli 2016

A Spiritual Journey

Life is a journey.
You must've heard this quote so many times. Along with the other so-called wisdom words, it turns out to be not more than the colorful sprinkles on top of the white cream on top of a cupcake. Superficial.

Now let me write my version of life (as a journey).
I'm in the middle of some things.
In the middle of my twenties (I'm 25 actually);
In the middle of my two-year-master-study (I have lots of due dates :D);
Taking place in the very middle of the United States (US divided by two is Kansas);
In the middle of a summer break (Netflixing and sweating most of the time);
In the middle of a journey.....
A spiritual journey.

I believe that every entity has one's own spiritual journey.
We experience, we ask, we seek, we fall, we fail, we doubt, we try, we convince, we find, we connect, we learn.

A twenty-five-year-old of me might not be wiser than its 5 years younger version. But it might be more spiritual.
Why?
Because she has been always questioning many aspects of life; beliefs; faith; heaven and hell; sin; love; sexuality; and god. In her journey, she met believers in many forms. She met the believers of certain beliefs. She met those who honor mother nature. She met the free thinkers. She met agnostics. She met scientists. She met parts of herself that had been patiently waiting to be found. She learned from who/whatever shared the same road with her. The most unenjoyable ones taught her the biggest lessons. While the pleasant ones taught her to be kind. She found peace that comes from her heart. The peace that is not a product of compelling other entities.

-----I'm tired of writing about myself by acting like an independent observer :p.
Gonna use I instead of she :D.-----

Like I said before, my life is like that famous quote. It is a journey.
But I would like to say that my life is more like a spiritual journey. Everything is connected here; even the most random piece of sh*t.
When I look back to the younger me, I smile. I see how I had transformed into many unique shapes in different phases of this journey. And because I'm still doing the breathing procedures, perhaps in some moments ahead I will be facing something new. Who knows?

But as a physically 25 years old woman with an older soul (:D), I do appreciate these body and soul for all that we've experienced.
The good and the crap. For saying yes and saying no. For holding the tears and releasing them free. For being awkward (a looot) and being just right. For acting stupid and looking smart. For playing various roles in many of life's multiple dramas. Yes, in other words, for literally everything.
Gee, how amazingly strong and brave we are! We could've quit, but we didn't. We just keep being awesome :D

I hope every entity enjoys one's own journey. If we "accidently" meet on the road, lets share some affection. May we find peace and happiness in our heart.

Manhattan-KS,
July 16, 2016



A Journey of a Ladybug

Sabtu, 25 Juni 2016

Pindah Apartemen

Otot-otot lengan saya dalam beberapa hari ini terasa mengencang. Bagaimana tidak, saya baru saja pindah tempat tinggal. Memboyong seluruh barang saya ke tempat tinggal baru adalah suatu kepastian.

Rumah lama saya adalah jenis apartemen dengan uang sewa yang murah. Letaknya bersisian dengan kampus, walau tetap perlu berjalan kaki selama 20 menit untuk tiba di kelas atau perpustakaan. Meski murah dan relatif dekat dengan kampus, bangunan apartemen saya sudah tua sekali. Lantainya sering berderit jerit saat dipijak. Saya yang tinggal di lantai dua sering menelan komplain dari tetangga di lantai satu karena mengganggu tidur mereka. Maklum, saya termasuk kategori mamalia nokturnal yang sering tidur diatas pukul 2 malam. Lalu, dikala orang lain tidur lelap, saya mau tak mau kelayapan keliling rumah demi minum air, membongkar persediaan jajan, atau buang air, dan aktivitas manusia hidup pada umumnya. Meski berusaha tidak melolong saat pukul 12 di malam purnama (lu pikir manusia serigala?), toh kegiatan-kegiatan kecil itu bisa saja mengganggu kesejahteraan orang lain karena lantai yang berteriak dan tembok yang bertelinga :p.

Tapi sungguh, apartemen disini entah dibangun dengan bahan apa, tembok pembatas antar ruangan itu terlampau tipis (saya sebut itu tripleks), demikian pula lapisan pembatas antar lantai. Suatu kali tetangga lantai bawah membuat lelucon dan saya ingin ikut tertawa hendak mengempatikan keseruan mereka. Sayangnya mereka bercanda dalam bahasa mandarin.

Saya pun pindah ke apartemen baru. Alasannya selain ingin pindah ke bangunan dengan konstruksi yang lebih nyaman (tentu lebih mahal), juga karena ingin mencari suasana baru. Rumah baru ini masih dalam manajemen Jardine Apartment, apartemen dalam kampus yang sama dengan yang lama. Saya hanya pindah dari gedung N ke gedung P. Dari tipe traditional (tipe termurah) ke tipe renovated (setingkat lebih oke). Sisi baiknya tentu ciri fisiknya yang lebih kokoh. Sisi kurang baiknya (yang bisa saja jadi baik, tergantung cara melihat) adalah jarak tempuh ke kelas semakin jauh. Perlu jalan kaki selama 25-30 menit untuk bisa tiba di perpustakaan atau kelas. Semoga otot-otot saya semakin terlatih menghadapi kenyataan ini.

Saat tiba waktu pindahan, saya memesan jasa angkut barang yang dikelola secara profesional oleh organisasi bernama College Moving Labor. Pekerjanya adalah anak-anak kuliahan yang berperan sebagai tenaga angkut barang bagi mereka yang hendak berpindah tempat tinggal. Jardine adalah jenis apartemen non-furnished, artinya apartemen kosong tanpa perabot, kecuali kompor+oven, kulkas, AC, dan laci-laci dapur yang memang disediakan disetiap unit. Barang-barang seperti tempat tidur, meja, kursi, lemari, dan lainnya harus disediakan sendiri oleh penyewa. Kontan saya membutuhkan jasa angkut barang tersebut karena mengangkut kasur sendiri dan barang-barang berat lainnya saya tak berdaya. Catatan penting, saya selalu kagum melihat kekuatan fisik orang-orang di US. Perempuan dan laki-laki sama saja, tenaga mereka luar biasa. Mungkin ini bukti investasi konsumsi protein dan kalsium tinggi sejak kecil.

Saya bukanlah tipe yang suka menimbun barang. Namun tidak ternyana, setelah satu tahun hidup di sini, barang-barang saya seperti bermultiplikasi. Tanggal 28 Juni 2015 saya tiba di Amerika dengan 1 koper sedang dan 1 ransel kuliah. Kabar barang-barang saya satu tahun kemudian cukup mengherankan. Buku pelajaran dan novel yang terus bertambah jumlahnya, ditambah cetakan materi kuliah dan artikel ilmiah. Baju-baju baru (dan sepatu) semakin memenuhi lemari karena setiap musim punya karakteristik baju yang berbeda (bandingkan dengan cuaca di Kupang, misalnya, yang sepanjang tahun hampir dipastikan bisa memakai jenis baju yang sama). Rangkaian produk Body Shop yang sulit untuk ditolak keberadaannya turut menghiasi meja saya :D. Juga barang lainnya seperti peralatan masak dan makan.

Pindah rumah bisa menjadi suatu aktivitas yang memicu pening di kepala saat menyaksikan jumlah barang yang semakin meningkat. Di sisi lain, pindah rumah seperti menyadarkan saya tentang barang apa saja yang saya miliki. Barang-barang yang saya rasa tidak penting pada akhirnya saya tinggalkan, sedangkan yang penting saya pertahankan. Melalui pindah rumah, saya diingatkan bahwa kepemilikan barang-barang ini hanya bersifat sementara. Tahun depan saat saya akan kembali ke Indonesia saya tidak mungkin memboyong jaket-jaket musim dingin yang saya beli disini. Akan konyol jika sepatu boot salju saya dibungkus menuju Kupang. Kesadaran akan kesementaraan pemilikan barang ini semoga membuat saya lebih awas untuk tidak terus menimbun barang dan lebih berhati-hati dalam membeli barang. Sebaiknya saya mulai berlatih seni melepaskan: "the art of letting go" sejak sekarang ini.

Saat ini saya sedang menikmati rumah baru yang longgar dan bersih (berkat serumah dengan Mbak Tia yang selalu rapi), menikmati sinar matahari summer yang berlimpah-limpah, dan mengistirahatkan otot-otot tangguh ini :D.

Tumbuhan ini namanya Sweet William. Dia ikut diboyong ke rumah yang baru.





Selasa, 31 Mei 2016

Spring Menuju Summer yang Aneh

Sebelumnya saya ingin ingatkan, dibawah ini adalah curhatan pribadi tentang hidup seorang mahasiswa rantau yang sedang dilanda berbagai keanehan hidup. Kalau tidak ingin ikut terbeban, sebaiknya tidak perlu dibaca.

Musim dingin sudah lewat. Saya yang senang hidup dengan suhu hangat-hangat pantai pun ternyata bisa selamat menghadapi pengalaman winter pertama. Suhu yang menghangat, bunga-bunga yang bermekaran, dan matahari yang mulai terik seharusnya membuat saya bahagia.

Dan sesungguhnya saya bahagia setiap kali jalan-jalan santai menikmati musim semi. Disamping tornado dan thunderstorm yang bertubi-tubi terjadi di Kansas akhir-akhir ini (dikarenakan posisi Kansas berada tepat di tengah Amerika Serikat dan topografinya yang "flat"), saya sangat suka musim semi! Setelah menilai keempatnya, diantara summer-fall-winter-spring, musim semi lah yang paling saya senangi (sekali lagi, disamping tornado, thunderstorm, dan hujan es-nya yang bertubi-tubi). Semua pohon berbunga (benar-benar berbunga secara harfiah) dan banyak yang berbau wangi. Di sekeliling kampus tersebar bunga-bunga cantik yang ditata dengan rapi dan banyak pula yang menebar bau harum. Bahkan, rumput-rumput hijau pun diselingi dandelion cantik dengan bunga kuning cerah dan yang terkenal dengan kepala seed berbentuk lolipop putih berbulu yang bisa ditiup itu lho. Ditunjang dengan udara yang tidak ekstrim, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin.

Namun disamping berbagai keindahan diatas, saya melewati masa-masa yang cukup menyebalkan juga. Sebut saja lamaran internship yang tak kunjung berbalas. Padahal ini lamaran magang lho, dimana pelamar seperti saya ini rela bekerja gratis. Lalu salah satu kuliah summer saya prosesnya lama sekali, dan ini mendorong saya untuk drop saja kelas itu (mungkin itu maksud mereka menunda-nunda proses enrollment). Lalu saya (yang memang pada dasarnya senang meragukan banyak hal) mulai meragukan ketulusan dosen pembimbing akademik saya yang selalu saya kagumi itu. hahahah. Apalah. Seperti hubungan yang serius saja. Tapi setelah saya lihat bagaimana beliau mendorong saya untuk mengambil coursework dan bukan research, ini membuat mahasiswa internasional yang sensitif seperti saya terusik juga :D.

Lalu yang terakhir, hal yang saya anggap paling menjengkelkan di tengah cuaca yang sangat menggembirakan ini adalah.........................(background musik: ala-ala pengumuman Indonesian Idol yang nggletek karena setelah musik beberapa menit malah diselingi iklan) teman apartemen saya membawa temannya untuk menginap berminggu-minggu di apartemen kami! Sungguh perilaku yang tidak beradab, tidak sensitif, tidak peka (eh, peka sama saja dengan sensitif ya), tidak ber-peri-ketemanserumahan, tidak menjaga privasi, tidak tahu malu, dan tidak berbudaya (budaya Indonesia maksudnya. Hahaha), dan tidak menghormati ke-introvert-an. Apalagi teman yang dibawa menginap berabad-abad itu adalah pemilik apartemen ini sebelumnya, sehingga saya melihat tingkah-lakunya seperti masih "memiliki" rumah ini. Ini membuat saya geram setengah mati sebelum protes dan membuat amandemen mendadak: tidak membolehkan membawa teman menginap lebih dari seminggu. Hahahah. Di kehidupan yang mendatang, saya memang harus cukup mapan untuk bisa punya rumah sendiri karena sepertinya saya gampang sekali terganggu dengan manusia-manusia gila disekitar saya (saya sendiri punya kegilaan tertentu, karena setiap manusia punya kegilaan-kegilaan yang unik dan menjengkelkan :D). Sekadar informasi, teman serumah saya orang Amerika, dan temannya yang menginap itu orang India. Keduanya bersahabat seperti Spongebob dan Patrick, sedangkan saya sungguh terganggu dengan kehadiran mereka layaknya Squidward. Tidak ada yang lebih tepat menggambarkan kondisi ini setepat tiga makhluk Bikini Bottom itu.

Ini memang risiko hidup serumah dengan orang lain. Di US, banyak apartemen yang didesain untuk dikontrak lebih dari satu pemilik. Kamar tidurnya terpisah, sedangkan living room, dapur, dan kamar mandi+toilet dipakai bersama-sama. Apartemen saya tipe apartemen dengan dua kamar tidur. Mahasiswa dengan biaya pas-pasan seperti saya sering berburu apartemen semacam ini, walaupun kata seorang kenalan saya, ini seperti memilih kucing dalam karung. Kita tidak tahu segila apa kucing (maksud saya teman apartemen kita) sampai kita tinggal bersama dengan dia.

Agar adil dan tidak hanya menyalahkan keadaan atau satu pihak saja, saya juga ingin berintrospeksi. Saya pun bukan teman serumah yang sempurna. Saya lebih senang menutup pintu kamar saya dan menghindar dari percakapan bersama seorang konservatif. Ide-ide kelompok konservatif di Amerika (termasuk teman rumah saya) banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai saya. Tapi saya tidak sedang ingin mengubah dunia, sehingga saya malas sekali berdebat dengan mereka yang selalu berbekal ayat-ayat alkitab yang sepertinya sudah dihafal sejak masih dalam kandungan (lha, ini introspeksi atau kembali menyalahkan? :D). Padahal, teman saya ini sungguh tulus orangnya, hanya mungkin butuh sedikit sentuhan "duniawi" untuk tidak hanya melihat keatas tapi juga kesamping dan kebawah (nasihat apa-apaan ini :p). Beliau adalah teman yang murah hati, senang membuatkan kue dan masakan yang sering dibagikan kepada saya. Sedangkan saya, saya sering menolak berbagai ajakan tulus beliau ke aneka "bible study" dan "women's gathering", acara-acara yang sangat relijius itu. Penolakan saya terkadang membuat beliau merasa "dimarahi". Padahal saya memang sedang ingin tidur-tiduran saja (atau tidak suka bergabung dengan mereka yang memandang jijik orang-orang "berdosa" seperti saya dan teman-teman LGBT). Saya, seperti juga teman saya, bukanlah sosok teman yang sempurna (tapi mbok ya jangan bawa-bawa orang lain menginap ke rumah berminggu-minggu, please! :D :D).

Ah, kalau ada yang membaca tulisan ini selain saya (:p) mungkin akan berpikir bahwa saya penuh dengan "kepahitan". Hahahah. Bisa iya, tapi tidak demikian juga cinta, saya, selain mengomel, banyak juga bersyukur untuk hidup ini. Teman-teman saya dari Indonesia dan Malaysia disini sangat suportif dan menganggap saya seperti keluarga dekat. Masakan-masakan mereka sungguh nikmat dan pedas menggoda. Saya juga sempat jalan-jalan ke beberapa tempat menarik meskipun tidak selalu saya kabarkan kepada isi dunia. Saya juga bersyukur karena dukungan sosial saya (yang saya batasi sumbernya, jumlahnya tidak banyak namun berkualitas) masih kuat menopang kewarasan saya. Menemukan berbagai untung ditengah kondisi sulit itu perlu dipelajari ilmunya. Tarik napas dalam-dalam, lalu mengomel-lah dengan penuh syukur :p.

Saya mau menutup curhatan ini dengan beberapa foto musim semi disini, semoga bisa mengimbangi keanehan-keanehan yang saya alami diwaktu spring menuju summer ;).

Salah satu varietas mawar di K-State Garden

Tupai yang imut ini banyak sekali berseliweran di kampus.

Mengagumi bunga bisa jadi terapi dikala masalah datang bertubi-tubi ;)
Omong-omong foto-foto diatas saya ambil sendiri. Boleh kan' pamer setelah curhat :D?!
Omong-omong lagi, apakah setiap icon :D atau :p atau ;) yang saya pakai perlu menggunakan huruf miring juga karena masuk dalam kategori bahasa tidak formal? :D atau :D? :p :p :) :), hahahah atau hahahah? :D :D :D :D





Jumat, 20 Mei 2016

Langit Biru

Langit biru dan motor yang berderu
Menemani seorang gadis berbaju garis-garis

Ada arak yang baunya menyeruak
Khas pulau Solor tempatnya bapatua Klodor

Ramalan cuaca kadang salah baca
Perhitungan Tanah Lein pun diartikan lain

Jalan suram bisa membuat muram
Semangat hidup pantang redup

Di danau teduh terbaring letih tubuh
Demi mengantarkan bunga ke desa Bahinga

Jambu mente tumbuh berante-rante
Walau kemarau berusaha menghalau

Meski bus malam mencoba menembus kelam
Ada langit biru menunggu di hari yang baru



Manhattan, Kansas, 19 Mei 2016
Keterangan gambar: Serba biru, pemandangan pulau Solor dilihat dari Larantuka, September 2014.