Sabtu, 21 November 2020

Who We Are & Not

"You cannot know who you are unless you are surrounded by who you are not"
- Dorien du Toit

Some people get it early in their life. They know who they are, what they want, and what they do not want to become. It is clear for them from the beginning to cling only on what fills their cup.

On the other side, there are people who have to go through some real life filters to purify them from what they are not. These filters may manifest as neighborhoods, families, friendships, jobs, beliefs, to name a few. As familiar as these filters may sound like, it can be hard to dust off the things that are not belonged to one. It could even certainly be painful, perhaps almost unbearable as what we thought we are, were so close to us, sticking hard to ourselves, should be separated from us, sometimes forcefully.

But however uneasy is the process of purification, we should be thankful that there is a force helping us becoming who we are. Because it is very important, and probably one of our most important tasks, to be who we really are, to be true to ourselves, to do what we are best at doing, and to emit the purest energy from and in our existence. It may seem quite detrimental that we lose some of the things we held so dear. We were left almost naked, be judged as making some serious mess, and constantly be self-questioning our poor life choices. But life doesn't end there. As we are closer to our personal truth, life becomes somehow more effortlessly. We are flowing to the place where we need to be at the moment, and doing things we are good at the time, saying the truth, and being with people of our tribe for a given condition. Until we reach the point of another peel-off-closer-to-self phase. Until...who knows when.

Maybe we should be grateful for the uncomfortable feeling in our heart when we are working on something, being with some people, eating some food, be in some places. That uncomfortable feeling is our guide to look deeper into our state of being, until we finally leave the things behind, sooner or later. The unlatching process may not be easy, but we need to remember that it is even harder to stay in the place of stop growing.

May we stick tightly to our truth, and be brave enough to move ourselves towards who we are.

Minggu, 28 Juni 2020

Tendangan Bayi

Ada bayi yang sedang rajin menendang dari dalam rahim saya. Terkadang tendangannya cukup keras sehingga membuat saya tertawa. Saat awal tendangannya mulai terasa, yang terjadi hanya seperti getaran kecil saja dan tidak begitu sering frekuensinya. Sekarang rupanya badannya sudah cukup besar dan anggota tubuhnya sudah cukup kuat untuk menghasilkan tendangan yang membuat perut saya seperti bergelombang dan miring tidak simetris jika dilihat dari luar. Siang malam dia selalu sibuk bergerak.

Kadang saya suka menerka-nerka arti tendangannya. Ada yang namanya tendangan protes, biasanya kalau posisi berbaring saya "menghambat" ruang berenangnya. Ada yang namanya tendangan bangun tidur kalau tiba-tiba menendang setelah lama diam hening tanpa gerakan. Kalau saya lapar, dia bisa juga menendang. Mendengarkan musik yang keras si bayi jadi aktif. Lalu saat mendengar suara dari orang-orang tertentu dia aktif menendang. Pernah9 saat saya marah, dia bergerak terus mungkin karena ikut merasakan kemarahan saya. Justru saat olahraga, dia diam saja :D.

Gerakan-gerakan dalam perut ini sensasinya unik sekali. Seperti yang disebutkan di atas, sering membuat saya tersenyum dan tertawa. Menurut saya, selain memang bayi ini butuh berkembang dan bergerak aktif, tendangan-tendangannya sangat membantu membangun hubungan ibu-anak antara kami berdua. Bahkan bertiga bersama papanya karena kami jadi asik menyaksikan perut yang bergelombang, mengelus bayi ini dari luar, dan berbicara dengannya. Seringnya tendangan ini mengingatkan saya bahwa ada seorang anak yang terus bertumbuh kembang di dalam tubuh saya. Dari semua fenomena kehamilan, tendangan bayi lah yang menurut saya paling menyenangkan. Melalui tendangannya, kami berinteraksi.

Tendang terus nak! Bertumbuh besar dan kuatlah kamu :*

Kreasi Minuman Susu Kedelai

Susu Kedelai (sumber gambar: Shutterstock)

Saya adalah pecinta susu/sari kedelai. Sebagai seorang yang mengikuti prinsip-prinsip vegan/vegetarianisme/plant-based, saya sebisa mungkin tidak mengonsumsi susu dan produk susu sapi atau susu-susu hewani lainnya. Walaupun sampai saat ini belum 100% dairy free tetapi sebisa mungkin saya menjauhinya. Selain hewan-hewan tersebut memproduksi susu untuk anak kandung mereka dan bukannya untuk manusia, susu sapi yang diproduksi secara massal atau yang dijual di pasaran luas lebih banyak maksiatnya daripada manfaatnya. Banyak penelitian sudah membuktikan konsumsi susu sapi berbanding lurus dengan risiko berbagai penyakit seperti kanker prostat dan kanker payudara. Cara mendapatkan susu sapi secara massal pun sangat menyedihkan. Untuk bisa menghasilkan susu, seperti mamalia pada umumnya, sapi harus memiliki bayi. Inseminasi buatan pun dilakukan untuk membuat sapi hamil tanpa hubungan seksual. Begitu melahirkan bayinya, ibu sapi secara paksa dipisah dari bayi dan dihubungkan dengan mesin pemerah susu. Sapi yang dalam keadaan stres karena baru saja melahirkan dan harus terpisah dengan bayinya dipaksa menghasilkan susu siang dan malam sehingga seringkali yang dihasilkan bersama dengan susu perahan adalah hormon-hormon stres dan nanah infeksi. Susu sapi juga mengandung hormon-hormon pertumbuhan yang tinggi karena sejatinya untuk diminum bayi sapi supaya bisa bertumbuh kuat. Jika diminum manusia dewasa yang tidak lagi bertumbuh maka bisa terjadi pertumbuhan sel-sel yang tidak terkontrol. Secara logika, emosional, kesehatan, dan common sense, memang tidak ada benarnya mengkonsumsi susu sapi yang diproduksi massal. Tapi begitulah manusia. Sudah tua tetap saja mencari susu, walaupun pada prosesnya harus menyiksa dan mengorbankan makhluk lain.

Kembali pada susu kedelai. Sejak dulu waktu belum berkecimpung di dunia tumbuh-tumbuhan, saya sudah menyukai susu kedelai. Bagi saya rasanya enak dan cocok untuk pencernaan. Selain susu kedelai saya juga menyukai susu almond, namun karena tidak mudah didapatkan, saya lebih sering konsumsi susu kedelai. Kualitas protein dan mineral susu kedelai juga tidak kalah dari susu sapi. Bahkan, susu sapi yang dijual di pasaran seringnya sudah dicampur pre-mix vitamin dan mineral untuk meningkatkan profil gizinya, berbeda dengan susu kedelai murni yang memang sudah baik kualitasnya tanpa tambahan pengawet dan berbagai enhancer.

Beberapa bulan belakangan ini di kulkas selalu tersedia susu kedelai yang dibeli Gid di salah satu tempat produksi tahu (susu kedelai sendiri sejatinya adalah tahu cair yang belum diberi pengeras :D). Saya suka karena susu kedelai ini belum dicampur pemanis atau tambahan apapun, masih murni dan tidak berbau sama sekali. Susu kedelai yang saya buat sendiri memang hasilnya bisa lebih kental tetapi masih ada bau "langu" nya yang seringnya saya samarkan dengan menambah esens vanila. Karena selalu tersedia susu kedelai, saya menemukan beberapa cara meminumnya selain diminum langsung/tawar (yang menurut saya sudah enak).

1. Suleha (susu kedelai hangat) + gula semut/gula aren
Ini yang paling sederhana tapi enak. Saat masih panas, tambahkan 1 sdm gula semut pada 1 gelas kecil susu kedelai dan tinggal diaduk. Kalau tidak ada gula semut, bisa menggunakan gula aren yang dihaluskan atau dipanaskan bersama. Rasanya seperti kue talam!

2. Susu kedelai + kurma
Kurma mempunyai banyak manfaat kesehatan karena kandungan mineral dan seratnya. Cara mencampur kurma dengan susu kedelai adalah blender 6 buah kurma kecil dengan air panas 150 ml (1 cangkir) sampai halus, lalu masak bersama susu kedelai 400 ml sampai panas/hampir mendidih. Tambahkan kayu manis bubuk 1/2 sdt. Jadi 2 gelas minuman hangat tinggi gizi dan antioksidan. Bisa juga disajikan dingin, tinggal tambah es batu/masukkan kulkas. Untuk yang dingin tidak perlu ditambah kayu manis (bisa juga sih, tapi kayu manis cocoknya dengan yang hangat-hangat bukan ya? hehe)

3. Creamy Smoothies
Susu kedelai juga cocok untuk membuat smoothies karena memang sifatnya yang creamy. Caranya blender susu kedelai dingin 250ml dengan 1 buah pisang masak (sebaiknya yang benar-benar masak),  pemanis (gula semut atau kurma 5-6 biji), dan esens vanila cair. Hasilnya adalah smoothies yang creamy, lezat, dan mengenyangkan. Kalau mau warnanya jadi pink cantik bisa tambahkan sepotong kecil buah naga. Bisa dikreasikan bersama resep smoothies atau jus buah favorit lainnya.

4. Masala Chai-Inspired Suked (susu kedelai)
Masala Chai adalah teh susu rempah khas India. Teh ini tinggi kandungan antioksidannya karena kaya rempah dan sifatnya menghangatkan tubuh. Kreasikan dengan susu kedelai dengan mengganti susu sapi dengan susu kedelai, atau bisa juga dihilangkan teh nya.
Caranya didihkan 200ml air dengan kayu manis, kapulaga, cengkeh, dan jahe, masak sampai air berkurang setengah atau sampai sari rempahnya terasa, lalu masukkan susu kedelai 400-500ml, aduk sampai mendidih, tambahkan gula merah/gula aren. bisa untuk 2-3 gelas.

5. Hot Chocolate Suked
Susu kedelai juga bisa menjadi bahan baku cokelat panas. Caranya: masak susu kedelai 250 ml bersama 2 sdm cokelat bubuk dan 1 sdm cokelat batang, tambahkan pemanis sesuai selera, aduk sampai mendidih dan cokelat larut. Jadilah 1 mug hot chocolate yang kental dan mewah.

Ini beberapa contoh kreasi minuman susu kedelai, kalau ada yang punya resep menikmati suked lainnya, bisa dibagikan :)
Suked my love <3

Minggu, 24 Mei 2020

How to Unbelieve - 1

We should learn to take religions as jokes and jokes as our religion.
If we are open enough to see things that way, to leave the belief system and see that life is meant to be lived, not to be feared or avoided, we may be closer to being alive. 
We may even be a better human being because for once we are free from sin and judgement. When we do not put people into the boxes of holy and sinner, good and evil, there we might at least un-tag ourselves too, and thus leave us being more kind and gentle: both to ourselves and upon others.

Senin, 18 Mei 2020

Resep Banana Pancake / Pancake Pisang (Tanpa Telur)

Ini resep "kue" gampang yang bisa selesai dalam waktu kurang dari setengah jam :). Praktis dan rasanya comforting.

Bahan-bahan:
1. Pisang masak, semakin masak semakin manis - 5 potong sedang
2. Tepung terigu - sebanyak jumlah pisang (kalau tepung sedikit, pancake jadi lunak, kalau banyak rasa pisang kurang terasa: tergantung selera. Saya suka jumlahnya 50:50 dengan pisang)
3. Sari/susu kedelai - jumlahnya juga bergantung: bisa 100-200 ml, tergantung banyak adonan.
4. Kayu manis bubuk - 1/2 sdm
5. Minyak goreng - 2 sdm untuk dicampurkan dengan adonan dan sedikit untuk menggoreng pancake. Untuk menggoreng pancake, bisa menggunakan margarine jika senang rasa gurih
6. Ekstrak vanila - 1/2 sdt, saya pakai yang cair. saya lebih suka rasa kayu manis yang lebih tinggi dari vanila
7. Garam sejumput
8. Gula pasir atau gula aren 2 sdm (bisa disesuaikan, kalau pisang sudah sangat masak cukup 2 sdm atau bisa dihilangkan juga kalau makannya nanti pakai madu/gula semut)
9. Baking powder 1/2 sdm 

Cara membuat:
1. Kupas dan hancurkan pisang masak secara manual dengan menggunakan garpu di mangkok 1. Setelah rata campurkan dengan minyak goreng.
2. Di mangkok yang berbeda (mangkok 2), campurkan tepung terigu, gula, baking powder, kayu manis bubuk, dan garam.
3. Campurkan isi mangkok 1 ke mangkok 2, aduk-aduk.
4. Tambahkan susu kedelai secara perlahan-lahan. Jika ingin pancake empuk, konsistensinya adonan harus kental seperti bubur bayi: tidak cair.
5. Tambahkan ekstrak vanila, campur rata.
6. Panaskan teflon dengan api kecil supaya masaknya pelan-pelan, kalau punya yang lebar bisa lebih cepat karena bisa membuat 3-5 pancake sekali jalan, tergantung juga ukuran pancake. saya suka pancake yang mini biar nambah terus :D
7. Minyaki teflon: sedikiiit saja, sekali jalan cukup 1 sendok teh. Bisa pakai margarin juga.
8. Ambil pancake dengan sendok sayur, lalu taruh di teflon, sekaligus agak tekan ke kiri-kanan dengan sendok supaya bentuknya bulat.
9. Prosesnya cepat, kalau dengan api kecil mungkin cuma 30 detik-1 menit, segera balik jika sudah kecoklatan di pinggir dan muncul gelembung.
10. Ulangi sampai adonan selesai.
11. Nikmati dengan sedikit madu atau taburan gula aren/gula semut, atau kosongan. Saya suka plain tanpa tambahan apa-apa.

NB: Foto menyusul. 3x buat lupa foto terus wq

Minggu, 17 Mei 2020

Pepaya

Saya senang berkunjung ke pasar tradisional. Saya menikmati suasana pasar. Saya merasa sangat terhibur melihat hasil kebun yang segar-segar ditumpuk-jejerkan di pasar. Aktivitas tawar menawar di pasar juga tidak kalah menarik. Para penjual menawarkan dagangan mereka ke pengunjung pasar yang seliweran, dan calon-calon pembeli yang menawar harga jika dirasa terlalu mahal. Tidak jarang suasana pasar berdesak-desakan dan bising. Motor dan kereta dorong (penggunaan kereta dorong tradisional sebagai kereta "belanja" masih lumrah di pasar Soe maupun Kupang) berusaha menembus gang-gang sempit. Riuh, semarak, dan penuh kehidupan di pasar tradisional.

Setiap harinya produk yang dijual pun berbeda-beda. Ini juga salah satu yang membuat pasar tradisional sangat menarik bagi saya. Saat musim mangga, contohnya, banyak pedagang menjual mangga dengan jenis berbeda-beda dan membuat pasar menjadi beraroma mangga. Begitu juga dengan musim jeruk, alpukat, labu kuning, dan lain sebagainya. Terkadang saya bisa bertemu jenis sayuran atau buah yang unik jika beruntung. Contohnya saat menemukan markisa hutan di Pasar Inpres Soe, buah sawo ungu di salah satu pasar di Bajawa, atau kacang merah kecil-kecil (tak tahu namanya, bukan kacang merah biasa) di pasar utama Waitabula, Sumba Barat Daya. Kejutan dan kemungkinan penemuan-penemuan ini jugalah salah satu faktor yang membuat saya cukup bersemangat untuk main ke pasar tradisional di berbagai tempat.

Salah satu pasar favorit saya adalah Pasar Inpres SoE, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Menjadi favorit mungkin karena saya punya banyak memori di sana. Saya mengelilingi pasar ini sejak kecil hingga sekarang. Waktu kecil hingga remaja, mama sering mengajak saya ke pasar. Bukan saja untuk membeli berbagai bahan makanan, tetapi untuk hal-hal lainnya seperti memotong/mengecat rambut (dulu mama punya langganan salon di pasar yang dindingnya dipenuhi foto model rambut gaya tahun 80an), makan jajanan dan membuat pas foto di area pasar, membeli pakaian bekas (jaman susah saat SD dulu banyak baju kami yang dibeli di "rombengan" pasar), membeli perhiasan emas (ada satu cincin emas yang mama belikan dan saya pilih sendiri sekitar tahun 2003-2004), membeli perkakas dapur, menjahit pakaian, mencari sepatu dan perlengkapan sekolah di toko-toko Padang, dan banyak sekali kebutuhan hidup keluarga kami yang terpenuhi dari kompleks pasar ini :D.

Selain karena menyimpan banyak memori, berdasarkan pengamatan saya, Pasar Inpres SoE juga terbilang murah dan segar dagangan bahan makanannya dibandingkan pasar-pasar lainnya yang pernah saya kunjungi. Banyak petani kecil atau petani subsisten yang datang langsung menjual hasil kebun mereka dari desa. Masih banyak juga dagangan mereka yang bebas dari pupuk kimia karena tidak diproduksi dalam skala besar. Pasar pun bisa dibilang aman dari berbagai tindakan kriminal. Ditambah lagi penjual yang ramah dan baik-baik, dibandingkan dengan para penjual di beberapa pasar di Kota Kupang, misalnya, yang bisa menjadi culas (judes, jahat) :D. Oleh karena itu, sering kali berkunjung ke Pasar Inpres Soe membuat saya terhibur.

Beberapa hari yang lalu Gideon dan saya berkunjung ke Pasar Inpres Soe, seperti sebelum-sebelumnya kami mencari sayuran dan teman-temannya. Saat kami hampir selesai berbelanja, mata saya tertuju pada beberapa buah pepaya berukuran kecil-sedang yang dijejerkan. Karena mulus serta bentuk dan warnanya bagus, saya pun menanyakan harganya. "Lima belas (ribu)", kata mama penjual (kami memanggil semua wanita paruh baya keatas dengan sebutan mama). Gideon dengan spontan menawar: "Sepuluh (ribu)?" dan karena ada 2 orang mama disitu mereka berdiskusi singkat dan mengiyakan harga 10 ribu untuk 1 buah pepaya. Saya berjongkok memilih pepaya terbaik (kebanyakan penjual berjualan di lantai yang dialasi karung sehingga untuk memilih barang harus berjongkok ria, semoga otot panggul semakin lentur :D). Namun saat itu juga Gideon bilang "Eh sonde, biar 15 sa" (tak jadi menawar, biar tetap membayar 15 ribu saja). Mama penjual hanya tersenyum dan membalas "dari-dari sa" (terserah kalian saja, dasar naq muda wq). Akhirnya kami mengambil pepaya tersebut dengan harga awalnya tanpa menggunakan plastik karena bawaan pun tidak banyak.

Kami harus menunggu 1 hari sebelum pepaya dipotong untuk mencapai kematangan yang pas. Saat mencicipinya kami terbengong-bengong merasakan betapa manis dan harumnya buah tersebut. Itu adalah pepaya terenak yang pernah dimakan Gideon dan saya. Jenisnya pepaya kampung sederhana namun rasanya jauh lebih enak dari pepaya jenis California. Kecintaan saya pada Pasar Inpres SoE pun semakin bertambah :)

Kami lalu mengenang kembali saat pembelian pepaya itu. Gideon bilang, dia tidak jadi membayar dengan harga tawar karena dia tiba-tiba teringat proses yang tidak sederhana bagaimana sang pepaya bisa sampai di pasar. Mulai dari proses menunggu saat yang tepat untuk memanen pepaya. Lalu mama penjual harus membayar ongkos transportasi untuk membawa dagangannya ke pasar. Ditambah lagi dengan kondisi perekonomian sebagian besar pedagang kecil di pasar yang saat ini sedang diguncang badai COVID-19. Semua pedagang Pasar Inpres Soe dibatasi waktu berjualannya hanya sampai jam 2 siang untuk mengurangi interaksi sosial yang memungkinkan penyebaran penyakit. Sebelumnya mereka bisa berdagang hingga gelap. Laku atau tidak jualannya, jam 2 siang pasar sudah harus ditutup. Membayar tanpa menawar mungkin merupakan pilihan terbaik.

Selain petani dan pedagang di pasar, tentu banyak juga profesi lainnya yang terdampak perekonomiannya dari kondisi pandemi ini. Tukang ojek dan freelancer, misalnya, juga pegawai kontrak yang banyak dirumahkan. Jika ditelusuri, terlalu banyak lapisan masyarakat yang harus mengganti definisi kenyamanan ekonominya masing-masing karena situasi ini (kecuali PNS dan pegawai tetap lainnya yang mungkin perlu bersujud syukur tetap digaji seperti biasa).

Kembali ke pasar. Ternyata selain memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, berziarah ke pasar tradisional juga bisa menyuapi kebutuhan spiritual, salah satunya dengan membuat kita lebih sensitif terhadap proses kehidupan dan berbagai fenomenanya di sekitar kita.



Rabu, 08 April 2020

Dua Ribu Sembilan Belas

Terlalu banyak kejadian yang sudah terjadi di tahun 2020 ini. Banyak kejadian yang mengagetkan dan mengubah banyak hal dalam kehidupan saya. Banyak air mata, kebingungan, dan kebahagiaan yang sekali lagi membuat hidup saya sangat intens di 3 bulan pertama 2020 ini. Namun dibalik semua intensitas ini saya mau berusaha untuk berefleksi sejenak melihat apa yang terjadi di tahun 2019.

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk "meringkas" catatan setahun dalam 1 cerita di blog ini. Harapan saya adalah, yang pertama, perasaan saya saat ini tidak (banyak) mempengaruhi penjabaran 2019, dan yang kedua, walaupun saya sadar bahwa yang saya akan tuliskan ini adalah refleksi yang mana dipenuhi dengan ilusi memori dan hanya menjumput nol koma nol nol nol sekian persen dari yang sebenarnya terjadi, ada beberapa cerita yang boleh saya kenang melalui tulisan. Shall I start? :)

Saya memasuki 2019 dengan beberapa resolusi dan harapan, seperti bekerja lebih fokus dan profesional, lebih rajin yoga, membaca buku berkualitas, meninggalkan pikiran-pikiran yang mendistraksi, bisa bepergian jauh, dan lain sebagainya. Baik juga sebenarnya, saya bisa mencapai sebagian besar harapan-harapan diatas, mungkin karena mereka tidak muluk-muluk.

Perjalanan Karir
Sekitar 70% waktu di 2019 saya habiskan dengan travel ke berbagai tempat, always on the road, always moving. Tentu saja hampir semuanya adalah urusan pekerjaan. Ini baik di satu sisi. Saya belajar banyak sekali hal baru. Karena saya dituntut untuk ini dan itu, saya merasa skill saya meningkat. Saya memfasilitasi banyak pelatihan, memberikan presentasi/berbicara di berbagai event, mengikuti berbagai pelatihan, bertemu dengan banyak orang dan belajar dari mereka, belajar kebudayaan baru, dan lain sebagainya. Di sisi lainnya, saya sangat merindukan kesendirian dan keheningan. Pada dasarnya saya membutuhkan waktu sendiri dan bengong yang lebih banyak dari orang-orang pada umumnya. Cara saya adalah, saya beberapa kali harus 'kabur' menyendiri ke suatu tempat dan berdiam selama beberapa waktu. Walaupun ternyata tidak cukup juga karena tiket perjalanan ke tempat x sudah tersedia untuk pekerjaan selanjutnya. Namun sekali lagi, dari segi karir, saya merasa jauh lebih baik dari tahun yang lalu. Saya merasa kapasitas diri semakin baik di bidang pekerjaan saya.

Inner Journey (okay I must admit I love this abstract thingy :D)
Perjalanan untuk mengerti hidup atau mengerti diri sendiri ini sering menjadi fokus perhatian saya. Saya senang "mengeksplorasi" pikiran, perasaan, kecenderungan, sensasi, kesadaran, atau intuisi pribadi. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan sehingga saya senang menulis atau membicarakan refleksi pribadi. Hasil dari perjalanan mengenal diri di tahun 2019 adalah tentang tuntutan yang mendesak untuk jujur dan benar pada diri sendiri alias "be true to thyself". Lalu saya secara random teringat sebuah video wawancara Lady Gaga yang ketika ditanya tentang pesan apa yang mau dia sampaikan ke banyak orang, Gaga menjawab singkat saja tanpa bertele-tele: "be true to yourself".
Lalu teringat juga akan kutipan lirik salah satu lagu paling emosional John Mayer berjudul Born and Raised begini bunyinya "then all at once it gets hard to take, it gets hard to fake what I won't be". Juga kutipan percakapan di Hamlet oleh Shakespeare: "to thine own self be true".

Tuntutan untuk jujur, terbuka, dan benar pada diri sendiri ini bukan datang tanpa alasan tentu saja. Saya mendapati diri saya berada di tempat dan situasi yang bukan untuk saya, dan berkali-kali harus melakukan hal-hal yang berlawanan dengan nilai saya. Ini mungkin sulit dipahami, tapi itulah yang saya rasakan, dan semakin saya melihat fenomena ini, semakin saya tertuntut untuk keluar dari situasi yang menjadikan saya bukan saya. Memang pada akhirnya saya berusaha untuk lebih "outspoken" dalam menjabarkan diri saya, dan cukup berhasil di beberapa aspek kehidupan. Tetapi ada hal prinsipil yang menghalangi saya mengatakan/mempraktikkan kebenaran. Walaupun pada dasarnya saya sangat terbuka dan bisa bergaul dengan berbagai imajinasi manusia, "kesayaan" saya ternyata butuh ruang untuk diakui dan tidak menjadi konformistis walaupun tetap toleran dengan berbagai fenomena keabsurditasan manusia.

Jadi bagaimana? Sampai akhir 2019 pun ternyata saya belum bisa jujur sepenuhnya. Tapi jika memungkinkan saya akan bercerita tentang ini di refleksi 2020 tahun depan :D. Hal baik dari perjalanan ini adalah, saya yang bingung dan terdesak ini sebenarnya merasa senang di satu sisi karena ternyata masih ada suara yang entah datangnya dari hati kecil atau jiwa atau the force of universe atau apalah itu  yang "menggiring" saya ke tempat dimana saya bisa menjadi saya dan meninggalkan hal-hal yang sudah bukan untuk saya lagi. Saya merasa ini baik buat saya walaupun harus melalui proses panjang kebingungan, seperti biasa. Duh, dasar manusia pencari kebenaran, bingung dan bertanya terus perangainya. Siapa suruh tidak mau jadi believer saja? Wqz.

Percintaan
Yah setidaknya ada hal manis nan romantis juga di tahun 2019 ini. Katanya mau fokus dan profesional kerja? Iya sih, tapi apa daya ada laki-laki keriting dengan senyum manis yang mendekati. hahahah. Saya bertemu Gideon yang eksentrik dan whimsical walaupun sudah kenal lama sejak SMP. Kami cocok dalam banyak sekali hal, sama-sama embracing absurdity dan punya penerimaan yang luas terhadap berbagai kekonyolan manusia. Sebenarnya jarang ada orang yang bisa menerima pemikiran-pemikiran saya yang sesungguhnya. Oleh karena itu saya sangat hati-hati terhadap orang yang boleh masuk lebih dekat dalam hidup saya. Pemikiran-pemikiran tersebut hanya saya bagikan pada segelintir orang saja yang mungkin jumlahnya dibawah 5 orang. hahaha. Pada kenyataannya, itu bukan sekedar pemikiran, tetapi nilai-nilai hidup, bagaimana saya melihat dunia, bagaimana saya tidak percaya tentang banyak hal (yes I'm not a believer) termasuk kepada romantisisme dan berbagai penyembahan. Anehnya Gideon juga punya pemikiran yang kurang lebih sama sehingga dia lolos assessment hingga masing-masing kami menjadi tempat bicara dan menumpahkan apa saja di kepala kami tanpa takut tidak diterima atau dihakimi. Yasudah, syukurlah kami cocoque. Selain assessment pikiran, saya juga mengkaji tingkat penerimaan papa pada Gideon. Seumur hidup saya mengenal papa sebagai makhluk kritis dan pencemburu when it comes to pasangan. hahaha. Entah kesambet apa, papa sama sekali tidak menunjukkan penolakan terhadap Gideon. Papa dengan ramahnya bercerita dengan Gideon dengan penuh senyum dan menawari dia makan. Sungguh kutakpercaya.

Tambahan
Saya sempat tour singkat menatap komodo dari dekat dan mencoba berbagai hidangan vegetarian/vegan di restoran-restoran Labuan Bajo, sempat mendaki gunung mutis bersama 7 nona-nona perkasa (dan 20an orang guide hahaha), sempat menikmati jenis duren dengan rasa dan bau terbaik di daerah Manggarai Barat, sempat merasa heran (dan puku testa) saat menemui orang-orang Jepang dibawah 25 tahun yang sudah keliling dunia bekerja kesana kemari, sempat merasa sedikit cemas melihat nature dari relasi manusia yang sebagian besar didasari kebutuhan survival tapi berusaha menyalut semua itu dengan cheap romanticism, sempat jalan-jalan ke Atambua bersama Dita dan kak Martje, sempat beberapa kali kabur menyepi karena merasa manusia dan tuntutan pekerjaan terlalu bising, sempat ke Bangladesh selama 10 hari untuk belajar program dan bisa selesai dengan nilai terbaik wqz (kadang kusuka kompetisi lolz dasar primitif), sempat singgah sebentar ke Bangkok juga, sempat kelelahan juga karna harus kesana kemari, sempat mau melamar posisi baru tapi tertunda, sempat ke Semau dan bloody beach dengan Gid dan Max, sempat beberapa kali memberikan motivasi pada naqanaq muda, sempat latihan headstand sampai bisa (kuterharu, terima kasih Om Timo...), sempat marah besar dengan adiq, sempat baca buku-buku bagus, sempat menyebarkan pesan-pesan yoga dan vegetarianisme ke berbagai kenalan, sempat ikut pemilu presiden, sempat punya 3 akun instagram secara bersamaan yaampun padahal pernah dilanda kecemasan medsos, sempat peluk cium mama-mama kader posyandu yang luar biasa, dll dll dll

Begitulah kurang lebihnya. Saya merasa 2019 saya cukup berwarna, secara karir saya cukup puas, secara perjalanan spiritual saya tertuntut tapi juga tertantang, secara asmara saya ketemu manusia yang cocok, secara experience life in general yah sepertinya cukup alive lah ya :D

Baik juga,
Terima kasih dua ribu sembilan belas, saya bersyukur.
Yeayyy bisa headstand!


With Komodo Dragon


Dengan Julienne, menikmati teh jahe dan snack pinggir jalan di Bangladesh yang enaq


Tim Anak Sehat Flobamora minus kak Eras


Bersama Gideon kadang-kadang kami berhenti random untuk menyanyi buat sapi-sapi


Jumat, 03 April 2020

Kembali

Aku kembali
Pada pelukan pohon-pohon yang sejuk sekaligus menghangatkan
Mungkin mereka mengerti apa arti kesabaran dan penderitaan

Aku kembali
Pada bunga-bunga yang sudah lama tak kulihat dari dekat
Mungkin mereka tahu apa artinya rekah dan kesementaraan

Aku kembali
Pada pertanyaan-pertanyaan tempat manusia mengintip kehidupan
Mungkin mereka tahu jalan menuju kebenaran pada diri sendiri