Senin, 04 November 2013

Makan

Apakah kita sadar kita orang yang sangat beruntung saat kita bisa makan dengan cukup hari ini?

Makan bagi saya adalah mekanisme input energi yang bisa sangat menyenangkan, tergantung menu dan suasana (termasuk dengan siapa kita makan.hehe). Saya ditengah keterbatasan yang ada masih bisa pilih-pilih mau makan apa hari ini. Terkadang masih bisa pilih-pilih mau makan dimana hari ini.

Saya jenis orang yang sering sekali menyisakan dan akhirnya membuang makanan. ini buruk, saya tahu. Tapi seringnya begitu. Entah porsi kebanyakan, atau karena tidak nafsu makan, bisa juga karena makanan nya kurang cocok di lidah saya.

Bercerita tentang makan, saya punya cerita sederhana yang semoga membuat saya dan kita menjadi lebih bersyukur lagi saat makan.

Ceritanya pada hari Minggu, 6 Oktober 2013 mama saya mengajak saya ke acara syukuran sidi baru di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Nunumeu, Soe. Ada sekitar 10 orang anggota sekolah luar biasa yang ditahbiskan sebagai anggota sidi baru. Mama diundang ke acara tersebut karena meskipun tidak sering, tapi mama beberapa kali berkunjung kesana.

Sekolah ini beranggotakan puluhan anak (saya tak tahu pasti) dengan cacat mental maupun fisik. Ada asramanya juga. Yang menjadi orang tua sekian puluh anak ini adalah seorang mama tangguh yang tidak menikah, bernama Mama Mia. Bayangkan menjadi mama bagi beberapa anak saja repot, apalagi sang Mama Mia ini, menjadi mama bagi puluhan anak yang bukan anak kandungnya sendiri, pun dengan bermacam keterbatasannya sendiri-sendiri. Anak-anak ini ada yang dititipkan orang tua, namun dengan kondisi ekonomi lemah.

Jadilah asrama anak-anak ini sangat bergantung dari para donor. Sampai saat ini, rupanya ada saja yang datang memberi perpuluhan atau bahan makanan, atau sumbangan baju dan sebagainya.

Kembali ke acara syukuran, saya, mama, dan papa pergi menghadiri acara tersebut. Sesampainya disana, acara sudah dimulai dan pendeta sementara berkhotbah. selesai khotbah, acara dilanjutkan dengan sambutan Mama Mia serta ucapan terima kasih beliau kepada seluruh undangan. Beliau cerita sedikit tentang panggilannya untuk melayani anak-anak cacat sejak masih muda dulu. Ceritanya tidak begitu mengharukan karena memang ada unsur sedihnya, namun beliau menceritakan hal tersebut dengan penuh ketegaran, sehingga tak membuat saya sedih.

Lalu setelah Mama Mia selesai bicara, seorang anak anggota asrama yang hari itu juga sidi dipersilahkan membagikan ceritanya.

Anak ini ada sedikit gangguan dengan saraf di bagian matanya. Melihat dia maju untuk berbicara saja sudah membuat saya sedih. Martha Soleh namanya. Dia bercerita tentang Mama Mia yang adalah seorang yang takut akan Tuhan, demikian juga anak-anak yang tinggal disana. Dan inilah kalimat yang keluar dari mulutnya yang sukses membuat saya menangis:

‘Kalau kami tidak ada beras, kami berdoa, nanti Tuhan kirim orang yang punya berkat’.

Betapa untuk beras saja anak-anak yang ‘kurang beruntung’ ini harus berkumpul dan berdoa minta Tuhan mencurahkan berkatnya atas mereka. Betapa ada orang-orang yang malam ini tidur dengan suatu ketidakpastian apakah besok ada makanan atau tidak.

Lalu betapa jahatnya kalau saya dan teman-teman yang secara fisik, mental, bahkan ekonomi diberkati dengan kebaikan dan kecukupan masih saja tidak bersyukur saat bisa makan dengan cukup hari ini. Bisa pilih-pilih pula.

Saat menghadapi hidangan kita hari ini, baiklah kita bersyukur dengan tulus pada Tuhan, dan berdoa untuk mereka yang kekurangan makanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar