Sabtu, 12 Maret 2016

Dua Ribu Lima Belas

Sudah bulan Maret 2016 dan ada sesuatu yang terus membuat saya terusik sejak awal tahun ini. Setelah sebelumnya saya menulis di blog ini tentang refleksi tahun 2013 dan 2014, saya merasa tidak adil bila tidak mengapresiasi perjalanan 2015 yang kaya rasa itu.

Maka sebelum seperempat tahun ini terlewati, baiknya saya mengingat-ingat kembali sambil mengurai kesan tahun lalu dalam tulisan. Tahun 2015 tidak kalah serunya dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejarah-sejarah baru saya lewati di 2015.


Setengah 2015 Pertama
Awal hingga pertengahan tahun 2015 bagi saya "hiruk pikuk". Ya, itu frasa yang mungkin mendekati makna yang saya maksudkan. Meminjam bahasa Melayu Kupang, "makamiung" mungkin juga bisa mewakili. Apapun itu, yang saya alami adalah perasaan yang bertabrakan, kesibukan yang tumpang tindih, dan perjalanan yang terlampau banyak.

Mulai dari pertengkaran dengan keluarga yang membuat emosi purba saya bergejolak, was-was menunggu kabar berita dari AMINEF tentang aplikasi ke beberapa kampus di US, bekerja di pedalaman TTS tanpa listrik dan sinyal sambil harus mengurusi kelengkapan berangkat sekolah ke Amerika. Lalu, diatas semua itu, adalah perasaan sedih bertubi-tubi dan takut menanggung rindu karena harus berjauhan dengan pacar. Awal hingga pertengahan 2015 adalah sejarah mobilisasi tertinggi saya sejauh ini. Naik pesawat seperti naik bus; pernah hari ini tiba, besoknya berangkat lagi. 
Bahkan titik klimaksnya, di akhir bulan Juni, kabar saya harus berangkat ke Amerika itu datang di hari keberangkatan yang sama! Pontang-panting saya lemparkan baju-baju ke dalam koper (dibantu kakak karena saya syok hampir hilang kewarasan). Sungguh tanpa persiapan. Maka saya merasa, dalam 6 bulan itu, jiwa saya menua dengan cepat. Ini aneh, tapi nyata :D. Saat menuliskan ini, saya terus membatin, betapa batampiasnya hidup saya kala itu.


Setengah 2015 Kedua
Lalu, Juli hingga Desember 2015, saya banyak kali merasa seperti butiran debu saat saya pindah ke negara besar ini, The United States of America. Ini negara luar Indonesia pertama yang saya datangi seumur hidup saya. Beberapa bulan disini saya habiskan dengan berpikir keras: saya harus bilang apa kalau mau pesan makanan? Bagaimana kalau makanannya dibungkus? Bagaimana merespon "hayaduin" alias "how are you doing" yang dilafalkan dengan cepat dan bikin kaget itu? Bagaimana membeli tiket kereta? Bagaimana naik transportasi publik? Bagaimana cara beli baju? Bagaimana berjalan cepat? Bagaimana supaya tidak tanganga? :D
(Terima kasih untuk HYF, mungkin orang tidak tahu, tapi beliaulah yang membuat transisi saya di negeri baru ini lebih mudah dengan semangat, optimisme, telinga, dan hatinya yang luar biasa itu)

Syukurnya, ada pelatihan 6 minggu di Portland, Oregon, sebelum ke Kansas. Saya sangat bersyukur untuk program Fulbright ini. Setidaknya, level ketengangaan saya bisa berkurang sedikit. :p
Oh ya, karena disini hidup sangat cepat; bicara cepat, kerja cepat, jalan cepat, pikir cepat, respon cepat, saya pun ingin menyesuaikan diri dengan cara mengganti netbook Toshiba lama saya dengan MacBook Air. hahaha. Ini bukan promosi, tapi sungguh ini sangat membantu mereduksi kelambanan dalam hidup saya. Tidak ada yang terlalu lama untuk diproses oleh Macbook. :p *marketing power mode: on

Semester pertama saya jalani dengan baik. Pernah menangis setelah keluar kelas karena merasa bodoh. Lalu mengeram di perpus sampai lewat dari jam 12 malam itu sudah jadi hal biasa. Orang lain baca artikel ilmiah 15 menit, saya 2 jam sendiri juga bisa. Ahh, tak apa. Saya bersyukur untuk ilmu baru yang saya pelajari. Saya lahap semuanya dengan antusias. Semua mata kuliah menarik, termasuk Introduction of Biostatistic. Statistik itu momok lama saya. Tapi mungkin karena dosen saya disini orang Taiwan yang sangat sabar dan telaten, selalu bersedia diganggu untuk pertanyaan sepele, dan pandai melucu, performa saya sangat memuaskan. Saya bersyukur untuk itu. 

Di akhir Desember, saya pulang ke Soe untuk menghadiri pernikahan kakak saya. Ini cukup mengobati rindu saya akan Max (saya betul-betul rindu Max!), makanan enak, pantai, udara hangat dan orang-orang yang juga hangat, makanan segar tanpa radiasi dan pengawet, ikan bakar, pasar tradisional, cilok tamnos, keluarga, sahabat, kekasih, Nancy, dan kakak Min.

Pembelajaran dan Nasihat kepada Diri Sendiri

  • Berjalanlah bersama orang yang benar-benar bersama dengannya kau rasa nyaman. Jika tidak, berjalanlah sendiri.
  • Perhatikan kontrak kerja. Jangan terima pekerjaan sebelum jelas kontraknya. Berhati-hati jugalah dalam memilih rekan kerja, apalagi kalau kau tipe pekerja tunggal atau bekerja hanya dengan orang yang benar-benar 'klik'. Jika tidak, duduk melamun mungkin lebih berfaedah.
  • Saya belajar hidup berbagi apartemen dengan seorang teman Amerika. Dia sangat baik dan ramah dan tulus dan relijius, dan mengajarkan saya bahwa hidup sendiri adalah privilege. Dan mahal.
  • Satu lagi, saya belajar menjadi manusia yang positif dan optimis secara bertahap. Ini susah, terlebih jika kita kerap dikelilingi negativitas dan pesimisme dari lingkungan. Namun demikian, saya tetap memelihara sikap skeptis, sinisme, dan keragu-raguan (yang sering saya bungkus dengan senyum inosen), demi menjaga kewarasan dan sikap kritis terhadap berbagai absurditas agar tidak mudah terpengaruh :p 

Begitu dulu, 2015. Saya bersyukur untuk hidup, yang, meminjam kata-kata Ferdy, "masih menarik". Semoga. Semoga selalu.


Konza Prairie - Kansas, Okt 2015
Diambil oleh kak Shima

4 komentar:

  1. Terima kasih atas tulisannya, Kak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak Claudya,
      Terima kasih juga sudah mampir :) :)

      Hapus
  2. aduh please hahaha tidak tanganga hahahaha berasa sedang membaca cerita tentang bt awal pindah Depok. nada cerita yang sama bagi mahasiswa perantau dari kota kecil SoE

    BalasHapus
    Balasan
    1. :p
      Semangat di kota besar sana ee Mita, pasti banyak skali pengalaman2 seru <3

      Hapus